Konten dari Pengguna

Semangat Narasi Resistance Fiksi yang Bocor ke Dunia Nyata

Ryo Zen Favian Inzaghi

Ryo Zen Favian Inzaghi

Lulusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ryo Zen Favian Inzaghi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita semua tahu rasanya, nonton film, lalu tanpa sadar jantung ikut berpacu ketika pihak yang lemah mulai melawan. Waktu Katniss mengacungkan tiga jari ke langit dalam Hunger Games, atau saat bangsa Na’vi di Avatar mengusir pasukan manusia tamak dari Pandora, kita tahu persis di mana kita berpihak. Kita tidak berada di pihak Capitol, bukan juga pada kolonialis, tapi kita berdiri di barisan resistance, para pembelot.

Yang menarik, pilihan itu hampir otomatis. Kita bersorak ketika para pemberontak melawan, menahan napas saat mereka dikejar, dan ikut lega saat meraih kemenangan.

Padahal kalau pakai logika sederhana, resistance jelas berada di pihak yang kalah modal. Capitol punya pasukan Peacemaker dan teknologinya. Manusia di Pandora punya mesin perang raksasa. Sementara lawannya hanya bersenjata panah, tombak, dan modal nekad. Tapi entah bagaimana, hati kita tetap jatuh ke mereka.

Pertanyaannya, kenapa bisa begitu? Kenapa hampir semua orang condong mendukung resistance, bahkan ketika peluang menang mereka tipis?

Sejak manusia belajar bercerita, ada satu pola yang tidak pernah gagal membuat kita terpikat, yaitu kisah si kecil melawan si raksasa. Dari dongeng, kisah kitab suci, sampai layar bioskop, motif yang sama terus berulang.

Ilustrasi klasik David melawan Goliath, simbol abadi keberanian si kecil menantang raksasa. Foto: Karya Cornelis Schut (1597–1655) via Look and Learn

Ingat kisah David melawan Goliath? Nah, itulah salah satu blueprint resistance. Tubuh kecil, senjata sederhana, tapi berani menantang raksasa yang tampak mustahil dikalahkan. Karena, pada dasarnya, setiap orang pernah merasa kecil. Pernah ditindas, diremehkan, atau dianggap sepele adalah pengalaman universal.

Ketika Katniss menembakkan panahnya, atau Na’vi melawan pasukan kolonial, itu bukan sekadar cerita fiksi. Itu cerminan perasaan kita yang paling mendasar, keinginan melihat yang lemah punya kesempatan melawan yang kuat.

Ketika Realitas Meminjam Narasi Fiksi

Narasi yang sama juga kita lihat di Indonesia akhir-akhir ini. Bedanya, kali ini bukan di layar bioskop, tapi di jalanan kota.

Agustus lalu, rakyat turun ke jalan. Mereka marah pada kebijakan yang semena-mena. Pajak melonjak, tunjangan wakil rakyat naik, sedangkan suara rakyat diabaikan. Aparat turun tangan dengan wajah garang, lengkap dengan gas air mata dan tameng. Lagi-lagi, gambaran klasik yang kecil melawan yang besar.

Di mata publik, rakyat otomatis jadi protagonisnya. Mereka bukan Katniss atau bangsa Na’vi, melainkan tukang ojek, mahasiswa, buruh, petani, orang-orang biasa yang merasa ditindas. Dan aparat, sayangnya, semakin kesini dipandang seperti Peacemaker-nya Capitol, punya senjata, punya kuasa, tapi jauh dari nurani rakyat.

Kita bisa pura-pura netral, tapi hati kecil kita sudah menetapkan posisi kita. Rakyatlah yang jadi resistance, rakyatlah yang jadi tokoh utamanya.

Tapi resistance bukan cuma milik jalanan Indonesia. Di belahan lain dunia, ada perlawanan yang jauh lebih memilukan, yaitu Palestina. Penderitaan mereka sudah berlangsung puluhan tahun. Tanah direbut, rumah dihancurkan, hidup dibatasi blokade, dan maut bisa datang kapan saja dari moncong senapan tentara Israel. Kalau di Hunger Games ada Peacemaker, maka di dunia nyata ada IDF dengan mesin militer dan kebiadabannya.

Di tengah ketimpangan itu, rakyat Palestina tetap bertahan. Dengan sumber daya terbatas, mereka menolak tunduk. Itulah kenapa Palestina sudah lama dianggap simbol resistance global, mereka adalah Katniss Everdeen dunia nyata. Kisah resistance yang sedang ditulis dengan darah dan keberanian.

