Konten dari Pengguna

"LUGAS": Aksi Mahasiswa Deteksi Dini Kanker Prostat di Desa Nampu

Zavira Putri D

Zavira Putri D

Mahasiswa Universitas Airlangga

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zavira Putri D tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Pelaksanaan Program Kerja LUGAS oleh Mahasiswa KKN-BBK 6 di Desa Nampu, Kabupaten Madiun.
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pelaksanaan Program Kerja LUGAS oleh Mahasiswa KKN-BBK 6 di Desa Nampu, Kabupaten Madiun.

Kabupaten Madiun, Juli 2025 — Mahasiswa Universitas Airlangga yang tergabung dalam program Belajar Bersama Masyarakat (BBK) 6 mencetuskan inisiatif inovatif bertajuk LUGAS — singkatan dari Lelaki Tangguh Bebas Gangguan Saluran Kemih — untuk meningkatkan kesadaran pria terhadap risiko kanker prostat dan pentingnya deteksi dini.

Program ini dilaksanakan di Dusun Sambiroto, Desa Nampu, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, dengan menggandeng warga secara langsung dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis. Menariknya, nama LUGAS tidak hanya berfungsi sebagai akronim, tetapi juga memiliki makna filosofis: dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “lugas” berarti terus terang dan tidak berbelit-belit — mencerminkan sikap ideal terhadap kesehatan: berani memeriksa, terbuka terhadap risiko, dan tangguh menjaga kualitas hidup.

Kegiatan ini berlangsung pada Senin (14/07/2025) di pendopo rumah Kepala Desa Nampu, Bibit Restiani. Sebanyak 30 pria dari usia diatas 45 Tahun mengikuti pemeriksaan, sebagai langkah awal untuk mengenali gejala gangguan saluran kemih dan mendeteksi potensi kanker prostat sedini mungkin. Dalam pelaksanaannya, setiap pria diberikan edukasi mengenai faktor resiko kanker prostat dan penilaian gejala saluran kemih yang ditemukan pada masing-masing individu. Dengan metode ini diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan pada tingkat individu. “Prevalensi kanker prostat di Indonesia cukup tinggi, dan sayangnya sebagian besar yang terdiagnosis di rumah sakit rujukan sudah mencapai stadium lanjut, yang membuat pengobatan menjadi lebih sulit dan mahal. Deteksi dini bisa menyelamatkan nyawa dan meningkatkan efisiensi perawatan kanker prostat,” jelas Naufal Rahman Prasetyawan, penanggung jawab program LUGAS.

Tak hanya soal medis, LUGAS juga menyoroti pentingnya edukasi dan perubahan pola pikir. Banyak pria enggan memeriksakan diri karena kurang informasi atau malu membahas masalah kesehatan reproduksi. Program ini hadir untuk memecah kebekuan itu, membawa isu kesehatan pria ke ruang publik yang lebih terbuka dan inklusif. “Dalam konteks kesehatan organ reproduksi, keterbukaan dan kejujuran pasien saat pemeriksaan sangat penting untuk menunjang efektivitas diagnosis dan terapi. Karena itu, kami mengangkat isu ini dengan harapan bukan hanya untuk sekedar pemeriksaan, tetapi juga untuk membangun kesadaran jangka panjang tentang pentingnya mengenal organ reproduksi sendiri,” terang penanggung jawab program.

Kegiatan ini juga mendapat sambutan yang baik dari Kepala Desa Nampu, Bibit Restiani. Sebagai kepala desa, beliau ikut mendukung adanya program kerja tersebut yang mengangkat isu mengenai kesehatan saluran kemih pria. Menurutnya program ini bermanfaat bagi warga desa yang masih minim untuk mengakses informasi kesehatan. Hal senada disampaikan oleh Kepala Dusun Sambiroto, Budi Wuryanto, yang berharap program seperti ini bisa menjadi model intervensi kesehatan secara keseluruhan di Provinsi Jawa Timur.

Melalui program LUGAS, mahasiswa tidak hanya membawa ilmu dari kampus ke masyarakat, tetapi juga menyuarakan pentingnya keberanian pria untuk mengenali dan menghadapi potensi penyakit sejak dini. Dengan pendekatan yang komunikatif dan partisipatif, LUGAS menjadi contoh kolaborasi antara pendidikan tinggi dan kebutuhan riil di lapangan. Langkah kecil di Desa Nampu ini diharapkan bisa menjadi pemantik gerakan lebih luas untuk kesehatan pria Indonesia yang lebih terbuka, tangguh, dan sadar risiko.