Public Speaking: Bukan Cuma Berani Bicara, Tapi Berani Didengar

Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Zalva Desmalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Public Speaking sebagai Bekal Mahasiswa untuk Kuliah dan Dunia Kerja
Public speaking sering menjadi salah satu hal yang membuat mahasiswa merasa gugup. Terutama ketika harus berbicara di depan kelas.
“Nanti kalau salah ngomong gimana?”
Pertanyaan seperti itu mungkin pernah muncul di pikiran banyak mahasiswa ketika akan melakukan presentasi di depan kelas. Padahal, materi sudah dipelajari, slide sudah dibuat, bahkan mungkin sudah latihan sebelumnya. Tapi begitu berdiri di depan kelas dan melihat banyak orang, rasa percaya diri tiba-tiba hilang. Tangan mulai dingin, suara berubah, dan apa yang sudah dipelajari terasa mendadak lupa.
Menurut saya, kondisi seperti ini sangat wajar. Berbicara di depan banyak orang memang bukan sesuatu yang langsung bisa dikuasai semua orang. Ada mahasiswa yang memang mudah berbicara dan percaya diri, tetapi ada juga yang membutuhkan waktu untuk membiasakan diri. Yang menjadi masalah bukan ketika kita merasa gugup, tetapi ketika rasa takut tersebut membuat kita terus menghindari kesempatan untuk berbicara.
Bagi saya, public speaking bukan hanya tentang berani bicara. Lebih dari itu, public speaking adalah tentang bagaimana kita bisa membuat orang lain mau mendengar dan memahami apa yang sedang kita sampaikan.
“Saya sebenarnya tahu jawabannya, tapi takut ngomong.”
Kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana, tetapi cukup sering terjadi di kalangan mahasiswa. Ada yang sebenarnya memahami materi ketika diskusi, punya pendapat saat kerja kelompok, bahkan punya ide yang bagus. Namun, ketika diminta menyampaikan pendapat didepan kelas, tiba-tiba merasa gugup, bingung mau mulai dari mana, atau memilih diam karena takut salah.
Menurut saya, di sinilah pentingnya public speaking. Public speaking bukan cuma tentang berani berdiri di depan banyak orang dan berbicara. Lebih dari itu, public speaking adalah kemampuan untuk menyampaikan pikiran, ide, atau informasi dengan cara yang bisa dipahami dan didengarkan oleh orang lain.
Public Speaking dan Kehidupan Mahasiswa
Kalau dipikir-pikir, mahasiswa sebenarnya tidak bisa jauh dari public speaking. Hampir setiap semester pasti ada tugas presentasi. Belum lagi diskusi kelompok, menyampaikan pendapat saat perkuliahan, menjadi moderator, mengikuti organisasi, melakukan wawancara, sampai nantinya menghadapi interview kerja.
Namun, masih banyak mahasiswa yang menganggap public speaking hanya sebatas kemampuan untuk presentasi di depan kelas. Padahal, kemampuan berbicara akan terus digunakan bahkan setelah kita lulus kuliah.
Misalnya ketika sudah bekerja. Kita mungkin harus menjelaskan suatu ide kepada atasan, memberikan laporan kepada tim, melakukan meeting, melayani pelanggan, melakukan negosiasi, atau mempresentasikan sebuah program. Kalau kita punya ide yang bagus tetapi tidak bisa menyampaikannya dengan jelas, orang lain mungkin akan kesulitan memahami apa yang sebenarnya ingin kita sampaikan.
Karena itu, menurut saya, public speaking bukan hanya kemampuan tambahan. Bagi mahasiswa, kemampuan ini bisa menjadi salah satu bekal untuk menghadapi dunia kerja.
Takut Salah Sering Menjadi Masalah
Salah satu alasan mahasiswa takut berbicara adalah karena terlalu memikirkan kesalahan.
“Kalau nanti salah ngomong gimana?”
“Kalau ditanya dosen terus nggak bisa jawab gimana?”
