Berpikir Kritis di Era Digital: Perspektif Psikologi

Zervia merupakan lulusan SMAN 8 Kota Tangerang Selatan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Zervia Mariarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di era digital, informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik. Media sosial dan internet memudahkan kita menemukan berbagai informasi mengenai pendidikan, kesehatan, politik, hingga kehidupan sehari-hari. Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan: tidak semua informasi yang beredar dapat dipercaya. Informasi yang terlihat meyakinkan atau sering muncul belum tentu memiliki dasar fakta yang kuat.
Dalam perspektif psikologi, cara seseorang menilai informasi tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga oleh proses berpikir dan kecenderungan kognitif. Oleh karena itu, berpikir kritis menjadi penting. Kemampuan ini membantu kita menganalisis informasi, mengevaluasi bukti, mempertimbangkan sudut pandang lain, dan menarik kesimpulan secara logis sebelum mempercayai atau menyebarkan suatu informasi.
Mengapa Kita Mudah Mempercayai Informasi?
Salah satu fenomena psikologis yang menjelaskan kecenderungan manusia dalam menilai informasi adalah illusory truth effect, yaitu kecenderungan menganggap suatu pernyataan lebih benar setelah terpapar berulang kali. Informasi yang sering dijumpai terasa lebih familier dan lebih mudah diproses sehingga dapat tampak lebih meyakinkan.
Meta-analisis Dechêne, Stahl, Hansen, dan Wänke (2010) menunjukkan bahwa pengulangan dapat meningkatkan penilaian terhadap kebenaran suatu pernyataan. Temuan ini membantu menjelaskan mengapa informasi yang terus muncul di media sosial dapat dipercaya, meskipun kebenarannya belum diperiksa.
Penelitian Fazio, Brashier, Payne, dan Marsh (2015) juga menunjukkan bahwa pengetahuan sebelumnya tidak selalu membuat seseorang kebal terhadap efek tersebut. Bahkan, orang yang memiliki pengetahuan yang bertentangan dengan suatu pernyataan masih dapat terpengaruh oleh pengulangan informasi. Artinya, mengetahui banyak hal saja tidak selalu cukup; kita juga perlu membiasakan diri mengevaluasi informasi secara kritis.
Faktor lainnya adalah confirmation bias, yaitu kecenderungan untuk lebih memperhatikan atau menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan pribadi. Dalam kajiannya, Nickerson (1998) menjelaskan bahwa bias ini dapat memengaruhi cara seseorang mencari, menafsirkan, dan mengevaluasi bukti.
Sebagai contoh, seseorang yang telah memiliki pandangan tertentu mungkin lebih tertarik membaca informasi yang mendukung pendapatnya daripada informasi yang bertentangan. Akibatnya, ia berisiko memperoleh pemahaman yang tidak utuh mengenai suatu persoalan.
Respons emosional juga dapat memengaruhi cara seseorang menyikapi informasi. Berita yang menimbulkan kemarahan, ketakutan, atau kegembiraan berlebihan dapat mendorong seseorang bereaksi sebelum memeriksa kebenarannya. Dalam situasi seperti ini, kecerdasan emosional, yaitu kemampuan mengenali dan mengelola emosi, dapat membantu seseorang menyadari reaksinya dan memberi waktu untuk berpikir sebelum mengambil keputusan.
Melatih Berpikir Kritis di Tengah Arus Informasi
Berpikir kritis dapat dikembangkan melalui kebiasaan sederhana. Ketika menemukan suatu informasi, kita dapat memulai dengan mempertanyakan sumbernya, memeriksa bukti pendukung, dan membandingkannya dengan sumber lain yang tepercaya. Kita juga perlu membedakan fakta, opini, dan interpretasi agar tidak langsung menganggap setiap pernyataan sebagai kebenaran.
Jika sebuah unggahan mengutip hasil penelitian, misalnya, kita dapat menelusuri publikasi aslinya untuk memahami metode, hasil, dan kesimpulan penelitian tersebut. Sumber seperti jurnal ilmiah, Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), serta lembaga pemeriksa fakta seperti Mafindo dapat menjadi titik awal pencarian informasi. Namun, tanggal publikasi, konteks, dan bukti yang digunakan tetap perlu diperiksa.
Kita juga perlu melatih kebiasaan berhenti sejenak sebelum membagikan informasi, terutama ketika isinya memancing emosi. Tanyakan kepada diri sendiri apakah kita mempercayai informasi tersebut karena didukung bukti atau hanya karena sesuai dengan keyakinan dan perasaan kita. Kebiasaan ini menghubungkan berpikir kritis dengan kecerdasan emosional: kita tidak hanya menilai informasi, tetapi juga mengenali faktor pribadi yang mungkin memengaruhi penilaian tersebut.
Selain itu, kita perlu terbuka terhadap bukti yang berbeda dari pandangan pribadi. Berpikir kritis bukan tentang memenangkan perdebatan atau membuktikan bahwa pendapat sendiri selalu benar, melainkan tentang kesediaan meninjau kembali kesimpulan ketika ditemukan bukti yang lebih kuat.
Menjadi Lebih Cermat, Bukan Sekadar Lebih Cepat
Berpikir kritis bukan berarti meragukan semua informasi atau menganggap setiap sumber tidak dapat dipercaya. Kita memang tidak mungkin memeriksa setiap informasi secara mendalam. Namun, informasi yang berkaitan dengan kesehatan, keselamatan, dan keputusan penting perlu mendapat perhatian lebih karena kesalahan dalam memahaminya dapat menimbulkan dampak nyata.
Psikologi membantu kita memahami mengapa manusia dapat terpengaruh oleh pengulangan informasi, keyakinan pribadi, dan respons emosional. Sementara itu, berpikir kritis membantu kita mengevaluasi informasi berdasarkan bukti, dan kecerdasan emosional dapat mendukung kemampuan kita untuk menyikapi informasi dengan lebih tenang.
Di tengah derasnya arus informasi, tantangannya bukan sekadar memperoleh informasi, melainkan menentukan mana yang layak dipercaya. Menjadi pengguna digital yang bijak bukan berarti mengetahui segalanya, tetapi memiliki kemauan untuk memeriksa fakta, mempertimbangkan bukti, dan memperbaiki pemahaman ketika menemukan informasi baru.
