Konten dari Pengguna

Mengapa Kita Selalu Ingin Menjadi Paling Benar? Belajar dari Kota Seribu Tafsir

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zaskia Widya Mecca tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kota seribu tafsir. (Ilustrasi: AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kota seribu tafsir. (Ilustrasi: AI)

Cerpen Kota Seribu Tafsir karya Mulla Shandri mengangkat pertanyaan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: mengapa manusia selalu ingin menjadi paling benar? Perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi ruang bertukar pikiran justru berubah menjadi ajang saling membuktikan siapa yang paling layak didengar. Fenomena ini mudah ditemukan, mulai dari media sosial hingga lingkungan sekitar, ketika setiap orang berlomba mempertahankan pandangannya sendiri. Keinginan untuk menjadi pihak yang paling benar sering kali dianggap sebagai bentuk keteguhan pada prinsip. Namun, ketika keinginan tersebut membuat seseorang menolak mendengar pandangan lain, ruang dialog perlahan berubah menjadi ruang pembeneran. Di tengah situasi seperti itu, cerpen kota seribu tafsir karya Mulla Shandri menghadirkan refleksi yang relevan mengenai cara manusia memandang kebenaran dan menyikapi perbedaan.

Dalam kajian sastra, M.H. Abrams melalui pendekatan mimetic memandang karya sastra sebagai representasi kehidupan. Artinya, karya sastra tidak hanya lahir dari imajinasi pengarang, tetapi juga merefleksikan realitas sosial yang terjadi di masyarakat. Dengan sudut pandang tersebut, Kota Seribu Tafsir bukan sekedar cerita tentang sebuah kota imajiner, melainkan cerminan kehidupan manusia yang terus berhadapan dengan perbedaan, pencarian kebeneran, dan keinginan untuk mempertahankan keyakinannya.

Semua laporan harus presisi. Semua kesimpulan harus tunggal. Semua rekomendasi harus pasti.

Mulla Shandri membuka cerpen ini dengan memperkenalkan sofyan sebagai sosok yang hidup dalam dunia yang menuntut kepastian. Hal itu terlihat dalam kutipan tersebut, yang bukan hanya sekedar menggambarkan pekerjaan sofyan tetapi juga merepresentasikan cara berpikir yang semakin sering dijumpai dalam kehidupan modern. Segala sesuatu diharapkan memiliki jawaban yang pasti sehingga ruang untuk mempertimbangkan sudut pandang lain menjadi semakin sempit. Tanpa disadari, pola pikir seperti ini membuat seseorang lebih sibuk mempertahankan pendapat daripada membuka diri terhadap kemungkinan adanya perspektif lain.

Perubahan cara pandang Sofyan mulai terlihat Ketika ia memasuki Bayt al-Tawil. Kota tersebut diperkenalkan melalui kalimat,

Kota ini berdiri dari kata-kata yang menolak ditafsirkan satu kali saja.

Kalimat tersebut menjadi simbol utama dalam cerpen. Bayt al-Tawil bukan sekadar latar imajinatif, melainkan representasi ruang dialog yang memberi tempat bagi keberagaman cara berpikir. Kehidupan di Kota itu menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu harus diselesaikan dengan memilih satu pihak sebagai pemenang. Sebaliknya, perbedaan justru menjadi ruang bagi manusia untuk memperkaya pemahaman dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.

Gagasan tersebut semakin dipertegas melalui perkataan Zaid,

Di kota ini, jawaban yang berbeda adalah tetangga yang baik. Mereka tidak perlu saling mengusir.

Penggunaan kata tetangga terasa sederhana, tetapi memiliki makna yang mendalam. Tetangga tidak harus memiliki kebiasaan, keyakinan, atau cara berpikir yang sama agar dapat hidup berdampingan. Melalui simbol tersebut, Mulla Shandri mengingatkan bahwa keberagaman bukan alasan untuk saling meniadakan, melainkan kesempatan untuk saling belajar. Dalam perspektif mimetik, gambaran ini menjadi representasi masyarakat yang mampu menjaga ruang dialog tanpa menghilangkan identitas dan keyakinan masing-masing.

Satu kota, satu tafsir.

Konflik cerita mencapai puncaknya ketika muncul kelompok Ahl al-Wuduh dengan slogan. Sekilas, slogan tersebut terdengar menjanjikan karena menawarkan kepastian dan keteraturan. Namun, di baliknya terdapat keinginan untuk menyeragamkan cara berpikir masyarakat. Puisi mulai dicurigai, ruang diskusi dibatasi, dan berbagai pandangan dipaksa mengikuti satu arah. Konflik ini menunjukkan bahwa ketika hanya ada satu cara berpikir yang dianggap benar, keberagaman perlahan menghilang dan ruang dialog menjadi semakin sempit.

Realitas yang digambarkan Mulla Shandri terasa semakin dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini. Arus informasi yang begitu cepat membuat setiap orang dapat menyampaikan pendapatnya dengan mudah. Namun, kemudahan tersebut tidak selalu diiringi dengan kesediaan untuk mendengarkan. Perbedaan pandangan kerap berakhir pada saling menyalahkan karena masing-masing pihak lebih berusaha mempertahankan keyakinannya daripada memahami alasan di balik pendapat orang lain. Dalam kondisi seperti ini, cerpen Kota Seribu Tafsir menjadi pengingat bahwa dialog tidak akan pernah tumbuh apabila setiap orang hanya sibuk membuktikan dirinya paling benar.

Bagian akhir cerpen memperkuat pesan tersebut melalui kalimat,

Ambiguitas adalah tempat pulang bagi mereka yang tidak tahan hidup dalam satu makna saja.

Kalimat tersebut mengajak pembaca memahami bahwa tidak semua persoalan kehidupan dapat dijawab secara hitam putih. Ada banyak situasi yang membutuhkan keterbukaan pikiran, kesediaan berdialog, dan kerendahan hati untuk menerima bahwa pemahaman manusia selalu memiliki keterbatasan. Ambiguitas dalam cerpen ini bukanlah simbol kebingungan, melainkan ruang bagi manusia untuk terus belajar dan bertumbuh.

Barangkali, persoalannya bukan karena manusia terlalu mencintai kebenaran. Bisa jadi, kita hanya terlalu takut menerima kenyataan bahwa tidak semua hal memiliki satu jawaban yang mutlak. Melalui Kota Seribu Tafsir, Mulla Shandri tidak mengajak pembaca untuk meninggalkan keyakinannya, melainkan mengingatkan bahwa mendengarkan bukan berarti kalah, dan menerima adanya perbedaan bukan berarti kehilangan prinsip. Justru di situlah kedewasaan diuji: ketika seseorang tetap teguh pada nilai yang diyakininya, tetapi tetap memberi ruang bagi orang lain untuk dipahami.

Daftar Pustaka

Abrams, M. H. (1953). The Mirror and the Lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. Oxford University Press.

Shandri, M. (2024). Kota Seribu Tafsir. Kumparan.