“Kalau teman-teman menertawakan aku gimana?”
Pikiran seperti itu mungkin pernah muncul sebelum melakukan presentasi. Bahkan terkadang kita sudah merasa takut sebelum benar-benar maju ke depan.
Menurut saya, rasa gugup sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Orang yang sudah terbiasa berbicara di depan umum pun masih bisa merasa gugup. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang mengendalikan rasa gugup tersebut.
Kita juga tidak harus menunggu sampai benar-benar percaya diri untuk mulai berbicara. Justru rasa percaya diri biasanya muncul setelah kita berani mencoba berkali-kali. Ketika pertama kali presentasi mungkin suara masih gemetar, kontak mata masih kurang, atau kita terlalu sering melihat slide. Tetapi setelah beberapa kali mencoba, kita akan mulai mengetahui apa yang harus diperbaiki.
Jangan Hanya Menghafal, Tapi Pahami Materinya
Menurut saya, salah satu kesalahan yang sering dilakukan mahasiswa ketika presentasi adalah terlalu fokus menghafalkan materi.
Ketika satu kalimat lupa, akhirnya panik karena merasa tidak tahu harus melanjutkan kemana. Padahal, presentasi seharusnya bukan seperti menghafalkan teks pidato.
Lebih baik kita memahami inti dari materi yang ingin disampaikan. Dengan begitu, ketika lupa satu kalimat, kita masih bisa menjelaskan menggunakan bahasa sendiri.
Misalnya dalam presentasi kita memiliki tiga poin utama. Kita cukup memahami apa saja tiga poin tersebut, kemudian menjelaskan masing-masing dengan contoh sederhana. Cara seperti ini menurut saya jauh lebih fleksibel dibandingkan menghafalkan seluruh isi materi. Selain membuat kita lebih tenang, memahami materi juga membuat pembicaraan terasa lebih natural.
Berbicara Itu Bukan Berarti Harus Terlalu Formal
Menurut saya, public speaking juga tidak harus selalu menggunakan bahasa yang rumit atau terlalu formal.
Terkadang seseorang justru terdengar kurang natural karena terlalu memaksakan penggunaan kata-kata yang sebenarnya jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Yang paling penting adalah menyesuaikan bahasa dengan audiens dan situasi. Ketika berdiskusi dengan teman, kita bisa menggunakan bahasa yang lebih santai. Tetapi ketika berbicara dengan dosen, melakukan presentasi formal, atau mengikuti interview kerja, tentunya kita perlu menggunakan bahasa yang lebih sopan dan terstruktur.
Jadi, menjadi pembicara yang baik bukan berarti harus menggunakan kata-kata yang sulit. Justru bagaimana kita bisa membuat orang lain memahami pesan yang kita sampaikan dengan mudah.
Jangan Lupakan Intonasi dan Bahasa Tubuh
Materi yang bagus belum tentu menarik jika cara menyampaikannya monoton. Bayangkan ada seseorang yang melakukan presentasi selama 10 menit tetapi dari awal sampai akhir berbicara dengan volume dan intonasi yang sama, terus melihat PowerPoint, dan hampir tidak pernah melihat audiens. Kemungkinan besar audiens akan mulai kehilangan fokus.
Karena itu, menurut saya public speaking juga berkaitan dengan hal-hal kecil seperti intonasi, volume suara, ekspresi wajah, kontak mata, dan gesture. Misalnya ketika menyampaikan poin penting, kita bisa sedikit memberikan penekanan pada suara. Ketika menjelaskan sesuatu, kita bisa sesekali melihat audiens, bukan hanya melihat layar. Gesture sederhana juga bisa digunakan supaya penyampaian terasa lebih hidup.
Hal-hal tersebut memang terlihat kecil, tetapi bisa membuat perbedaan dalam cara audiens menerima pesan.