Tentu saja, ada perbedaan besar yang tidak bisa diabaikan. Perlawanan rakyat Indonesia tidak bisa disamakan dengan penderitaan rakyat Palestina. Situasinya jelas jauh berbeda.

Di sini, meski kita sering merasa ditindas oleh bangsa sendiri, kita masih bisa hidup relatif tenang. Masih bisa nongkrong di warung, berkumpul dengan keluarga, atau bahkan menonton demonstrasi lewat layar ponsel. Sementara di Gaza, orang-orang menatap kematian setiap hari. Mereka hidup di bawah blokade, dikelilingi puing-puing, dan suara bom bisa datang kapan saja. Bagi mereka, resistance bukan sekadar protes atau simbol, tapi soal bertahan hidup.

Jadi, penulis tidak sedang membandingkan penderitaan. Fokusnya ada pada narasi yang sama, yang tertindas melawan penindas.

Narasi ini punya satu kekuatan lain, yaitu kita bisa dengan mudah menemukan simbol-simbol baru yang bisa mewakili perlawanan. Kadang datang dari kisah lama, kadang dari dunia fiksi yang jauh dari realitas.

Di Indonesia, bulan Agustus lalu, bendera One Piece berkibar di tengah lautan demonstrasi. Luffy dan kru bajak lautnya dipinjam sebagai ikon perlawanan, melawan “World Government” ala dunia nyata, yaitu wakil rakyat yang sibuk berdansa di atas penderitaan majikannya.

Di Palestina, simbol itu menjelma lebih nyata. Puluhan kapal dalam Global Sumud Flotilla, berupaya menembus blokade laut Israel untuk mengantar bantuan kemanusiaan, meski selama lebih dari satu dekade hampir semua misi diintersepsi.

Seolah dunia nyata sedang meminjam imajinasi bajak laut. Kapal-kapal kecil yang berangkat dari berbagai negara, penuh dengan orang biasa, berlayar melawan mesin militer besar yang mencoba menutup jalur kehidupan Gaza. Kalau di manga Luffy bisa menggunakan haki, di kehidupan nyata mereka hanya punya tekad dan doa. Skenario One Piece, tapi dihidupkan dengan daging dan darah.

Bedanya, ini bukan panel komik yang bisa kita tutup ketika si protagonis mengalami kekalahan. Ini kehidupan nyata, di mana setiap tembakan meriam, setiap ancaman peluru tajam, ditujukan pada orang-orang yang tak membawa senjata selain keyakinan. Mereka bukan bajak laut pencari harta, melainkan manusia pencari keadilan.

Mereka tahu kapal mereka mungkin karam, bantuan mungkin disita, tubuh mereka mungkin dipenjara. Namun keberangkatan itu sendiri sudah jadi perlawanan, sebuah pesan lantang bahwa blokade tidak akan pernah mampu mengurung hati nurani manusia.

Dalam setiap zaman, rakyat kecil kerap menemukan dirinya berhadapan dengan kekuasaan yang menindas. Kadang wujudnya pemimpin bak Fir’aun, kadang korporasi serakah, kadang pemerintah yang lupa siapa yang seharusnya mereka layani. Polanya berulang, dan naluri kita, entah sadar atau tidak, condong pada yang melawan kuasa.

Kalau di film, resistance hampir selalu menang. Katniss berhasil mengguncang Capitol, bangsa Na’vi berhasil mengusir kolonialis dari Pandora. Tapi di dunia nyata, jalannya jauh lebih panjang, penuh luka, dan kadang terasa mustahil.

Namun, satu hal yang kita tahu, oppressor tidak pernah bisa jadi protagonis. Tidak peduli seberapa kuat, seberapa kaya, atau canggih senjatanya, posisi mereka tetap di sisi antagonis. Satu hal yang tak pernah berubah: rakyatlah protagonisnya. Mereka yang menanggung penderitaan, mereka pula yang menyalakan harapan. Cepat atau lambat, sejarah akan menutup lembarannya dengan nama-nama mereka yang berani melawan penindasan.

Maka pertanyaannya sederhana, kalau rakyat adalah protagonis, siapa yang berani terus-terusan menjadi Capitol? Siapa yang cukup naif untuk melawan sejarah, padahal sejarah menunjukkan bahwa meski resistance kerap terluka, mereka tak pernah benar-benar padam? DPR-RI?