Konten dari Pengguna

Kesehatan Mental Ibu sebagai Penentu Kestabilan Keluarga

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ZASKIA DWI AMANDA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Gambar : Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gambar : Pexels

Banyak pihak masih terjebak pada asumsi bahwa menjadi ibu rumah tangga (IRT) adalah sebuah hak istimewa yang nyaman karena "hanya diam di rumah". Secara logis, anggapan ini keliru. Berada di rumah tidak sama dengan beristirahat. Jika kita membedah rutinitas seorang ibu rumah tangga murni melalui lensa manajemen, mereka sebenarnya sedang menjalankan peran ganda: sebagai manajer operasional, perawat, koki, pengasuh, hingga psikolog keluarga. Semua peran tersebut dilakukan tanpa jam kerja yang jelas dan tanpa kompensasi finansial langsung.

Mari kita uji argumen klasik yang sering muncul: "Bekerja di kantor jauh lebih membuat stres daripada mengurus rumah."

Jika kita melihat dari sudut pandang psikologi kerja, seorang pekerja kantoran memiliki batasan waktu yang jelas (misalnya pukul 8 pagi hingga 5 sore), memiliki hak cuti tahunan, waktu istirahat makan siang, dan yang paling penting, menerima gaji yang berfungsi sebagai validasi atas usahanya. Sebaliknya, seorang ibu rumah tangga bekerja dalam sistem 24/7 atau siaga penuh. Tidak ada tombol log-off. Ketiadaan batasan antara "tempat kerja" dan "tempat istirahat" ini, secara logis, menghilangkan ruang bagi otak untuk benar-benar beristirahat, yang pada akhirnya memicu kelelahan emosional atau burnout.

Data dan Fakta yang Berbicara

Kelelahan mental pada ibu rumah tangga bukanlah sekadar keluhan tanpa dasar. Beberapa data empiris mengonfirmasi hal ini:

  • Beban Pekerjaan Tak Berbayar (Unpaid Care Work): Laporan dari UN Women menunjukkan bahwa perempuan melakukan setidaknya dua setengah hingga tiga kali lebih banyak pekerjaan perawatan dan domestik tak berbayar dibandingkan laki-laki. Beban yang tidak diukur secara ekonomi ini sering kali tidak dianggap sebagai "pekerjaan nyata" oleh masyarakat, yang memicu perasaan tidak dihargai.

  • Kerentanan Depresi: Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI secara konsisten menunjukkan bahwa prevalensi gangguan mental emosional (seperti gejala depresi dan kecemasan) lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Kurangnya interaksi sosial dengan orang dewasa lain dan rutinitas yang monoton menjadi penyumbang utama tingginya angka ini pada kelompok ibu rumah tangga.

Contoh Kasus di Kehidupan Nyata

Untuk memahami bagaimana teori ini terjadi di lapangan, mari kita lihat fenomena mental load (beban kognitif) melalui contoh sehari-hari.

Bayangkan seorang ibu bernama Rina. Secara fisik, Rina mungkin "hanya" sedang menyapu lantai. Namun di dalam kepalanya, ia sedang menyusun jadwal imunisasi anak, mengingat bahwa persediaan beras dan popok sudah hampir habis, merencanakan menu makan malam yang tidak memicu alergi suaminya, dan memikirkan tagihan listrik yang harus dibayar besok.

Ketika suaminya pulang kerja dan bertanya, "Makan malam pakai apa?", meski pertanyaan itu terlihat sepele bisa menjadi pemicu kemarahan Rina. Mengapa? Karena Rina tidak hanya kelelahan secara fisik akibat menyapu, tetapi juga mengalami kelelahan pengambilan keputusan (decision fatigue). Ia dituntut untuk selalu menjadi pusat komando yang memikirkan segala detail rumah tangga, sementara orang di sekitarnya hanya menunggu instruksi.

Jika kesehatan mental Rina diabaikan dalam jangka waktu lama, dampaknya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Dari sudut pandang sistem keluarga, ibu adalah fondasi kestabilan emosional. Ibu yang depresi atau burnout akan cenderung lebih reaktif, mudah marah, atau sebaliknya, menjadi apatis terhadap kebutuhan emosional anak-anaknya. Ini menciptakan siklus trauma atau pengabaian yang memengaruhi perkembangan psikologis anak di masa depan.

Kesimpulan

Kesehatan mental bagi ibu rumah tangga bukanlah sebuah kemewahan atau sekadar tren psikologi masa kini, melainkan kebutuhan esensial untuk menjaga kestabilan keluarga. Mengakui bahwa pekerjaan domestik adalah pekerjaan yang menguras mental adalah langkah pertama yang logis. Keluarga, terutama suami, harus menyadari bahwa memberikan waktu luang (me time), membagi beban domestik, dan memberikan validasi verbal bukanlah bentuk "membantu istri", melainkan bentuk tanggung jawab bersama untuk menjaga kewarasan sistem keluarga itu sendiri.