Food & Travel
·
26 Februari 2021 14:11

Merasakan Sensasi Menjadi Seorang Pemetik Buah di Luar Negeri

Konten ini diproduksi oleh zefanya todoan

Program Working Holiday Visa Australia

Bekerja di luar negeri adalah mimpi bagi banyak orang. Tidak sedikit pula mereka yang rela bermigrasi untuk tinggal di luar negeri, baik secara resmi maupun tidak. Pada tahun 2010, saya mendapatkan kesempatan untuk bekerja di Australia, lewat program pemerintah Australia yaitu working holiday visa. Setiap pemegang visa tersebut, diberikan kesempatan selama 1 tahun untuk liburan dan bekerja di Australia, dan diwajibkan untuk pulang setelahnya. Kesempatan kerjanya beragam, namun biasanya casual job, seperti pemetik buah, cleaner, dan lain-lain.
ADVERTISEMENT
Pada saat itu saya masih berkuliah di semester 7, sehingga saya mengajukan cuti kepada pihak kampus. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya, dalam benak saya untuk mengikuti program ini. Bermula dari mencari beasiswa lewat internet, yang kemudian mengarahkan saya pada website kedutaan Australia di Indonesia. Pada website tersebut terpampang informasi, tentang kesempatan untuk liburan sekaligus bekerja di Australia secara legal. Saya tertarik, dan mulai membaca segala persyaratannya.
Merasakan Sensasi Menjadi Seorang Pemetik Buah di Luar Negeri (65781)
https://www.pexels.com/photo/woman-harvesting-coffee-beans-2166297/
Sekadar informasi, terdapat perubahan persyaratan pada tahun 2010 dan tahun ini. Pada tahun 2010 lalu, perihal yang diminta oleh pihak kedutaan untuk memenuhi persyaratan kurang lebih adalah seluruh dokumen asli, yang terdiri dari; ijazah terkahir, KTP, passport, akte kelahiran, TOEFL, NPWP, support letter dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Serta formulir yang telah diisi, yang disediakan oleh pihak ketiga (agen yang ditunjuk oleh Kedutaan Australia di Indonesia). Semua dokumen tersebut diserahkan kepada agen.
ADVERTISEMENT
Beberapa minggu kemudian saya mendapatkan informasi dari pihak kedutaan untuk melakukan wawancara. Proses wawancara dilakukan melalui telepon, selama kurang lebih 15-20 menit. Pewawancara menanyakan hal terkait tujuan mengikuti program ini, apa yang ingin dilakukan apabila sudah berada di Australia dll. Beberapa hari setelahnya saya dikirimkan email dari kedutaan yang menjelaskan bahwa saya berhasil mendapatkan visa working holiday.
Tanpa pikir panjang, saya mulai mempersiapkan diri dan barang-barang untuk tinggal di Australia. Saya mulai mencari informasi pekerjaan secara daring melalui job portal Australia. Banyak lowongan pekerjaan dibuka, untuk menjadi seorang pelayan restoran, asisten dapur dan pemetik buah di kebun. Setelah merasa siap, saya berangkat ke Sydney. Saya memilih kota tersebut, karena salah satu kerabat berdomisili di sana. Tentunya saya sangat membutuhkan bantuan darinya, mempelajari tips dan trik untuk tinggal dan mencari pekerjaan di Sydney.
ADVERTISEMENT
Memasuki minggu kedua di Sydney saya mulai mencari pekerjaan. Saya mempersiapkan CV dan mulai mengetuk pintu toko dan restoran secara satu persatu, menanyakan lowongan yang tersedia. Tiga minggu berlalu, belum ada lowongan yang tembus. Saya tidak patah hati, saya mulai memperluas networking, tepat satu bulan saya mendapatkan pekerjaan menjadi seorang tukang cat, handyman.
Tugas saya saat itu adalah mengecat rumah yang sedang direnovasi. Pekerjaan ini cukup menyenangkan, karena pemilik rumah yang memperlakukan saya dengan sangat baik dan upah yang diberikan juga cukup memuaskan. Bayaran yang diterima adalah perhari, dihitung secara per jam. Namun sayang, pekerjaan ini hanya untuk masa satu minggu. Sebelum usai masa kerja, saya mulai mencari kembali pekerjaan baru.
ADVERTISEMENT
Salah satu teman gereja memberikan informasi pekerjaan menjadi seorang cleaner di sekolah keperawatan yang terletak di tengah kota. Kemudian saya memberanikan diri untuk melamar dan sehari setelahnya saya dikabarkan untuk segera dapat bergabung bekerja dengan tim cleaners. Pekerjaan ini selalu dilakukan pada malam hari, setelah aktivitas di gedung selesai.
