Afrika di Persimpangan Jalan: Kaya Sumber Daya, Miskin Kedaulatan

Mahasiswa Universitas Hasanuddin, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Angkatan 2024
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Zaskia Meysia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu paradoks besar yang terus melekat pada Afrika: benua ini sangat kaya, tetapi banyak penduduknya tetap hidup dalam kemiskinan. Narasi lama sering menyederhanakan masalah ini menjadi soal “ketertinggalan” atau “kurangnya pembangunan”. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, persoalan Afrika hari ini bukan hanya soal ekonomi melainkan soal kedaulatan.
Afrika adalah rumah bagi sebagian besar cadangan mineral penting dunia, termasuk kobalt, emas, dan berlian. Dalam era transisi energi global, bahkan beberapa negara di Afrika menjadi kunci dalam rantai pasok baterai dan teknologi hijau. Tetapi, pertanyaannya tetap sama: jika sumber dayanya melimpah, mengapa kesejahteraan belum mengikuti?
Jawabannya terletak pada bagaimana kekayaan itu dikelola dan siapa yang benar-benar menikmatinya.
Sejak era kolonial, struktur ekonomi di Afrika dibangun bukan untuk kepentingan masyarakat lokal, melainkan untuk memenuhi kebutuhan pasar global. Setelah kemerdekaan, banyak negara mewarisi sistem yang sama: mengekspor bahan mentah, lalu mengimpor barang jadi dengan harga lebih mahal. Siklus ini menciptakan ketergantungan yang sulit diputus.
Di era modern, pola ini tidak sepenuhnya hilang ia hanya berubah bentuk. Perusahaan multinasional masih memainkan peran dominan dalam eksploitasi sumber daya. Sementara itu, negara sering kali hanya mendapatkan sebagian kecil dari nilai ekonomi yang dihasilkan. Ketika harga komoditas naik, keuntungan besar mengalir keluar. Ketika harga jatuh, masyarakat lokal yang menanggung dampaknya.
Lebih dari itu, persoalan tata kelola dalam negeri juga tidak bisa diabaikan. Korupsi, lemahnya institusi, dan konflik kepentingan membuat distribusi kekayaan menjadi tidak merata. Di beberapa negara, kekayaan alam justru menjadi sumber konflik, bukan kesejahteraan fenomena yang sering disebut sebagai “kutukan sumber daya”.
Namun, menyalahkan faktor internal saja juga tidak cukup adil. Sistem global saat ini masih cenderung menguntungkan negara maju. Aturan perdagangan, utang luar negeri, dan ketimpangan kekuatan ekonomi membuat negara-negara Afrika sulit bersaing secara setara. Dalam banyak kasus, mereka tidak memiliki posisi tawar yang kuat dalam menentukan harga maupun kebijakan perdagangan.
Di tengah tekanan tersebut, tantangan baru muncul: perubahan iklim. Afrika adalah salah satu wilayah yang paling rentan terhadap dampaknya. Kekeringan ekstrem, gagal panen, dan krisis air bersih menjadi ancaman nyata bagi jutaan orang. Padahal, kontribusi Afrika terhadap emisi global relatif kecil. Ini menciptakan ketidakadilan baru mereka yang paling sedikit berkontribusi justru paling terdampak.
Meski begitu, Afrika bukan tanpa harapan. Dalam satu dekade terakhir, berbagai inovasi mulai tumbuh dari dalam. Sektor teknologi berkembang pesat, khususnya dalam layanan keuangan digital. Banyak masyarakat kini dapat mengakses layanan keuangan hanya melalui ponsel, tanpa perlu rekening bank konvensional.
Selain itu, muncul pula kesadaran baru tentang pentingnya kedaulatan ekonomi. Beberapa negara mulai berupaya mengolah sumber daya mereka di dalam negeri, bukan sekadar mengekspor bahan mentah. Inisiatif kerja sama regional juga semakin diperkuat untuk meningkatkan daya tawar di pasar global.
Namun, perubahan ini masih berada di tahap awal. Tantangan yang dihadapi terlalu besar untuk diselesaikan dengan langkah setengah hati. Dibutuhkan keberanian politik untuk melakukan reformasi struktural mulai dari transparansi pengelolaan sumber daya hingga investasi besar dalam pendidikan dan industri.
Di sisi lain, dunia internasional juga harus berubah. Hubungan dengan Afrika tidak bisa lagi didasarkan pada eksploitasi terselubung dalam bentuk modern. Jika benar ada komitmen terhadap pembangunan global yang adil, maka Afrika harus diposisikan sebagai mitra setara, bukan sekadar penyedia bahan baku.
Pada akhirnya, masa depan Afrika akan ditentukan oleh satu hal: apakah benua ini mampu mengubah kekayaan menjadi kedaulatan. Tanpa itu, pertumbuhan ekonomi hanya akan menjadi angka di atas kertas tanpa dampak nyata bagi masyarakat.
Afrika hari ini sedang berada di persimpangan jalan. Satu arah membawa pada pengulangan sejarah lama ketergantungan, ketimpangan, dan kemiskinan. Arah lainnya membuka peluang menuju kemandirian dan kesejahteraan.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Afrika bisa berubah, tetapi apakah dunia dan Afrika sendiri bersedia mengubah cara lama yang selama ini justru mempertahankan masalahnya.
