Switch Accounts sebagai Media Konstruksi Identitas Sosial Generasi Z

I am a Sociology Education student at Universitas Negeri Jakarta that interested in social issues and passionate about learning how education can improve society.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Zevanya Natasha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di era modern ini, Instagram tidak lagi sekadar berfungsi sebagai media komunikasi antarpengguna, tetapi telah berkembang menjadi ruang strategis bagi individu untuk menampilkan citra diri di hadapan publik. Platform ini menawarkan berbagai fitur yang memungkinkan penggunanya membangun dan mengatur kesan yang ingin mereka tampilkan kepada audiensnya. Generasi Z, sebagai kelompok usia yang paling aktif di media sosial, memanfaatkan Instagram bukan hanya untuk berbagi aktivitas keseharian, tetapi juga untuk membangun identitas digital. Sebagai contoh, perempuan yang senang membagikan foto dirinya atau laki-laki yang rutin memposting momen nongkrong di kedai kopi modern bersama teman-temannya, menjadi gambaran nyata bagaimana media sosial digunakan sebagai media pencitraan.

Fenomena ini menarik perhatian karena Instagram kini lebih banyak didominasi oleh pengguna perempuan. Uniknya, banyak dari mereka, terutama yang berasal dari kalangan generasi milenial dan Z, memiliki lebih dari satu akun di platform tersebut. Munculnya istilah seperti "first account" dan "second account" menjadi istilah yang tidak asing di kalangan pengguna aktif Instagram. First account merujuk pada akun utama yang digunakan untuk merepresentasikan pemiliknya sebagai sosok ideal dengan tetap mempertahankan identitas pribadinya. Konten yang diunggah di akun ini biasanya berupa foto atau video yang telah melalui proses seleksi dan editing, menggambarkan momen-momen terbaik bersama teman, pasangan, atau kunjungan ke tempat-tempat menarik. Karena bersifat publik, akun utama biasanya diikuti oleh banyak orang dari berbagai kalangan, mulai dari keluarga, rekan kerja, hingga teman sekolah, sehingga pemilik akun berusaha menampilkan citra diri yang baik dan sesuai standar sosial.
Sementara itu, second account atau akun kedua hadir sebagai ruang alternatif yang lebih personal dan eksklusif. Berbeda dengan akun utama, akun ini memungkinkan penggunanya menampilkan sisi diri yang lebih autentik dan apa adanya. Di sini, mereka bebas membagikan konten tanpa tekanan untuk terlihat sempurna. Mulai dari unggahan foto dengan kualitas seadanya, video lucu, hingga curahan hati yang tidak dapat diungkapkan di akun utama. Biasanya, pengikut di akun kedua ini sangat terbatas dan terdiri dari orang-orang terdekat yang dipilih secara selektif. Fenomena memiliki dua akun ini menjadi strategi bagi pengguna untuk memisahkan citra publik dan privat, sekaligus sebagai cara untuk menjaga privasi di dunia digital.
Jika ditelaah melalui perspektif sosiologi, fenomena ini sangat relevan dengan teori dramaturgi yang dikembangkan oleh Erving Goffman pada tahun 1959 dalam karyanya yang berjudul "The Presentation of Self in Everyday Life." Goffman, seorang sosiolog abad ke-20, menggambarkan interaksi sosial layaknya sebuah pertunjukan teater, di mana individu memainkan peran tertentu di hadapan audiensnya. Dalam kerangka dramaturgi, kehidupan sosial dianalogikan sebagai panggung pertunjukan, sementara individu adalah aktor yang memerankan karakter tertentu sesuai dengan situasi dan ekspektasi sosial yang ada.
Dalam konsep ini, terdapat dua wilayah utama, yakni front stage (panggung depan) dan back stage (panggung belakang). Front stage merupakan area di mana individu menampilkan peran formal di hadapan orang lain. Di sini, individu berupaya menunjukkan citra terbaiknya, menyesuaikan perilaku, gaya berbicara, dan penampilan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Dalam konteks Instagram, first account dapat diibaratkan sebagai front stage, di mana pemilik akun menampilkan diri sebagai pribadi yang ideal, sesuai standar sosial yang diterima secara luas. Konten yang diunggah melalui akun ini telah dipilih dan disusun sedemikian rupa untuk membangun kesan positif di mata publik.
Sebaliknya, back stage merupakan area di mana individu bebas mengekspresikan diri tanpa tekanan norma sosial. Di ruang ini, individu dapat bersikap santai, menunjukkan karakter aslinya, dan melakukan aktivitas yang tidak ingin diketahui oleh publik luas. Second account menjadi representasi dari back stage di dunia digital. Di akun ini, pengguna lebih jujur terhadap dirinya sendiri, berbagi keluh kesah, candaan, atau konten yang bersifat pribadi hanya kepada orang-orang terdekat. Mereka tidak perlu khawatir akan penilaian negatif dari audiens yang lebih luas karena audiens di second account telah diseleksi sebelumnya.
