Rela Menantang Maut : Kisah Dibalik Keindahan Pantai Parangtritis

Saya mahasiswa semester 5 di Universitas Aisiyah Yogyakarta jurusan Ilmu Komunikasi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Zeta Izzatul Mahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Parangtritis, Yogyakarta – Di balik pesona Pantai Parangtritis yang memikat, terdapat sosok-sosok yang jarang mendapat perhatian, yang memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan para pengunjung. Mereka senantiasa menatap laut tanpa berpaling untuk memastikan wisatawan aman dalam pengawasan. Para penjaga pantai, yang dengan penuh dedikasi memastikan wisatawan dapat menikmati keindahan alam tanpa terganggu oleh bahaya yang mengintai.

Tak jarang pengunjung hanya melihat mereka sebagai penjaga pantai yang hanya duduk di atas menara pengawas atau berjalan-jalan di sepanjang bibir pantai. Namun, pekerjaan mereka jauh lebih berat dan berisiko daripada yang terlihat oleh mata. Siap sedia dalam situasi darurat, para penjaga pantai memiliki tanggung jawab besar yang sering kali terlupakan.
Menjaga Keselamatan dalam Diam
Sehari-hari, penjaga pantai di Parangtritis berhadapan dengan kondisi alam yang tidak selalu ramah. Ombak yang besar dan angin yang kencang selalu datang tanpa peringatan. Namun mereka tetap siaga sepanjang hari, memantau gerak-gerik pengunjung, dan memberikan peringatan dini kepada mereka yang terlalu dekat dengan bibir pantai.
Rambu-rambu didirikan di sepanjang bibir pantai untuk memberi tanda akan adanya palung laut, segala cara mereka lakukan untuk tetap memastikan zona aman ketika berada dekat dengan gelombang pantai.
"Kadang, kami harus menghadapi ombak yang sangat besar dan arus yang kuat, tapi tugas kami adalah menjaga keselamatan pengunjung. Kami selalu membagi menjadi beberapa tim untuk berjaga di batas-batas palung yang diberi tanda. Jika ada yang terlihat seperti terseret arus, kami harus segera bertindak," ujar Cahyono, seorang penjaga pantai yang telah bertugas di Parangtritis selama lebih dari tiga tahun. "Banyak yang masih mengabaikan peringatan, padahal setiap peringatan yang kami berikan adalah cara menjaga mereka."
Parangtritis, dengan pemandangannya yang mempesona dan ombak yang menggulung, sudah menjadi destinasi favorit bagi wisatawan. Namun, keindahan itu menyimpan tantangan tersendiri bagi mereka yang berjaga di sana.
"Saat liburan, jumlah pengunjung bisa meningkat tajam. Kami harus ekstra hati-hati, karena kecelakaan bisa terjadi kapan saja, bahkan terakhir ini ada korban jiwa yang terseret ombak saat libur lebaran. Ada 2 orang korban dari Semarang dan Banjarnegara, korban dari Banjarnegara berhasil ditemukan, sempat kritis tapi akhirnya meninggal. Lalu korban dari Semarang sampai saat ini tidak ditemukan," tambah Cahyono.
Serpihan Cerita yang Tak Terungkap
Pekerjaan penuh risiko yang mereka jalani sering kali terlupakan, nama-nama mereka jarang terangkat, dan seringkali pengunjung pantai lebih fokus pada keindahan alam daripada memahami perjuangan mereka. Padahal, setiap tindakan mereka berharga dan bisa jadi penyelamat nyawa.
"Saya malah baru tahu, ternyata di pantai ini ada yang menjaga. Dan masalah rambu-rambu yang ada juga ga terlalu kelihatan ya karena rame wisatawan dan banyak pedagang di sekitar. Jadi sering bingung mana zona aman dan mana zona palung laut,” ujar Parmi salah satu wisatawan.
Pengunjung sering kali abai ketika sudah asik bermain dengan air dan pasir. Mereka tidak lagi memperhatikan rambu bahaya di sekitarnya, mereka tidak memperdulikan dirinya sendiri. Padahal, segala upaya dilakukan penjaga pantai untuk keselamaatan mereka. Sungguh naas, kurangnya edukasi berakibat banyaknya korban jiwa. Padahal, hari libur yang seharusnya penuh tawa riang bisa mendatangkan bencana. Pantai akan selalu indah bagi mereka yang bisa menikmatinya, tapi pantai juga bisa menyisakan trauma bagi mereka yang melihat dari kegelapannya.
Suara ombak yang menghantam di tengah hiruk pikuk seolah menjadi latar yang membisukan kisah para penjaga pantai. Mereka bukan hanya penjaga fisik, tetapi juga penjaga jiwa—jiwa para wisatawan yang datang mencari ketenangan.
Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang setiap hari merelakan waktu dan tenaga untuk menjaga keselamatan orang lain, meski sering kali tidak mendapat pengakuan atas pengorbanan mereka.
Harapan demi harapan mereka sampaikan agar masyarakat lebih menghargai keberadaan mereka dan mematuhi rambu bahaya yang mereka buat. Melalui pelatihan dan peningkatan fasilitas yang lebih baik, mereka ingin bisa memberikan pelayanan yang lebih maksimal untuk wisatawan yang datang. Namun, lebih dari itu, mereka juga berharap agar para wisatawan bisa lebih menghargai keselamatan mereka sendiri, dengan lebih mematuhi peraturan yang ada dan memperhatikan tanda peringatan yang sering mereka berikan.
"Keamanan pantai adalah tanggung jawab bersama. Kami di sini untuk menjaga, tapi pengunjung juga harus menjaga diri mereka sendiri, patuhi rambu bahaya yang ada. Kami sudah meletakkan rambu di sepanjang bibir pantai, ada bendera yang berdiri tegak menunjukkan adanya palung laut dan zona tidak aman. Jika ingin mendekat ke gelombang air laut maka pilihlah tempat yang ada tanda amannya," pesan Cahyono, mengingatkan.
Sebagai wisatawan, kita datang untuk menikmati keindahan, namun tak pernah sepenuhnya menyadari ada jiwa-jiwa yang diam menjaga kita. Sebuah pengorbanan yang tak pernah tercatat dalam cerita perjalanan, namun begitu penting untuk dimaknai.
Dengan setiap hembusan angin yang membawa aroma laut, biarlah kita ingat bahwa di balik kebebasan menikmati lautan ini, ada tangan-tangan yang setia menjaga.
