PBNU Luncurkan Tema dan Logo Hari Santri 2026

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
PBNU Luncurkan Logo Santri 2026. Foto: Dok. PBNU
zoom-in-whitePerbesar
PBNU Luncurkan Logo Santri 2026. Foto: Dok. PBNU

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi meluncurkan tema dan logo Hari Santri 2026. Tahun ini, PBNU mengangkat tema "Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri."

Sekretaris Jenderal PBNU Gus Gudfan Arif mengatakan, tema Hari Santri tahun ini membawa pesan bahwa kemajuan zaman tidak boleh membuat santri lupa dari akar keilmuan, adab, dan tradisi pesantren.

"Santri harus terus bergerak mengikuti perkembangan zaman, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi jangan pernah kehilangan akar. Akar kita adalah tradisi keilmuan pesantren, sanad, adab, dan nilai-nilai yang diwariskan para masyayikh," kata Gus Gudfan dalam keterangannya, Sabtu (3/10).

Menurut Gus Gudfan, akar tradisi yang kuat justru menjadi bekal bagi santri untuk hadir menjawab berbagai tantangan baru.

"Semakin kuat akarnya, semakin luas pula pengabdiannya. Santri tidak cukup hanya menjaga tradisi, tetapi juga harus menjadi bagian dari solusi atas persoalan masyarakat, bangsa, dan negara," ujarnya.

PBNU Luncurkan Logo Santri 2026. Foto: Dok. PBNU

Gus Gudfan menjelaskan, bahwa tema tersebut mengingatkan kembali perjalanan panjang kaum santri dalam sejarah Indonesia. Sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga hari ini, pesantren dan kaum santri memiliki tanggung jawab kebangsaan untuk merawat persaudaraan, menjaga kebinekaan, dan memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Cinta kepada tradisi dan cinta kepada negeri tidak pernah berseberangan. Dari pesantren kita belajar bahwa menjaga agama harus berjalan beriringan dengan menjaga persaudaraan dan keutuhan bangsa," katanya.

Semangat tersebut juga dituangkan dalam logo Hari Santri 2026 yang menampilkan sejumlah elemen utama, yakni akar, kitab terbuka, kubah, dan bintang.

H. Gudfan Arif Ghofur alias Gus Gudfan. Foto: Instagram/ @bemptnu

Gus Gudfan menuturkan, akar melambangkan tradisi dan sanad keilmuan yang kokoh. Kitab menggambarkan ilmu pengetahuan serta tradisi intelektual pesantren. Kubah merepresentasikan nilai spiritual dan kehidupan keagamaan, sementara bintang menggambarkan cita-cita luhur yang menerangi perjalanan santri.

"Kitab mengingatkan bahwa santri tumbuh bersama ilmu. Akar mengingatkan dari mana kita berasal. Kubah menunjukkan landasan spiritual, sedangkan bintang menjadi simbol cita-cita dan arah pengabdian," ujar Gus Gudfan.

Gus Gudfan menegaskan, Hari Santri tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Momentum ini harus menjadi pengingat untuk terus menghidupkan nilai-nilai pesantren dalam kehidupan masyarakat.

"Tradisi itu bukan sekadar untuk dikenang. Tradisi harus dihidupkan. Di dalamnya ada ilmu, adab, keteladanan, kepedulian kepada sesama, dan tanggung jawab menjaga negeri," tandas dia.