Ini Dia Besaran Pendapatan Ideal Untuk Keluarga Kecil Kamu

Tulisan dari Zarirah Achmad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Buat para ibu baik itu muda maupun yang tua, moms pasti dituntut untuk bisa segala hal. Mulai dari yang awalnya enggak biasa masuk ke dapur, dituntut untuk bisa jadi koki. Belum lagi kalau di rumah ada kerusakan, moms juga harus sigap untuk bisa jadi tukang serba bisa. Hingga yang paling krusial moms juga merangkap jabatan sebagai menteri keuangan keluarga. Nah, menyandang status sebagai ibu suka tidak suka dan mau tidak mau harus siap menghadapi semua itu dan memiliki mental #semangatibupastibisa. Bisa dibayangkan jika moms yang punya ilmu sekenanya atau seadanya ini disuruh jadi menteri keuangan? Wah, kira-kira bangkrut enggak ya?
Ibarat negara, menjadi menteri keuangan artinya harus paham cara mengelola APBN, mengatasi masalah dan hutang, hingga berpikir untuk hal-hal yang bisa memperbanyak pundi-pundi keuangan. Nah, salah satu hal krusial bagaimana sih caranya mengatur APBN keluarga? Minimal supaya enggak defisit deh, syukur-syukur bisa ada tabungan. Ternyata ada polanya loh, begini cara mengatur keuangan (cashflow) keluarga:
Misal pendapatan keluarga 4.000.000. Pertama, sisihkan untuk zakat 2.5% ya.
Zakat (2.5%) = 100.000
Jadi, kita akan mulai membuat pos-pos keuangan bersumber dari 3.900.000 yang sudah dikurangi zakat. Pada prinsipnya, pengaturan keuangan atau cahsflow itu merujuk pada 40:30:30 dengan rincian kebutuhan saat ini, tabungan, serta cicilan.
Kebutuhan saat ini: 40% x 3.900.000 = 1.560.000
Tabungan: 30% x 3.900.000 = 1.170.000
Cicilan: 30% x 3.900.000 = 1.170.000
Keterangan:
Kebutuhan saat ini: biaya hidup sehari-hari seperti makan, ongkos kerja, biaya listrik, wifi, dll
Tabungan: tabungan konvensional dan investasi (deposito, saham, reksadana)
Cicilan: KPR, cicilan mobil, dll
"Boleh ngutang, asal cuma 30% ya"
Begitu yang disampaikan oleh Annissa Sagita, Financial Planner dalam acara MOMS MINGLE: Moms As The Guardian Of The Family yang bertempat di restoran Cerita Rasa, Ampera Hari Sabtu, 20 Juli 2019 lalu.
Annissa Sagita juga mengatakan jika ingin keuangan keluarga yang sehat harus membuat 3 poin ini secara berimbang:
1. Masa Kini
2. Masa Depan
3. Perlindungan
Masa Kini
Chief Editor of Mom dari Kumparan, Prameswari, mengatakan bahwa dari tahun 2011-2015 terdapat kenaikan angka perceraian sebesar 15 hingga 20% tiap tahunnya dan 4% diantaranya mengaku mereka berpisah karena alasan finansial. Beranjak dari fakta inilah Kumparan ingin mengedukasi para ibu sebagai the most potential parents sekaligus sebagai guardian of the family dimulai dari cara mengatur keuangan rumah tangga terlebih dahulu.
Ibarat lomba lari marathon, sebelum lomba moms harus mempersiapkan fisik terlebih dahulu. Sama pula halnya dengan mengatur keuangan keluarga. Ada istilah financial check up untuk mengetahui apakah kondisi keuangan kita sudah sehat atau belum. Caranya dimulai dari pengecekan asset yaitu kekayaan bersih yang bisa dijual. Jika ada hutang, kekayaan bersih adalah jumlah semua kekayaan dikurang dengan hutang yang sedang berjalan. Selanjutnya apakah keuangan keluarga lebih besar pasak daripada tiang? Apakah bisa moms menabung untuk masa depan? Pastikan perhitungan cashflow sudah sesuai dengan prinsip 40:30:30 ya.
