Ketika Wisata Banyuwangi Terus Tumbuh, Sudahkah Lingkungannya Siap?

Mahasiswa Aktif yang berasal dari Banyuwangi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Zaenal Ngabidin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyuwangi beberapa tahun terakhir menjadi salah satu daerah yang paling sering dibicarakan ketika membahas perkembangan pariwisata di Indonesia. Beragam destinasi alam seperti Kawah Ijen, Pulau Merah, De Djawatan, Bangsring Underwater, hingga Pantai Boom berhasil menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah. Tidak mengherankan jika sektor pariwisata kini menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat Banyuwangi.
Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari data Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang mencatat sebanyak 3.405.145 kunjungan wisatawan sepanjang tahun 2024. Jumlah itu meningkat sekitar 7 persen dibandingkan tahun 2023. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa Banyuwangi semakin dipercaya sebagai destinasi wisata yang memiliki daya saing tinggi dan mampu menarik minat wisatawan setiap tahunnya.
Peningkatan jumlah wisatawan tentu menjadi kabar baik. Hotel semakin ramai, pelaku UMKM memperoleh lebih banyak pelanggan, rumah makan dipenuhi pengunjung, dan masyarakat sekitar kawasan wisata ikut merasakan manfaat ekonomi. Pariwisata tidak lagi hanya menjadi sektor hiburan, tetapi telah menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang.
Namun, di balik pencapaian tersebut, muncul pertanyaan yang menurut saya perlu mendapat perhatian bersama. Apakah pertumbuhan jumlah wisatawan juga diikuti dengan kesiapan menjaga lingkungan wisata?
Pertumbuhan Wisata Membawa Tantangan Baru
Semakin banyak orang yang berkunjung ke sebuah destinasi, semakin besar pula aktivitas yang terjadi di kawasan tersebut. Aktivitas itu tentu menghasilkan sampah, baik berupa botol plastik, bungkus makanan, gelas minuman, maupun sampah lainnya. Persoalan ini sebenarnya merupakan konsekuensi yang hampir selalu muncul di daerah wisata yang berkembang pesat.
Menurut saya, persoalan sampah bukan muncul karena Banyuwangi memiliki banyak objek wisata. Justru banyaknya destinasi merupakan kekayaan daerah yang patut dijaga. Permasalahan yang sebenarnya adalah bagaimana pertumbuhan wisata tersebut diimbangi dengan kesadaran pengunjung serta sistem pengelolaan sampah yang memadai.
Penelitian mengenai kondisi sampah di kawasan pesisir Banyuwangi juga menunjukkan bahwa sampah plastik masih menjadi jenis sampah yang paling banyak ditemukan di beberapa lokasi wisata pantai. Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan sampah masih menjadi tantangan yang perlu diselesaikan secara bersama-sama.
Menjaga Alam Tidak Bisa Dibebankan kepada Satu Pihak
Kesadaran Wisatawan Menjadi Kunci
Saat berkunjung ke tempat wisata, setiap orang tentu ingin menikmati lingkungan yang bersih dan nyaman. Ironisnya, masih ada sebagian pengunjung yang meninggalkan sampah setelah menikmati keindahan alam. Mungkin satu bungkus makanan atau satu botol minuman terlihat sepele, tetapi jika dilakukan oleh ribuan orang setiap hari, dampaknya akan sangat besar.
Menurut saya, menjaga kebersihan seharusnya menjadi bagian dari budaya berwisata. Membawa kembali sampah pribadi atau membuangnya pada tempat yang telah disediakan merupakan tindakan sederhana yang menunjukkan rasa hormat kepada alam dan kepada pengunjung lainnya.
Pengelolaan Sampah Harus Mengikuti Pertumbuhan Wisata
Selain kesadaran masyarakat, pengelolaan sampah juga perlu terus ditingkatkan. Penyediaan tempat sampah yang mudah dijangkau, pemilahan sampah, pengangkutan yang terjadwal, serta papan informasi yang komunikatif dapat membantu mengurangi sampah yang berserakan di kawasan wisata.
Pengelola destinasi juga dapat bekerja sama dengan komunitas lingkungan, pelajar, mahasiswa, dan pelaku UMKM untuk membangun budaya menjaga kebersihan. Dengan demikian, kebersihan kawasan wisata tidak hanya bergantung pada petugas, tetapi menjadi tanggung jawab bersama.
Pariwisata Berkelanjutan Dimulai dari Hal Sederhana
Keberhasilan sebuah daerah wisata tidak hanya diukur dari banyaknya wisatawan yang datang. Keberhasilan juga terlihat dari kemampuan menjaga lingkungan agar tetap lestari. Alam yang bersih merupakan alasan utama wisatawan ingin kembali berkunjung.
Menurut saya, Banyuwangi sudah memiliki modal yang sangat besar berupa keindahan alam, budaya yang kaya, serta masyarakat yang ramah. Modal tersebut akan jauh lebih bernilai apabila dibarengi dengan kepedulian terhadap lingkungan. Jangan sampai keberhasilan mendatangkan jutaan wisatawan justru diikuti dengan meningkatnya persoalan sampah yang dapat merusak citra daerah.
Pada akhirnya, menjaga kebersihan bukan hanya tugas pemerintah ataupun pengelola wisata. Wisatawan, masyarakat, pelaku usaha, komunitas, hingga generasi muda memiliki peran yang sama penting. Jika setiap orang bersedia melakukan hal sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, maka keindahan Banyuwangi akan tetap terjaga.
Banyuwangi telah membuktikan dirinya sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di Indonesia. Tantangan berikutnya bukan sekadar meningkatkan jumlah kunjungan, melainkan memastikan bahwa pertumbuhan tersebut berjalan seiring dengan kelestarian lingkungan. Sebab, wisata yang benar-benar berkelanjutan bukan hanya menghadirkan banyak pengunjung, tetapi juga mampu menjaga alam agar tetap indah untuk dinikmati oleh generasi yang akan datang.