Lebih lanjut, Goffman juga membagi panggung depan ke dalam dua elemen penting, yaitu setting (tata ruang) dan personal front (penampilan diri). Setting merujuk pada tempat di mana peran dimainkan. Dalam konteks ini, Instagram sebagai media sosial dengan berbagai fitur seperti editing, filter, dan opsi privasi menjadi setting yang memfasilitasi pengguna dalam memainkan perannya. Sementara personal front mencakup segala atribut yang melekat pada diri individu saat tampil di panggung depan, seperti cara berpakaian, gaya berbicara, hingga konten visual yang dipilih untuk dipublikasikan. Dalam Instagram, hal ini tercermin melalui pemilihan foto terbaik, caption yang menarik, serta pengaturan feed agar terlihat harmonis dan estetis.
Penampilan diri atau personal front kemudian dibagi menjadi dua komponen, yaitu appearance (penampilan fisik) dan manner (gaya interaksi). Appearance berkaitan dengan atribut yang digunakan saat memainkan peran, misalnya pakaian, aksesori, atau gaya rambut. Manner merujuk pada sikap dan cara individu berinteraksi dengan audiensnya. Di Instagram, kedua aspek ini sangat kentara terlihat dalam konten yang diunggah pengguna, mulai dari gaya busana, lokasi foto, hingga cara berkomunikasi melalui caption atau story.
Di sisi lain, back stage atau kamar rias adalah tempat di mana individu bisa bersiap, beristirahat, dan menunjukkan karakter aslinya tanpa takut dinilai oleh orang lain. Dalam konteks Instagram, second account menjadi ruang di mana pengguna bisa lebih leluasa menampilkan sisi pribadinya. Di sini, mereka dapat membagikan pengalaman sehari-hari tanpa filter, berbicara lebih jujur tentang perasaan, atau bahkan membagikan hal-hal yang bersifat lucu, aneh, atau emosional yang tidak pantas ditampilkan di akun utama. Ruang ini penting karena menjadi media bagi individu untuk mengekspresikan identitas sejatinya.
Beberapa penelitian terdahulu telah membahas fenomena serupa. Pada tahun 2020, Arnold Inka Pratama Lumban Gaol melakukan penelitian berjudul "Analisis Konsep Dramaturgi Dalam Akun Alter Ego Media Sosial Instagram." Penelitian tersebut menggunakan pendekatan fenomenologis dengan melibatkan tiga orang informan yang memiliki akun alter ego. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan di balik keputusan pemilik akun alter ego dalam menyembunyikan informasi tertentu dari audiensnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para informan menggunakan akun alter ego sebagai media untuk menampilkan diri sebagai individu yang berbeda dari persona di akun utama.
Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Intris Restuningrum Pamungkas dan Nuriyatul Lailiyah pada tahun 2019 dengan judul "Presentasi Diri Pemilik Dua Akun Instagram Di Akun Utama Dan Akun Alter" juga mengungkapkan temuan serupa. Penelitian ini berhasil membedah bagaimana pemilik akun membedakan panggung depan dan panggung belakang di media sosial, serta kecemasan yang dirasakan saat harus menjaga citra di akun utama. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa pada akun utama, pemilik akun berusaha membangun citra ideal dan menghindari unggahan yang terlalu personal. Sementara di akun alter, mereka lebih bebas menampilkan ekspresi diri yang sebenarnya tanpa takut akan stigma sosial.
Fenomena penggunaan multiple account ini juga berkaitan dengan isu kesehatan mental. Generasi Z yang sangat akrab dengan dunia digital rentan mengalami tekanan psikologis. Dian R. Sawitri, Guru Besar Psikologi Universitas Diponegoro, menjelaskan bahwa media sosial menciptakan ilusi kehidupan sempurna. Pengguna kerap kali hanya menampilkan sisi positif kehidupannya, sementara kenyataan yang mereka alami bisa sangat berbeda. Ketidaksesuaian ini dapat menimbulkan perasaan tidak puas terhadap diri sendiri dan memicu masalah mental seperti kecemasan hingga depresi jika individu merasa hidupnya tidak sesuai dengan "standar baru" di media sosial.
Lebih jauh, konten negatif dan perbandingan sosial yang tidak sehat dapat menyebabkan penurunan kepercayaan diri. Media sosial juga berpotensi menjadi sumber distraksi dan kecanduan, khususnya bagi Gen Z yang sangat terhubung dengan gadget. Karakteristik generasi digital ini terlihat dari kecenderungan memiliki lebih dari satu kepribadian di dunia maya. Dian menegaskan bahwa kecenderungan Gen Z untuk memiliki second account guna menampilkan kepribadian asli mereka merupakan indikasi adanya masalah kepercayaan diri dan kebutuhan akan ruang aman di dunia digital.
Melihat kenyataan bahwa Gen Z kini menempati sekitar 29 persen populasi Indonesia, keberadaan mereka sebagai generasi penerus bangsa menjadi sangat penting. Oleh karena itu, penting bagi generasi ini untuk tidak hanya terbiasa dengan dunia digital, tetapi juga memiliki kecakapan literasi digital yang memadai. Dengan demikian, mereka dapat lebih bijak dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana berekspresi sekaligus menjaga kesehatan mental serta membangun identitas diri yang sehat di dunia maya.