Masa Depan
Sudah sewajarnya setiap moms memikirkan masa depannya karena kita tidak selamanya produktif. Seperti yang dikatakan oleh Sherly Garce, Chief Marketing Officer dari Sun Life Indonesia, menurut OJK (2016) hanya 27% usia produktif yang mempunyai tabungan usia tua. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa Generasi Sandwich masih terus bermunculan.
Belum lagi para moms yang sudah memiliki anak, tentu biaya sekolah juga perlu dipikirkan. Karena faktanya, 8 sampai 25% biaya sekolah mengalami kenaikan tiap tahunnya. Selain membuat tabungan untuk si kecil dari lahir, tambahan asuransi pendidikan anak juga dapat membantu serta mempermudah moms.
Sebagai salah satu perusahaan jasa keuangan yang sudah 24 tahun ada di Indonesia, Sun Life memiliki lebih dari 10.000 perencana keuangan yang tersebar di 72 kota di Indonesia. Produk-produk asuransi yang terkait investasi yang dimilikinya pun beragam mencakup unit link, universal life, dan asuransi dwiguna. Moms bisa memilihnya sesuai kebutuhan.
Menariknya adalah ketika moms membuka website Sun Life, ada fitur Bright Solutions yang dapat membantu moms memilih produk asuransi yang diinginkan. Ada dua pilihan utama apakah ingin produk asuransi untuk melindungi atau merencanakan masa depan. Setelah memilih untuk merencanakan masa depan, lalu ada pertanyaan tambahan apakah tujuannya untuk pensiun, mempersiapkan pendidikan anak, berinvestasi, atau warisan. Selanjutnya klik kirim dan nanti akan muncul rekomendasi produk asuransi Sun Life yang sesuai dengan kebutuhan baik itu asuransi konvensional maupun berbasis syariah. Mudah bukan, moms?
Perlindungan
Berbicara masalah perlindungan tentu tidak lepas dari peran asuransi proteksi. Produk-produk proteksi keuangan yang dimiliki Sun Life pun beragam meliputi perlindungan jiwa, kesehatan, penyakit kritis, dan kecelakaan. Brand Ambassador Sun Life, Kelly Tandiono menceritakan bahwa semasa hidupnya kakeknya menghabiskan penghasilannya untuk pengobatan dan akhirnya meninggal di usia muda karena pola hidup yang tidak sehat. Ia mengaku bahwa memiliki proteksi diri penting adanya karena ia pernah mengalami kejadian disaat dirinya tidak memiliki pemasukan selama kurun waktu tertentu dan akhirnya asuransi lah yang menyelamatkan dirinya.
Sesuai dengan misi Sun Life yaitu membantu keluarga mapan dan sehat secara fisik dan finansial, acara #MomsMingle kemarin mengusung tema #LiveHealthierLives mengedukasi para moms untuk bisa menjadi guardian of the family caranya melalui pola hidup sehat.
Di sela-sela pemaparan, sebuah pertanyaan terlontar dari Annissa Sagita:
"Moms, kalau dikasih 3 juta cukup ga buat keperluan sehari-hari?"
Serentak semua menjawab "cukuuppp"
"Makan daging bisa ya.. Kalau 2 juta, moms?"
Ada beberapa masih ragu.
"Mungkin olahan makanannya mulai berganti jadi 3T (tahu, telur, tempe) yang dominan ya, moms.. Nah, kalau 1 juta gimana moms?"
Semua mulai kasak-kusuk.
"Bisa makan rendang, ayam geprek, soto ya moms.. Tapi dalam bentuk mie instan hehehe"
Terakhir, beliau menegaskan bahwa dalam berkeluarga keterkaitannya dengan mengatur keuangan, hindari menanggung beban sendirian dan suami tau beres. Dengan segala kepelikan ini moms wajib tetap 'waras', jadi pembagian tugas itu penting di dalam keluarga. Selanjutnya jangan pernah berasumsi bahwa pasangan mengerti kita. Pasangan kita manusia ya moms, bukan cenayang jadi perlu adanya diskusi yang mendalam. Carilah quality time berdua, tanpa anak-anak, supaya tujuan pembicaraan pun terpenuhi dengan baik. Saya rasa setelah semua poin terpenuhi dengan sendirinya terbentuklah besaran yang ideal untuk keluarga kita masing-masing moms.
