Avoidant Attachment: Mengapa Sebagian Orang Menjauh Saat Hubungan Semakin Dekat?

mahasiswa universitas pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari firda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, istilah avoidant attachment semakin sering muncul di media sosial. Banyak orang menggunakan istilah tersebut untuk menjelaskan seseorang yang terlihat hangat di awal hubungan, tetapi perlahan mulai menjaga jarak ketika kedekatan semakin terjalin.
Fenomena ini pun memunculkan berbagai pertanyaan: apakah mereka benar-benar tidak memiliki perasaan, atau ada alasan lain di balik sikap tersebut? Dalam psikologi, avoidant attachment merupakan salah satu gaya keterikatan (attachment style). Seseorang dengan kecenderungan ini umumnya lebih nyaman menjaga kemandirian dan terkadang merasa tidak nyaman ketika hubungan menjadi terlalu dekat secara emosional.
Namun, penting dipahami bahwa tidak semua orang yang membutuhkan ruang pribadi atau belum siap berkomitmen dapat langsung disebut memiliki avoidant attachment. Gaya keterikatan adalah konsep psikologis yang lebih kompleks dan tidak bisa disimpulkan hanya dari satu atau dua perilaku. Orang dengan kecenderungan avoidant attachment bisa saja tetap peduli kepada pasangannya. Hanya saja, mereka mungkin kesulitan mengekspresikan perasaan, merasa canggung saat membahas emosi, atau memilih menarik diri ketika menghadapi konflik. Dari luar, sikap tersebut sering disalahartikan sebagai tanda tidak peduli, padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Di era media sosial, istilah avoidant sering digunakan secara bebas untuk menjelaskan hampir semua hubungan yang berakhir tanpa kejelasan.
Padahal, seseorang bisa menjaga jarak karena berbagai alasan, seperti sedang fokus pada pekerjaan, belum siap menjalani hubungan, memiliki pengalaman buruk di masa lalu, atau memang merasa hubungan tersebut tidak cocok. Karena itu, melabeli seseorang tanpa memahami kondisinya justru dapat menimbulkan kesalahpahaman. Bagi orang yang berhadapan dengan pasangan atau teman yang cenderung menghindari kedekatan, komunikasi tetap menjadi kunci. Membicarakan kebutuhan, batasan, dan harapan masing-masing jauh lebih bermanfaat daripada menebak-nebak alasan di balik perubahan sikap seseorang. Tidak semua persoalan hubungan dapat dijelaskan hanya dengan satu istilah yang sedang populer. Di sisi lain, memahami attachment style dapat menjadi kesempatan untuk lebih mengenal diri sendiri. Menyadari bagaimana kita membangun kedekatan, menghadapi konflik, atau merespons hubungan bisa membantu menciptakan komunikasi yang lebih sehat. Namun, konsep ini sebaiknya digunakan sebagai alat untuk memahami, bukan untuk memberi label atau menyalahkan orang lain. Pada akhirnya, setiap hubungan membutuhkan rasa aman, komunikasi, dan saling memahami. Terlepas dari apa pun gaya keterikatan seseorang, hubungan yang sehat dibangun oleh dua orang yang sama-sama bersedia belajar, bertumbuh, dan menghargai kebutuhan satu sama lain.