Pada hari pertama kerja, saya diperkenalkan dengan beragam alat pembersih, seperti mesin pel besar, kimia pembersih lantai, dinding dan toilet. Bekerja menjadi seorang cleaner cukup menantang, karena dilakukan di malam hari hingga pagi hari. Saya tidak terbiasa dengan jam kerja seperti itu. Selain itu saya juga harus mengerti cara kerja beberapa mesin pembersih, serta sabun kimia yang memiliki kegunaan yang berbeda. Belum lagi saya dan petugas lainnya harus mengangkat meja-meja besar, kursi-kursi panjang di cafeteria. Pekerjaan ini sangat menguras tenaga. Tidak bertahan lama, saya pun memutuskan untuk mencari pekerjaan lainnya.
ADVERTISEMENT
Tak lama setelah keluar dari pekerjaan sebagai cleaner, saya pun mendapatkan informasi dari job portal, tentang pekerjaan sebagai fruit picker alias pemetik buah di kebun tomat, Melbourne. Oleh karena tidak ingin menganggur dalam waktu yang lama, saya memberanikan diri untuk pindah ke Melbourne dengan misi bekerja sebagai pemetik buah. Pergi dari Sydney menuju Melbourne, menggunakan pesawat.
Di bandara saya dijemput oleh petugas dari perkebunan menuju lokasi tempat tinggal. Diluar pemikiran saya, ternyata tempat tinggal saya serupa dengan boarding school. Saya tinggal bersama dengan puluhan orang lainnya dari berbagai negara, dalam satu gedung yang terdiri dari banyak kamar, serta kamar mandi dan dapur yang besar. Sungguh pengalaman yang berbeda dari pekerjaan sebelumnya, karena di tempat ini saya bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara, seperti Korea, Cina, Jepang, Prancis, Turki, dan lain-lain.
ADVERTISEMENT
Setelah sampai di lokasi tempat tinggal, kemudian saya dijelaskan mengenai sistem kerja di kebun tomat. Setiap harinya, pada pagi hari pukul empat pagi, kami akan dijemput oleh mobil mini bus menuju kebun tomat, yang berlokasi sekitar 45 menit dari tempat kami tinggal. Di sana kami akan memulai memetik tomat hingga jam 4 sore, dan diperbolehkan untuk istirahat selama 1 jam. Oleh karena itu kami diharuskan untuk membawa makanan.
Selain itu, petugas dari perkebunan juga menjelaskan hal terkait upah. Kami akan mendapatkan upah setiap hari, dihitung berdasarkan jumlah tong yang bisa kami penuhi dengan tomat-tomat berkualitas baik, tidak busuk.
Hari pertama bekerja menjadi seorang pemetik buah sangatlah berat, karena medan kerja yang cukup menantang. Kami diharuskan untuk terus bergerak, memetik buah tomat secara cepat dan memilih buah yang berkualitas baik. Kami duduk dan berdiri selama beberapa jam.
ADVERTISEMENT
Selain itu, kami juga harus beradaptasi dengan situasi cuaca yang terkadang sangat panas, dingin, serta tanah basah akibat hujan. Terkadang kami juga merasa bosan, karena kami tidak dapat berbicara satu sama lain pada saat jam kerja, serta harus menghadapi setiap harinya lingkungan kerja yang monoton. Namun, setelah beberapa minggu dijalani saya mulai bisa beradaptasi, terbiasa dengan ritme dan medan kerja.
Pekerjaan sebagai pemetik buah, tidak hanya melatih fisik namun juga mental serta disiplin waktu. Pekerjaan ini saya lakoni kurang lebih dalam waktu beberapa bulan, hingga saya pulang kembali ke Indonesia. Walaupun tergolong berat, namun saya cukup menikmatinya, karena bekerja menjadi seorang pemetik buah, membawa saya bertemu dengan keluarga baru, dari berbagai negara yang memiliki rasa kebersamaan yang kuat.
ADVERTISEMENT
Dari pengalaman ini saya juga belajar banyak hal, terkait budaya, kebiasaan, teman-teman dari negara lain, serta menjadi ajang nyata untuk mengimplementasikan arti dari menghargai dan toleransi, serta mengasah keberanian. Pengalaman bekerja dengan visa working holiday akan menjadi pelajaran yang berharga dan kenangan yang tidak akan pernah dilupakan, serta menjadi batu loncatan untuk ke pengalaman berikutnya.
Bagi kalian yang ingin mencoba kesempatan ini, mulailah mencari informasi di website terkait dan penuhi segala persyaratannya. Apabila kalian diterima, mulailah mencari informasi sebanyak-banyaknya terkait akomodasi, biaya hidup, dan pekerjaan di job portal yang tersedia, seperti gumtree dan lain sebagainya. Selamat mencoba.