Konten dari Pengguna

Ketika Organisasi Mengedepankan Kekeluargaan: Mengapa Kritik Menjadi Sulit?

Zaskia Dian

Zaskia Dian

Economics Undergraduate Student at Gadjah Mada University, a collection of thoughts from someone who's still figuring things out

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zaskia Dian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kekeluargaan dan kebersamaan dalam organisasi. Foto: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Kekeluargaan dan kebersamaan dalam organisasi. Foto: Dokumentasi pribadi

Organisasi kerap dilabeli sebagai “rumah kedua” atau “keluarga tanpa ikatan darah”. Kekeluargaan kemudian menjadi istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan hubungan antaranggota. Dalam kehidupan modern yang semakin individualistis, kekeluargaan menjadi sesuatu yang sangat menenangkan. Nilai tersebut memunculkan rasa saling memiliki, kebersamaan, dan keyakinan bahwa seseorang tidak harus berjalan sendirian.

Namun, di balik makna positif tersebut, terdapat pertanyaan yang jarang diajukan: Mengapa semakin sebuah organisasi merasa seperti keluarga, semakin sulit pula kritik disampaikan?

Kritik dan Perspektif Kekeluargaan Menurut Antropologi

Kritik biasa diartikan sebagai bentuk kepedulian. Kritik menunjukkan harapan bahwa sesuatu sebenarnya masih bisa lebih baik lagi. Namun, dalam praktiknya, menyampaikan kritik kepada orang terdekat sering kali lebih sulit dibandingkan mengkritik orang asing. Perasaan takut melukai perasaan orang lain atau khawatir melukai hubungan sering membuat orang memilih untuk diam. Fenomena ini yang kemudian menarik untuk dilihat dari sudut pandang antropologi.

Antropologi memandang bahwa perilaku manusia tidak hanya dibentuk oleh aturan formal, tetapi juga oleh nilai-nilai budaya yang hidup di dalam masyarakat. Dalam konteks Indonesia, kata “kekeluargaan” terasa sangat familiar. Sejak kecil, banyak orang selalu diajarkan untuk mengutamakan kebersamaan dibandingkan kepentingan pribadi. Nilai tersebut sangat bermanfaat untuk menjaga hubungan sosial. Namun, dalam situasi tertentu, nilai yang sama dapat menciptakan dilema.

Mengapa Budaya Kekeluargaan Membuat Kritik Sulit?

Ilustrasi komunitas. Foto: Thinkstock

Ketika sebuah organisasi mengadopsi budaya kekeluargaan, hubungan antar-anggotanya sudah tidak bisa dipandang sebagai sekadar hubungan struktural, tetapi berubah menjadi lebih dalam, yaitu hubungan emosional. Dalam kondisi seperti ini, kritik sering kali tidak lagi dipahami sebagai masukan untuk suatu tindakan, tetapi dilihat sebagai sesuatu yang personal. Padahal, kritik adalah bentuk kepedulian yang lebih sulit karena membutuhkan keberanian.

Seseorang yang memilih untuk memberikan masukan dan menunjukkan kekurangan tidak selalu sedang mencari kesalahan, tetapi menunjukkan bahwa ia masih memiliki harapan untuk perbaikan. Akibatnya, jika ada sesuatu yang kurang tepat, banyak orang sering memilih tidak mengatakannya secara langsung.

Hal tersebut dilakukan bukan karena mereka tidak peduli, melainkan karena mereka terlalu peduli dengan hubungan yang sudah terjalin. Kritik yang seharusnya menjadi alat perbaikan justru dihindari demi menjaga kenyamanan bersama.

Kecenderungan untuk enggan menyampaikan kritik secara langsung terlihat jelas di berbagai organisasi. Anggotanya lebih memilih untuk mengeluhkan suatu masalah kepada teman dekatnya daripada menyampaikannya dalam forum resmi. Mereka takut dianggap tidak mendukung tim, takut dicap terlalu kritis, dan takut hubungan personal menjadi renggang. Akibatnya tidak ada penyelesaian dari masalah tersebut, sehingga kemudian tidak menghasilkan perubahan.

Ilustrasi jurusan kuliah. Foto: wutzkohphoto/Shutterstock

Budaya kekeluargaan yang awalnya bertujuan baik justru berbalik menjadi hambatan sebuah organisasi untuk berkembang. Padahal, sebuah organisasi sangat membutuhkan evaluasi. Kritik dalam organisasi sangat krusial guna mencegah kesalahan berulang dan mendorong inovasi. Ketika kritik dianggap ancaman terhadap hubungan sosial, proses evaluasi menjadi tidak efektif.

Budaya kekeluargaan juga menciptakan tekanan sosial karena loyalitas menjadi hal yang diutamakan. Muncul anggapan bahwa anggota yang baik adalah mereka yang selalu mendukung keputusan bersama. Padahal dalam organisasi yang sehat, loyalitas tidak berarti harus selalu setuju. Loyalitas justru diwujudkan dengan keberanian memberi saran dan masukan.

Munculnya hambatan dalam menyampaikan kritik bukan berarti kekeluargaan harus dihilangkan. Tidak dapat dipungkiri kekeluargaan juga memiliki banyak manfaat dalam organisasi. Rasa saling memiliki dapat mempermudah komunikasi, meningkatkan solidaritas, dan memperkuat kerja sama. Organisasi yang sepenuhnya formal dan kaku juga berisiko kehilangan sisi kemanusiaannya. Dalam hal ini, kita tidak memilih salah satunya, tetapi untuk menemukan keseimbangan di antara keduanya.

Kritik Bukan Lawan, melainkan Syarat Kebersamaan

Kekeluargaan yang sehat tidak harus selalu seragam, tetapi tersedianya ruang aman untuk perbedaan pikiran. Kekeluargaan yang sebenarnya justru mengingatkan tanpa rasa takut kehilangan hubungan. Kritik seharusnya tidak diartikan sebagai bentuk permusuhan, tetapi sebagai tanda masih adanya rasa peduli.

Ilustrasi kritik. Foto: Pixabay

Di saat ini, kemampuan menerima kritik semakin penting. Organisasi yang mampu bertahan bukanlah organisasi yang tidak pernah mengalami konflik, melainkan organisasi yang mampu mengelola perbedaan. Kritik bukan lawan dari kebersamaan. Dalam banyak situasi, kritik adalah syarat agar kebersamaan dapat terus bertahan.

Sudah saatnya kita meninjau kembali apa makna kekeluargaan yang selama ini digunakan dalam organisasi. Apakah kekeluargaan berarti menghindari ketidaknyamanan demi menjaga hubungan? Ataukah justru berarti memiliki keberanian untuk berkata jujur karena peduli terhadap masa depan?

Pertanyaan tersebut penting karena masa depan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa dekat hubungan antaranggotanya, tetapi juga oleh seberapa besar keberanian mereka untuk saling mengingatkan.

Pada akhirnya, organisasi yang benar-benar dapat disebut sebagai keluarga bukanlah organisasi yang bebas dari kritik, melainkan organisasi yang mampu menerima kritik tanpa kehilangan rasa saling menghargai. Dengan cara itulah kekeluargaan tidak hanya menjadi slogan, tetapi juga menjadi budaya yang benar-benar membantu organisasi tumbuh dan berkembang.