QRIS dan Perjalanan Transaksi: Stepping into the Digital Space

Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yoyakarta
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Zahra Nafiisah Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pembayaran nontunai, terutama melalui QRIS, kini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, dari membeli makanan di warung hingga membayar tiket transportasi. Perubahan ini berlangsung cepat, dan di balik kemudahannya terdapat perkembangan sistem yang panjang.
Saya memperoleh gambaran tentang hal tersebut saat menghadiri Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) x Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE), yang berlangsung bersamaan dengan PIDI Digital Talent Expo 2026. Sebagai mahasiswa Manajemen yang menjalani magang di PT Penyelesaian Transaksi Elektronik Nasional (PTEN), saya hadir bersama tim pada hari pertama dan hari ketiga penyelenggaraan.
Perjalanan Transaksi dari Barter hingga QRIS
Pada hari pertama, 24 September 2026, saya mengikuti kelas "Barter to QRIS, This is How Payment Level Up!" yang disampaikan langsung oleh Direktur Utama PTEN. Materi kelas menelusuri perkembangan transaksi dari Bank 1.0 hingga Bank 4.0.
Pada tahap awal, transaksi bergantung pada kehadiran fisik di kantor cabang. Kini, pembayaran dapat dilakukan melalui ponsel dalam hitungan detik. Poin yang paling saya catat adalah bahwa setiap perubahan berangkat dari kebutuhan masyarakat akan transaksi yang lebih mudah, cepat, dan praktis, sementara teknologi berperan sebagai jawabannya. Pemahaman ini membuat saya melihat QRIS bukan sekadar alat pembayaran, tetapi hasil dari proses adaptasi yang berkelanjutan.
Melihat Ekosistem Digital secara Langsung
Pada festival ini, berbagai lembaga dan perusahaan dari sektor digital dan jasa keuangan menampilkan layanan serta inovasinya, mulai dari sistem pembayaran, perlindungan konsumen, hingga teknologi berbasis robot. Salah satu yang menarik perhatian adalah robot berjersey merah bertuliskan PTEN yang turut hadir di lokasi acara.
Kehadiran di dua hari yang berbeda memberi saya kesempatan untuk mengamati lebih banyak pihak dan inovasi. Melalui pengalaman ini, terlihat bahwa perkembangan ekonomi digital tidak dapat dilepaskan dari kolaborasi antara regulator, lembaga keuangan, perusahaan teknologi, dan penyedia infrastruktur. Konsep yang sebelumnya saya pelajari sebagai teori dapat saya lihat penerapannya secara nyata.
Di Balik Layar Ponsel
Ruang digital ternyata jauh lebih luas daripada yang tampak dari layar ponsel. Ada regulator yang menyusun aturan, infrastruktur yang bekerja di balik layar, dan inovasi yang terus bermunculan. Sebagai generasi muda yang akan memasuki dunia kerja, kemampuan beradaptasi dengan teknologi sama pentingnya dengan penguasaan teori. FEKDI x IFSE memberi saya gambaran awal tentang hal tersebut.
Zahra Nafiisah Putri, Mahasiswa Manajemen FEB UMY
