Konten dari Pengguna

Anak SD Sudah Bermakeup dan Live Streaming, Ke Mana Masa Kecil Mereka Pergi?

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zelikha Nurmila Maulidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

gambar yang memperlihatkan anak kecil yang sedang live streaming tutorial ber make-up. Ilustrasi ini dibuat dengan Ai
zoom-in-whitePerbesar
gambar yang memperlihatkan anak kecil yang sedang live streaming tutorial ber make-up. Ilustrasi ini dibuat dengan Ai

Beberapa tahun terakhir, media sosial semakin dipenuhi oleh konten anak-anak. Tidak jarang kita melihat anak usia sekolah dasar tampil dengan riasan wajah, mengikuti tren orang dewasa, bahkan melakukan live streaming selama berjam-jam. Sebagian orang menganggap hal tersebut lucu dan menghibur. Namun, di sisi lain, fenomena ini membuat saya bertanya-tanya, apakah anak-anak zaman sekarang masih memiliki masa kecil yang seharusnya? Saat kecil, banyak dari kita menghabiskan waktu bermain petak umpet, bersepeda bersama teman, atau bermain permainan tradisional di lingkungan rumah. Kini, pemandangan tersebut mulai jarang terlihat. Banyak anak yang lebih akrab dengan kamera ponsel dan media sosial dibandingkan permainan yang biasa dimainkan anak seusianya. Teknologi memang membawa banyak manfaat. Anak-anak bisa belajar dari internet, mengembangkan bakat, dan mendapatkan informasi dengan mudah. Namun, ketika anak-anak mulai terlalu fokus pada jumlah penonton, jumlah suka, atau komentar dari orang lain, ada hal yang perlu diperhatikan. Mereka bisa tumbuh dengan anggapan bahwa nilai diri mereka ditentukan oleh respons orang lain di media sosial. Fenomena ini juga tidak lepas dari peran orang dewasa. Banyak orang tua yang dengan bangga mengunggah aktivitas anak mereka ke media sosial. Bahkan ada yang secara rutin membuat konten bersama anak demi mendapatkan banyak penonton. Tentu tidak ada yang salah dengan membagikan momen kebersamaan keluarga. Akan tetapi, jangan sampai keinginan mendapatkan perhatian di media sosial membuat kebutuhan anak menjadi terabaikan. Anak-anak masih berada dalam masa belajar dan berkembang. Mereka membutuhkan waktu untuk bermain, berinteraksi dengan teman sebaya, dan mengenal lingkungan sekitar secara langsung. Masa kecil bukanlah masa untuk memikirkan popularitas atau mengejar jumlah pengikut di media sosial. Bukan berarti anak-anak harus dijauhkan sepenuhnya dari teknologi. Yang perlu dilakukan adalah memberikan batasan dan pendampingan yang tepat. Orang tua perlu memastikan bahwa media sosial digunakan sebagai sarana belajar dan hiburan yang sehat, bukan menjadi pusat kehidupan anak sehari-hari. Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama bukanlah mengapa anak-anak memakai makeup atau melakukan live streaming. Pertanyaannya adalah, apakah mereka masih memiliki kesempatan untuk menikmati masa kecilnya seperti anak-anak pada umumnya? Karena masa kecil hanya datang satu kali. Jika fase itu hilang begitu saja karena tuntutan dunia digital, mungkin ada pengalaman berharga yang tidak akan pernah bisa terulang kembali.