Matematika Itu Menakutkan, Sampai Aku Belajar Mencintainya

Mahasiswa S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Pamulang. Tertarik pada dunia pendidikan, menulis, dan proses belajar yang menyenangkan.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari zaskia pebriyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang menganggap matematika sebagai subjek yang sulit dan menakutkan. Rumus-rumus yang kompleks dan angka-angka yang membingungkan sering kali membuat pelajaran ini terasa menakutkan bagi siswa. Banyak dari Mereka merasa tegang bahkan sebelum pelajaran dimulai, dan saya pun pernah merasakan hal yang sama—merasa tidak mampu, kurang percaya diri, dan ingin menyerah.
Sejak SD, saya selalu menghindari pelajaran matematika. Saat kelas 6, ketakutan melanda setiap kali guru matematika masuk ke dalam kelas. Angka-angka di papan tulis tampak seperti musuh yang tidak bisa saya taklukkan. Saya merasa tidak berbakat dalam memahami logika ataupun rumus yang saya rasa terlalu kompleks dan tidak logis. Saya sering berpikir, "Mungkin saya memang tidak ditakdirkan untuk memahami matematika." Namun, segalanya berubah saat saya duduk di kelas 11 SMK. Di sana, saya bertemu dengan seorang guru matematika yang luar biasa. Ia tidak hanya menjelaskan rumus, tetapi juga membawa pendekatan yang menyenangkan untuk membangun pemahaman. Dengan cerita, permainan logika, dan contoh sehari-hari, ia membuat konsep-konsep matematika yang sebelumnya sulit menjadi lebih mudah dipahami. Kelas yang tadinya tegang kini menjadi tempat yang hidup dan penuh semangat.
Tentu saja, perubahan ini tidak instan. Saya masih sering melakukan kesalahan dan tidak segera mendapatkan nilai yang memuaskan. Namun, satu hal penting telah berubah: saya tidak takut lagi, tidak malu untuk bertanya, dan berani mengakui ketidakpahaman saya untuk berusaha memperbaikinya. Saya mulai mencari video pembelajaran, membaca buku tambahan, menambah jam belajar, dan berdiskusi dengan teman-teman. Bahkan, saya mulai merangkum rumus dan latihan soal. Secara bertahap, rasa percaya diri saya meningkat, dan begitu pula nilai saya. Salah satu momen paling berkesan adalah ketika saya meraih nilai sempurna dalam ujian harian matematika. Saat itu, saya merasa seolah telah menaklukkan gunung tantangan yang terasa mustahil. Guru saya tersenyum bangga, dan saya merasa semua usaha saya tidak sia-sia, menjadikannya tonggak penting dalam hidup saya. Kini, matematika bukan lagi subjek yang menakutkan, melainkan tantangan yang menggairahkan saya untuk terus belajar. Selain itu, saya mulai membantu teman-teman yang kesulitan, dan pengalaman berbagi pengetahuan itu sangat memuaskan. Saya menyadari bahwa sesuatu yang dulu saya benci kini menjadi kebanggaan saya, asalkan saya bersedia membuka diri dan berusaha. Matematika telah mengajarkan saya banyak hal lebih dari sekadar angka dan rumus. Ia mengajarkan saya untuk berpikir logis, bersabar, dan konsisten. Saya juga memahami bahwa dengan guru yang sabar dan metode yang tepat, cara pandang seseorang bisa berubah terhadap hal yang sebelumnya menakutkan. Jika dulu saya memilih untuk menyerah pada ketakutan, mungkin saya tidak akan pernah menyadari potensi diri. Kisah ini menjadi pengingat bagi saya bahwa ketidaksukaan tidak selalu berarti akhir dari segalanya; ia bisa jadi awal dari perubahan signifikan. Meskipun saya mungkin tidak menjadi ahli matematika, saya sudah membuktikan pada diri sendiri bahwa rasa takut dapat dihadapi, dan kesulitan hari ini dapat menjadi kebanggaan di masa depan. Dengan demikian, perjalanan saya dengan matematika menunjukkan bahwa ketakutan dan kebencian bukanlah akhir segalanya. Dengan usaha, keberanian untuk mencoba, serta dukungan dari lingkungan belajar yang baik, hal-hal yang awalnya tampak mustahil dapat diatasi. Matematika, yang dulu saya takuti, kini menjadi sumber kebanggaan dan pelajaran berharga dalam hidup. Perubahan tidak terjadi dalam semalam, tetapi dimulai dengan keberanian untuk menghadapi tantangan dan keinginan untuk terus belajar.
