Konten dari Pengguna

Sering Kewalahan? Yuk, Kenali Tipe Manajemen Waktu Kita!

Zelda Bestari Gracia Derryl
Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
7 Desember 2025 1:03 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tulisan dari Zelda Bestari Gracia Derryl tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tipe-tipe manajemen waktu. Foto hanya ilustrasi. Sumber: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Tipe-tipe manajemen waktu. Foto hanya ilustrasi. Sumber: Freepik.com
ADVERTISEMENT
Kenapa sih kita sering merasa kewalahan? Sudah mencoba mengatur waktu, mengerjakan tugas, dan mengikuti ritme sehari-hari, tapi tetap saja terasa berat. Saat ini, remaja hingga orang dewasa hidup dalam tekanan serba cepat. Tugas sekolah, kuliah, pekerjaan, dan kegiatan organisasi muncul bersamaan dengan jadwal yang saling bertabrakan. Waktu terasa sempit, kepala penuh, dan kita kerap bingung harus mulai dari mana. Tidak jarang panik mengambil alih hingga akhirnya tidak ada satu pun yang selesai. Di situ, banyak orang langsung menyalahkan diri sendiri—merasa kurang mampu atau “nggak bisa apa-apa”.
ADVERTISEMENT
Padahal, belum tentu itu penyebabnya. Sering kali masalah muncul karena tipe manajemen waktu kita tidak cocok dengan aturan atau budaya di sekitar.
Seperti perbedaan kecenderungan otak kiri dan kanan, cara kita memandang waktu pun punya tipe masing-masing, lho! Terdapat dua tipe manajemen waktu dalam buku Slow Down to Speed Up: How to Manage Your Time and Rebalance Your Life (2007) karya Lothar J. Seiwert & Ann McGee-Cooper. Yuk, kita bahas!
1. Tipe Monochronic Time Manager
Tipe-tipe manajemen waktu. Foto hanya ilustrasi. Sumber: Freepik.com
Kalau kamu termasuk orang yang sangat mengandalkan jam dan jadwal, kamu mungkin berada di tipe monochronic. Tipe ini terbiasa fokus pada satu hal di satu waktu dan merasa nyaman jika semuanya berjalan teratur.
Mereka cenderung serius dengan time frame, menjaga privasi saat bekerja, dan tidak suka diganggu ketika sedang menyelesaikan sesuatu. Orang monochronic juga lebih suka melakukan pekerjaan sendiri, jarang meminjam atau meminjamkan barang, dan lebih terikat pada tugas daripada hubungan interpersonal. Bagi mereka, rencana yang jelas dan terstruktur adalah kunci produktivitas.
ADVERTISEMENT
2. Tipe Polychronic Time Manager
Tipe-tipe manajemen waktu. Foto hanya ilustrasi. Sumber: Freepik.com
Sementara itu, orang polychronic punya cara pandang yang lebih fleksibel. Mereka bisa mengerjakan beberapa hal sekaligus dan sering mengikuti intuisi atau peluang yang muncul secara spontan. Waktu bukan sesuatu yang kaku bagi mereka—rencana bisa berubah seiring situasi.
Tipe ini sangat mengutamakan hubungan dengan orang lain, mudah beradaptasi, dan lebih senang bekerja bersama ketimbang sendirian. Mereka tidak masalah meminjam atau meminjamkan barang dan biasanya membangun hubungan jangka panjang. Lingkungan yang dinamis justru membuat mereka merasa hidup dan terhubung.
Setelah mengenal dua tipe manajemen waktu ini, mungkin kamu jadi teringat pada pengalamanmu sendiri. Bukan berarti kamu tidak pandai mengatur waktu—bisa jadi lingkunganmu saja yang tidak sejalan dengan cara kerjamu. Tipe polychronic bisa kewalahan di sistem yang sangat rapi dan ketat, begitupun dengan tipe monochronic jika berada di lingkungan yang terlalu fleksibel dan berubah-ubah.
ADVERTISEMENT
Nah, dari dua tipe itu, kamu merasa lebih cocok yang mana, nih?