Ilustrasi menggambarkan bahwa public speaking bukan sekadar berani berbicara di depan banyak orang, tetapi juga mampu menyampaikan pesan dengan jelas, menggunakan kontak mata dan bahasa tubuh, serta menyusun pesan agar audiens memahami, memperhatikan, dan mengingat apa yang disampaikan. Hal ini sejalan dengan elemen public speaking seperti pembicara, pesan, audiens, serta penggunaan bahasa verbal dan nonverbal.
Public Speaking Bisa Dilatih dari Hal Sederhana
Kabar baiknya, public speaking bukan kemampuan yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Menurut saya, kemampuan ini bisa dilatih. Mahasiswa tidak perlu langsung mengikuti acara besar atau berbicara di depan ratusan orang. Latihan bisa dimulai dari hal sederhana.
Misalnya mencoba menyampaikan pendapat ketika diskusi kelompok. Kalau biasanya hanya diam, coba mulai berbicara satu kali. Ketika presentasi, coba jangan terlalu bergantung pada
PowerPoint. Kalau ada kesempatan menjadi moderator, pembawa acara, atau pemimpin diskusi, bisa dimanfaatkan sebagai latihan. Bahkan berbicara dengan orang baru juga bisa menjadi latihan untuk membangun rasa percaya diri.
Bagi mahasiswa yang merasa pemalu, tidak perlu memaksakan diri berubah menjadi orang yang sangat banyak bicara. Menurut saya, menjadi pendiam bukan masalah. Yang penting adalah ketika memang perlu menyampaikan sesuatu, kita mampu mengkomunikasikannya dengan baik.
Bekal untuk Dunia Kerja
Menurut saya, manfaat public speaking akan semakin terasa ketika mahasiswa memasuki dunia kerja. Di dunia kerja, kemampuan seseorang bukan hanya dilihat dari apa yang bisa dikerjakan, tetapi juga bagaimana seseorang berkomunikasi dengan orang lain. Kita akan bekerja dalam tim, menerima arahan, memberikan pendapat, menyampaikan laporan, dan berinteraksi dengan berbagai karakter orang.
Bahkan sejak tahap interview kerja, kemampuan komunikasi sudah dibutuhkan. Ketika interviewer bertanya tentang diri kita, pengalaman, kelebihan, atau alasan melamar pekerjaan, kita perlu menyampaikan jawaban dengan jelas dan percaya diri.
Karena itu, menurut saya, mahasiswa sebaiknya tidak menganggap tugas presentasi sebagai sekadar tugas untuk mendapatkan nilai. Presentasi bisa menjadi latihan kecil untuk menghadapi situasi yang lebih besar di masa depan.
Berani Bicara, Berani Didengar
Pada akhirnya, menurut saya, public speaking bukan tentang siapa yang paling banyak bicara atau siapa yang paling percaya diri. Public speaking adalah tentang bagaimana kita mampu menyampaikan sesuatu sehingga orang lain mau mendengarkan dan memahami apa yang kita maksud.
Berani berbicara memang merupakan langkah pertama. Tetapi setelah itu, kita juga perlu belajar bagaimana agar apa yang kita sampaikan benar-benar bisa diterima oleh audiens.
Sebagai mahasiswa, kita mungkin belum bisa menjadi pembicara yang sempurna. Kita mungkin masih gugup, masih sering salah kata, atau terkadang masih bingung ketika harus berbicara spontan. Tidak masalah. Yang penting adalah terus mencoba. Karena kemampuan public speaking tidak terbentuk hanya dalam satu kali presentasi. Kemampuan tersebut terbentuk dari proses: berani mencoba, melakukan kesalahan, menerima masukan, memperbaiki diri, lalu mencoba lagi.
Menurut saya, memiliki banyak pengetahuan dan ide adalah hal yang baik. Tetapi akan lebih baik lagi jika kita mampu menyampaikan pengetahuan dan ide tersebut kepada orang lain. Jadi, jangan hanya belajar untuk berani bicara. Belajarlah juga untuk berani didengar.
