PM Spanyol Kunjungi Ceuta Usai 57 Migran Tewas Menerobos Perbatasan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para migran berkumpul di sekitar kendaraan yang dibakar sambil menunggu kesempatan untuk menyeberang ke wilayah kantong Spanyol di Ceuta, di sisi perbatasan Maroko di Fnideq, Maroko, Jumat (31/7/2026). Foto: Ahmed El Jechtimi/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Para migran berkumpul di sekitar kendaraan yang dibakar sambil menunggu kesempatan untuk menyeberang ke wilayah kantong Spanyol di Ceuta, di sisi perbatasan Maroko di Fnideq, Maroko, Jumat (31/7/2026). Foto: Ahmed El Jechtimi/Reuters

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, melawat ke wilayah eksklave Ceuta usai tragedi berdarah yang menewaskan sedikitnya 57 migran di perbatasan. Lonjakan masif ini mencatat puluhan ribu orang mencoba menyeberang ke wilayah Spanyol dalam kurun waktu 24 jam.

Melansir Al Jazeera, lonjakan imigran ini menjadi salah satu krisis kemanusiaan dan keamanan terhebat yang melanda perbatasan darat Uni Eropa di Afrika Utara tersebut.

Pemerintah Spanyol mengonfirmasi peningkatan jumlah korban jiwa pada Jumat malam. Presiden Regional Ceuta, Juan Jesus Vivas, mengungkapkan sekitar 60.000 orang menerobos masuk lewat jalur darat maupun laut. Banyak di antara mereka nekat berenang mengitari pemecah gelombang perbatasan.

Pihak otoritas menyebut sebagian korban tewas akibat tenggelam, sementara lainnya mengembuskan napas terakhir karena terinjak-injak di tengah kepungan massa yang berdesak-desakan di dekat pantai Tarajal.

"Kami mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk merespons situasi ini," tegas PM Pedro Sanchez saat meninjau lokasi.

Para migran dari Maroko tiba di perbatasan Spanyol, di Ceuta, Spanyol, Jumat (31/7/2026). Foto: Fabian Bimmer/REUTERS

Sanchez menilai aksi penyeberangan massal tersebut sebagai bentuk "pelanggaran" kedaulatan Spanyol.

Untuk mengatasi situasi yang kian mengkhawatirkan, Spanyol langsung mempercepat proses deportasi. Lebih dari 25.000 orang telah dikembalikan ke Maroko dengan pengawalan ketat.

Petugas gabungan dan aparat Maroko pun diterjunkan di garis batas, lengkap dengan armada truk water cannon untuk membubarkan kerumunan. Pemandangan mencekam terlihat dari sisa-sisa bus dan kendaraan yang terbakar akibat bentrokan.