Konten dari Pengguna

Aku Tetap Deg-degan Saat Presentasi, Tapi Sekarang Aku Tidak Mundur

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari zaskia pebriyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jujur, setiap mendengar kata presentasi, dada aku langsung berdebar seperti habis lari sprint. Tangan dingin, suara getar, dan pikiran mendadak kosong—lengkap sudah. Rasanya seperti seluruh kelas menatap hanya untuk menunggu aku salah ngomong. Tapi justru dari rasa takut itu, aku belajar satu hal penting: keberanian itu bukan muncul karena kita sudah jago, tapi karena kita berani mencoba meskipun belum sempurna.

Awalnya, aku selalu takut salah penyampaian—mulai dari pilihan kata, intonasi, sampai cara merangkai penjelasan. Setiap mata kuliah terasa menuntut kemampuan bicara yang baik, dan itu bikin aku makin khawatir kalau penyampaianku tidak tepat. Tapi ternyata, dari berbagai tugas presentasi itu aku justru belajar dasar komunikasi: menyusun ide, memilih kata yang pas, dan menyampaikan informasi dengan runtut dan jelas.

Sebelum naik ke depan kelas, aku mulai dari hal sederhana: menulis poin inti, bukan naskah lengkap. Ternyata ini membantu banget! Aku jadi lebih fokus pada apa yang ingin kusampaikan, bukan menghafal kata demi kata yang malah bikin tambah blank.

Lalu aku latihan ngomong sendiri di depan kaca (iya, rasanya aneh, tapi efektif). Semakin sering latihan, semakin aku sadar bahwa presentasi bukan soal sempurna, tapi soal mengalir.

Dan momen paling mengubah adalah ketika aku akhirnya maju. Deg-degan? Tentu saja. Tapi saat aku mulai bicara dengan kalimat pembuka yang sudah kupersiapkan, perlahan rasa tegang itu menurun. Presentasi yang awalnya terasa menakutkan justru berubah menjadi ruang untuk menyampaikan cerita dengan cara yang paling natural dan paling “aku”.

Foto: koleksi pribadi-diambil ketika sedang menjelaskan materi di depan kelas saat sesi presentasi.

Setelah selesai, aku sadar satu hal: rasa takut itu cuma bayangan. Begitu kita mulai, semuanya terasa lebih mudah dari yang kita pikirkan.

Sekarang, setiap kali harus presentasi, aku tetap deg-degan—tapi ada perbedaan besar: aku sudah tahu bahwa rasa takut itu bisa dilawan. Dan justru dari keberanian kecil itu, kepercayaan diri tumbuh sedikit demi sedikit.

Kalau kamu juga pernah gemetar sebelum presentasi, ingat ini: Keberanianmu bukan diukur dari tidak takut berbicara, tapi dari keberanian untuk berbicara meskipun takut.

Zaskia Pebriyanti

Mahasiswi jurusan PGSD