Fenomena Anak Merasa Asing dan Canggung Dengan Ayahnya

Mahasiswa Program Studi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Zelikha Nurmila Maulidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia dinobatkan sebagai fatherless (negara tanpa ayah) dengan peringkat ketiga di dunia. Gelar tersebut terjadi akibat dari minimnya kehadiran figur sang ayah di kehidupan anaknya. Lalu bagaimana nasib dari anak tersebut yang tidak memiliki kedekatan terhadap ayahnya ? Salah satu penyebab yang sering ditemukan ialah anggapan bahwa tugas utama ayah hanya sebatas mencari nafkah, sementara urusan pengasuhan dan kedekatan emosional sepenuhnya menjadi tanggung jawab ibu.
Padahal kehadiran ayah dalam kehidupan anak itu tidak hanya berkaitan terhadap kebutuhan ekonomi saja. Melainkan anak juga membutuhkan perhatian, dukungan, dan keterlibatan emosional dari sosok ayah-nya. Ketika peran tersebut tidak terpenuhi, tidak sedikit anak yang tumbuh dengan perasaan asing terhadap ayahnya sendiri, meskipun tinggal dalam satu rumah yang sama.
Fatherless merupakan kondisi ketika seorang anak hidup tanpa kehadiran sosok ayah, baik secara fisik maupun psikologis. Kondisi ini dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti perceraian, konflik rumah tangga, hingga kematian (Ashari, 2017). Fenomena ini bukanlah persoalan kecil karena dapat memengaruhi kehidupan anak dalam jangka panjang, terutama pada aspek emosional dan sosial.
Kasus perceraian yang terus meningkat di Indonesia turut menjadi salah satu faktor yang mendorong munculnya fenomena fatherless. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2025 terdapat 438.168 kasus perceraian di Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak anak yang tumbuh dalam keluarga dengan orang tua tunggal (single parent). Akibatnya, tidak sedikit anak yang harus menjalani masa pertumbuhan tanpa kehadiran ayah, baik secara fisik maupun emosional.
Namun, fenomena fatherless tidak selalu berarti ayah benar-benar tidak ada di dalam keluarga. Dalam banyak kasus, ayah tetap tinggal serumah dengan anak, tetapi tidak terlibat secara emosional dalam kehidupan mereka. Kondisi inilah yang sering kali membuat anak merasa asing dengan sosok ayahnya sendiri. Mereka mengenal ayah sebagai kepala keluarga, tetapi tidak menjadikannya sebagai tempat bercerita, meminta nasihat, atau berbagi perasaan.
Perasaan asing terhadap ayah dapat muncul karena kurangnya waktu bersama, kesibukan pekerjaan, atau minimnya komunikasi yang hangat dalam keluarga. Anak yang jarang berinteraksi dengan ayahnya akan merasa canggung untuk berbicara secara terbuka. Bahkan, tidak sedikit anak yang lebih nyaman menceritakan masalahnya kepada teman atau orang lain dibandingkan kepada ayahnya sendiri.
Padahal, dalam proses tumbuh kembang anak, ayah memiliki peran yang tidak kalah penting dibandingkan dengan ibu. Kehadiran ayah dapat membantu membangun rasa percaya diri, memberikan rasa aman, serta mengajarkan anak tentang tanggung jawab dan cara menghadapi tantangan hidup. Hubungan yang dekat dengan ayah juga berkontribusi pada perkembangan emosi yang lebih sehat.
Fenomena anak yang merasa asing dengan ayahnya menjadi tantangan sosial yang perlu mendapat perhatian lebih. Selama ini, banyak masyarakat masih memandang bahwa keberhasilan seorang ayah hanya diukur dari kemampuannya memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Padahal, anak juga membutuhkan kehadiran emosional yang tidak dapat digantikan oleh materi.
Membangun kedekatan dengan anak tidak selalu membutuhkan waktu yang panjang. Mengobrol setelah pulang kerja, mendengarkan cerita anak, menemani belajar, atau sekadar menanyakan kabarnya dapat menjadi bentuk perhatian yang bermakna. Hubungan emosional yang kuat justru dibangun melalui interaksi sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Pada akhirnya, anak tidak hanya membutuhkan sosok ayah yang hadir secara fisik, tetapi juga hadir dalam kehidupan emosional mereka. Ketika ayah mampu meluangkan waktu dan membangun komunikasi yang hangat, anak akan merasa lebih dihargai, dicintai, dan memiliki tempat untuk berbagi. Oleh karena itu, penting bagi setiap keluarga untuk menyadari bahwa peran ayah tidak berhenti pada mencari nafkah, melainkan juga menjadi bagian penting dalam perjalanan tumbuh kembang anak.
