Perkembangan Zaibatsu pada Masanya

Yusuf Nico Nugraha
Mahasiswa Sarjana S1 Universitas Airlangga
Konten dari Pengguna
3 April 2024 12:44 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Yusuf Nico Nugraha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Source: https://images.pexels.com/photos/7914765/pexels-photo-7914765.jpeg?auto=compress&cs=tinysrgb&w=1260&h=750&dpr=1
zoom-in-whitePerbesar
Source: https://images.pexels.com/photos/7914765/pexels-photo-7914765.jpeg?auto=compress&cs=tinysrgb&w=1260&h=750&dpr=1
ADVERTISEMENT

Latar Belakang

Awal mula dari berkembangnya zaibatsu di era pemerintahan Meiji harus memimpin industrialisasi, mereka mengelola secara langsung dari berbagai perusahaan mulai dari gudang senjata dan galangan kapal hingga layanan telegraf dan pertambangan. Ketika pemerintah menemukan pengusaha bersedia bekerja sama dalam program industrialisasi, pemerintah menjalin hubungan dekat dengan mereka dan memberikan banyak bantuan, sehingga menciptakan jenis pedagang politik baru. Pada tahun 1880-an, ketika pemerintah menyerahkan industrialisasi negara kepada perorangan, keluarga-keluarga yang melakukan tugas ini memainkan peran penting dan mengambil keuntungan dari upaya awal pemerintah untuk memprivatisasi industri. Banyak dari keluarga ini beralih dari bidang keuangan dan pertambangan ke pelayaran, pembuatan kapal, dan pengerjaan logam. Beberapa dari mereka membentuk perusahaan dagang untuk mengekspor produk mereka dan mengimpor material dan teknologi baru yang diperlukan untuk industrialisasi. Secara bersamaan mereka mendirikan bank dan perusahaan asuransi untuk mendukung kegiatan industri dan perdagangan mereka. Pada awal abad ke-20, kelompok-kelompok multibisnis yang saling mendukung ini telah menjadi sumber modal yang berkelanjutan untuk transfer teknologi industri modern yang berkelanjutan. Perlahan-lahan anggota keluarga mengundurkan diri dari semua posisi kecuali posisi tertinggi di zaibatsu mereka dan digantikan oleh manajer terlatih yang memiliki keterampilan teknik dan teknis yang jauh lebih baik, serta pengetahuan bahasa asing.
ADVERTISEMENT
Selama Perang Dunia I dan kemudian pada tahun 1920-an, zaibatsu menyediakan kumpulan modal dan keterampilan manajerial yang diperlukan untuk membawa ke Jepang industri berbasis ilmu pengetahuan yang lebih maju secara teknologi, bahan kimia, peralatan listrik, mesin industri listrik, dan pengerjaan logam yang lebih baik. Pada tahun 1930-an, militer memberikan pengaruh yang besar terhadap operasi dan investasi perusahaan zaibatsu. Setelah Perang Dunia II, panglima tertinggi Sekutu membubarkan zaibatsu dan melarang perusahaan induk. Kebanyakan pakar percaya bahwa masyarakat teknologi dapat berkembang dalam ideologi politik apa pun, seperti kapitalisme liberal atau komunisme Marxis. Jepang menawarkan alternatif ketiga, yang disebut kapitalisme birokrasi. Perkembangan masyarakat industri Jepang menjadi contoh bagi banyak negara non-Barat di Asia dan Afrika. Langkah-langkah yang diikuti Jepang dalam modernisasi ekonominya, khususnya cara kekayaan tradisional lama diubah menjadi modal industri modern dan cara modal pemerintah dan swasta mampu mencapai pertumbuhan dan pembangunan ekonomi tingkat tinggi tanpa mengorbankan otonomi Jepang.
ADVERTISEMENT

Pengertian Umum dari Zaibatsu

Zaibatsu merupakan sebuah kata majemuk dalam bahasa Jepang, “zai” yang berarti “uang” atau juga bisa diartikan sebagai “kekayaan”, dan “batsu” yang berarti “grup” atau “kelompok” atau “klan”, yang mana jika kedua kata tersebut digabungkan menjadi zaibatsu yang memiliki artian sebagai kelompok atau klan yang kaya. Zaibatsu biasanya didirikan oleh keluarga-keluarga kaya Jepang yang mempunyai banyak bisnis yang berbeda, mulai dari perbankan, manufaktur, perdagangan, hingga industri yang lainnya. Mereka sering kali memiliki pengaruh yang besar dalam perekonomian Jepang pada masa itu.
Beberapa contoh zaibatsu yang terkenal adalah Mitsui, Mitsubishi, Sumitomo, dan Yasuda. Mitsui didirikan oleh keluarga Mitsui, Mitsubishi oleh keluarga Mitsubishi, Sumitomo oleh keluarga Sumitomo, dan Yasuda oleh keluarga Yasuda. Keluarga-keluarga ini memiliki kekayaan yang luar biasa dan mengendalikan berbagai aspek ekonomi Jepang.
ADVERTISEMENT
Pada puncak kekuasaannya, zaibatsu memiliki pengaruh yang sangat besar di Jepang. Mereka tidak hanya menguasai bisnis-bisnis besar di dalam negeri, tetapi juga memiliki hubungan yang kuat dengan pemerintah dan kekuatan politik lainnya. Hal ini membuat mereka memiliki kekuatan yang signifikan dalam menentukan kebijakan ekonomi dan politik di Jepang.

Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Dalam Perkembangan Zaibatsu

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan dari zaibatsu, terutama pada kemampuan zaibatsu di dalam mewujudkan strategi diversifikasinya khusususnya sekitar tahun 1893-1913 yaitu:
1. Sumber-sumber daya manajemen
2. Struktur organisasi
3. Keluarga dari zaibatsu
Sumber-sumber daya manajemen pada saat itu adalah berupa sumber keuangan dan sumberdaya manusia yang profesional. Pada saat itu sumber-sumber daya tersebut diiringi dengan struktur organisasi yang tepat serta dengan hubungan Kerjasama yang baik antara pemilik perusahaan dengan tenaga-tenaga yang profesional sehingga zaibatsu dapat berkembang dengan baik.
ADVERTISEMENT
Sumber pendanaan yang diperoleh berasal dari dua sumber utama: keluarga dan hasil usaha perusahaan keluarga. Keberhasilan strategi diversifikasi tidak hanya bergantung pada dana yang cukup melainkan juga pada kehadiran tenaga terampil yang mampu menjadi manajer yang menggabungkan berbagai ide dan pandangan strategis. Zaibatsu umumnya kurang memiliki tenaga terampil dari lingkungan keluarga, sehingga mereka harus merekrut dari luar, terutama lulusan universitas ternama dan pensiunan pegawai negeri yang disebut "amakudari". Ketersediaan dana dan tenaga terampil memudahkan zaibatsu untuk mengembangkan berbagai usaha mereka. Pada periode 1870-1880, zaibatsu seperti Mitsui, Mitsubishi, dan Sumitomo berhasil mengumpulkan kekayaan melalui kegiatan political merchant dan membagi usaha mereka, terutama di bidang pertambangan, untuk mengembangkan bisnis mereka lebih lanjut.
ADVERTISEMENT

Perkembangan Zaibatsu Pasca Perang Dunia Ke-2

Pasca kekalahan Jepang pada Perang Dunia II, kekuatan zaibatsu (konglomerasi bisnis keluarga) mulai direvisi oleh sekutu (AS). Beberapa kebijakan yang dilakukan adalah:
1. Pada September 1945, program revisi zaibatsu dimulai dengan melikuidasi 5 zaibatsu besar (Mitsui, Mitsubishi, Sumitomo, Yasuda, dan Fuji) menjadi 83 perusahaan yang dikontrol oleh Komisi Likuidasi Perusahaan Induk (HCLC).
2. Pada Maret 1947, 56 orang dari 10 keluarga zaibatsu besar diperintahkan untuk memindahkan kepemilikan saham mereka ke HCLC dan dilarang memegang jabatan di perusahaan zaibatsu.
3. Pada 1946, 86 perusahaan zaibatsu diubah menjadi PT, 42 dibubarkan, 16 bangkrut, dan 26 lainnya dipisah menjadi perusahaan kecil.
Namun, saat Perang Dingin AS-Soviet meningkat setelah 1947, kebijakan berubah dari reformasi musuh menjadi rehabilitasi sekutu. Beberapa perubahan adalah:
ADVERTISEMENT
1. Pembatasan penggunaan nama zaibatsu lama dihapus.
2. Pembatasan aktivitas untuk perusahaan induk dihapus.
3. Perusahaan yang sebelumnya dipecah mulai digabungkan kembali.
Pasca Perang, bentuk baru zaibatsu yang disebut "keiretsu" dibentuk, dengan sektor perbankan dan industri bergabung kembali. Meski struktur kepemilikannya direvisi, peran dan fungsi zaibatsu (keiretsu) dalam politik dan pemerintahan Jepang tidak banyak berubah. Zaibatsu tetap menjadi aktor utama dalam menentukan kebijakan ekonomi Jepang, berada dalam lingkaran penting pengambilan keputusan sebagai salah satu dari 'Three Deadlock' bersama birokrasi dan partai politik.
Jadi, meskipun telah terjadi reformasi bentuk, peran dan fungsi dari zaibatsu dalam politik dan pemerintahan Jepang pasca PD II, zaibatsu tetap berperan penting dan signifikan dalam menentukan arah kebijakan dan memajukan ekonomi negara tersebut.
ADVERTISEMENT

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil yaitu zaibatsu merupakan kelompok atau klan bisnis yang kaya di Jepang, yang didirikan oleh keluarga-keluarga kaya dan mengendalikan berbagai bisnis seperti perbankan, manufaktur, perdagangan, dan industri lainnya. Perkembangan zaibatsu dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti sumber daya manajemen (keuangan dan sumber daya manusia profesional), struktur organisasi yang tepat, serta hubungan baik antara pemilik dan tenaga profesional.
Pada awalnya, pemerintah Meiji mendorong industrialisasi dan memberikan bantuan kepada pengusaha yang bekerjasama, sehingga menciptakan pedagang politik baru seperti zaibatsu. Selama Perang Dunia I dan tahun 1920-an, zaibatsu menyediakan modal dan keterampilan manajerial untuk mengembangkan industri berbasis ilmu pengetahuan yang lebih maju. Pada tahun 1930-an, militer memberikan pengaruh besar terhadap operasi dan investasi perusahaan zaibatsu.
ADVERTISEMENT
Setelah Perang Dunia II, sekutu membubarkan zaibatsu dan melarang perusahaan induk. Namun, kebijakan berubah menjadi rehabilitasi sekutu saat Perang Dingin meningkat. Bentuk baru zaibatsu yang disebut "keiretsu" dibentuk, dengan sektor perbankan dan industri bergabung kembali. Meskipun struktur kepemilikannya direvisi, peran dan fungsi zaibatsu (keiretsu) dalam politik dan pemerintahan Jepang tidak banyak berubah, tetap menjadi aktor utama dalam menentukan kebijakan ekonomi Jepang.