Konten dari Pengguna

Perempuan dan Rasa Lelah mencari Validasi Orang Tua

Ilustrasi anak perempuan dengan banyak prestasi tapi tidak dilihat. sumber : gemini ai
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak perempuan dengan banyak prestasi tapi tidak dilihat. sumber : gemini ai

Ada lelah yang tidak datang dari pekerjaan, tidak pula dari kegagalan besar. Ia datang dari usaha kecil yang dilakukan berulang kali: berharap diakui oleh orang tua. Bukan pujian berlebihan, hanya satu kalimat sederhana yang berkata, “kami bangga.”

Banyak perempuan tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta orang tua harus diperjuangkan. Nilai bagus, sikap baik, pilihan hidup yang “benar”. Semua dijalani bukan semata karena keinginan sendiri, tetapi karena harapan: semoga kali ini cukup. Semoga kali ini dilihat.

Masalahnya, validasi itu sering tidak pernah benar-benar datang. Atau datang dengan syarat. Bangga, tapi dibandingkan. Mendukung, tapi disertai tuntutan. Perempuan akhirnya belajar bahwa apa pun yang ia capai, selalu ada ruang untuk kurang. Selalu ada versi lain yang seharusnya bisa lebih baik.

Di usia dewasa, pola itu tidak serta-merta hilang. Perempuan tetap bekerja keras, tetap berusaha terlihat berhasil, tetap ingin membuktikan bahwa pilihannya tidak salah. Namun yang dicari bukan lagi sekadar pencapaian, melainkan pengakuan. Bahwa dirinya cukup, bahwa jalannya sah, bahwa hidupnya tidak mengecewakan.

Ironisnya, semakin keras usaha itu, semakin lelah rasanya. Karena validasi orang tua bukan sesuatu yang bisa dipaksa. Ia bukan target yang bisa dicapai dengan checklist keberhasilan. Ketika pengakuan tidak datang, perempuan mulai menyalahkan diri sendiri. Mungkin aku kurang baik. Kurang berbakti. Kurang berhasil.

gambar ilustrasi anak perempuan dengan banyak pertanyaan dan sedih. Sumber : Gemini AI

Banyak perempuan akhirnya hidup dengan dua suara di kepalanya. Suara yang ingin menjalani hidup sesuai kata hati, dan suara lain yang terus bertanya, “orang tua akan bangga atau tidak?” Setiap keputusan terasa berat, karena bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi tentang restu yang belum tentu hadir.

Tidak semua orang tua tahu cara mengekspresikan bangga. Tidak semua mampu mengucapkannya dengan kata-kata. Namun memahami hal itu tidak serta-merta menghilangkan luka. Karena tetap saja, ada bagian dalam diri perempuan yang ingin didengar, ingin dilihat, ingin diakui oleh orang-orang yang paling berarti dalam hidupnya.

Mencari validasi orang tua bukan tanda kelemahan. Ia adalah bukti betapa besar keinginan untuk dicintai tanpa syarat. Namun hidup akan menjadi sangat melelahkan jika seluruh nilai diri digantungkan pada pengakuan yang tidak selalu datang.

Mungkin, pada titik tertentu, perempuan perlu belajar memberi validasi pada dirinya sendiri. Bukan untuk melawan orang tua, tetapi untuk menyelamatkan diri. Mengakui bahwa usahanya nyata, perjuangannya sah, dan hidupnya tetap bernilai bahkan ketika tidak semua orang mampu melihatnya.

Karena pada akhirnya, menjadi anak yang baik tidak seharusnya berarti kehilangan diri sendiri. Dan cinta, seharusnya tidak selalu harus dibuktikan dengan kelelahan.