Konten dari Pengguna

Mengapa Anak Pertama Selalu Terlihat Lebih Dewasa dari Usianya?

Zhafira Fauzani K

Zhafira Fauzani K

Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zhafira Fauzani K tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi kakak dan adik (sumber: pexels/Gustavo Fring)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi kakak dan adik (sumber: pexels/Gustavo Fring)

Pernahkah anda sadari kalau anak pertama dalam keluarga biasanya terlihat lebih dewasa dibanding usianya? Mereka sering dianggap paling bertanggung jawab, lebih serius, dan sejak kecil sudah terbiasa menjadi andalan keluarga. Bahkan, banyak anak sulung yang tanpa sadar tumbuh dengan perasaan harus selalu kuat, menjadi contoh yang baik, dan tidak boleh gagal.

Kalau kamu merasakan hal itu, ternyata itu bukan sekadar perasaan saja. Dalam psikologi, terdapat penjelasan ilmiah yang cukup panjang tentang bagaimana posisi anak dalam urutan kelahiran bisa memengaruhi pembentukan kepribadian seseorang.

Pengaruh Urutan Kelahiran

Sejak lebih dari seratus tahun lalu, psikolog asal Austria bernama Alfred Adler sudah membahas bahwa posisi anak di dalam keluarga bukan cuma soal siapa yang lahir duluan. Menurut Adler, urutan kelahiran punya pengaruh besar terhadap perjalanan hidup seseorang, mulai dari cara bersosialisasi sampai perkembangan kariernya. Menariknya, Adler tidak menghubungkan hal ini dengan genetika ataupun takdir. Fokus utamanya justru ada pada dinamika dalam keluarga. Walaupun tinggal di rumah yang sama, setiap anak sebenarnya mengalami “versi keluarga” yang berbeda.

Pada anak pertama misalnya, karena lahir saat orang tua masih berada di fase belajar menjadi ayah dan ibu, semua hal jadi masih terasa baru bagi mereka Sehingga orang tua biasanya lebih hati-hati, protektif, serta lebih fokus pada perkembangan si sulung. Hampir setiap pencapaian dirayakan dan setiap tangisan direspon dengan cepat. Namun, situasinya mulai berubah ketika adik lahir. Orang tua sudah mulai lebih santai karena memiliki pengalaman sebelumnya. Namun di sisi lain, anak pertama harus mulai berbagi perhatian yang sebelumnya hanya tertuju pada dirinya.

Saat Posisi Anak Sulung Mulai Bergeser

ilustrasi lahirnya adik (sumber: pexels/Jonathan Borba)

Terdapat penelitian yang menyebutkan bahwa masa ketika anak pertama masih menjadi anak tunggal dianggap cukup menguntungkan secara psikologis. Mereka mendapatkan perhatian penuh dari orang tua, lebih sering diajak berkomunikasi, dan biasanya mulai dilatih untuk mandiri lebih awal. Tetapi keadaan berubah saat adik lahir dan hadir menjadi orang baru di tengah-tengah keluarga. Adler menyebut fase ini sebagai dethronement, atau “penggulingan takhta”. Ibarat seorang pangeran yang tiba-tiba harus berbagi kerajaan yang tadinya hanya ia miliki seorang diri.

Perubahan itu ternyata bisa memunculkan kecemasan dan ketidakstabilan emosi pada anak pertama. Bahkan, di beberapa anak akan menunjukkan perilaku regresi, yaitu kembali bersikap seperti anak kecil demi memperoleh perhatian dari orang tua nya lagi. Meski begitu, dari tekanan inilah banyak karakter khas anak sulung yang akhirnya terbentuk.

Karakter Anak Sulung yang Sering Muncul

Berdasarkan penelitian Adler dan beberapa studi, anak pertama cenderung memiliki pola kepribadian tertentu yang cukup konsisten.

1. Bertanggung Jawab dan Mudah Diandalkan

Anak pertama biasanya mendapat ekspektasi yang lebih besar dibanding saudara lainnya. Sejak remaja, mereka sering diberi tanggung jawab di rumah, mulai dari menjaga adik, membantu pekerjaan rumah, sampai ikut terlibat dalam keputusan keluarga. Banyak dari anak pertama juga mulai merasa memiliki peran penting dalam keluarga ketika mereka diberi tanggung jawab sejak dini, seperti terbiasa mengantar jemput adik, membentuk mengerjakan PR, sampai mengambil peran sebagai “kepala keluarga sementara” ketika orang tua sedang tidak ada di rumah.

2. Ambisius dan Berorientasi pada Prestasi

Anak pertama juga cenderung tumbuh menjadi pribadi yang ambisius. Hal ini tidak lepas dari pola pengasuhan orang tua yang biasanya lebih fokus pada perkembangan anak pertama. Mereka lebih sering dipantau, diarahkan, dan didorong untuk berkembang. Oleh karena itu, rasa tanggung jawab dan dorongan untuk berprestasi pada anak sulung sering kali lebih tinggi

3. Lebih Mudah Cemas dan Perfeksionis

Di balik kesan kuat dan dewasa, anak pertama ternyata juga menyimpan tekanan yang cukup besar. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mereka memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibanding adik-adiknya. Standar tinggi yang diberikan orang tua, ditambah tuntutan dari diri sendiri, sering membuat anak sulung tumbuh menjadi perfeksionis. Mereka takut gagal karena terbiasa merasa harus menjadi contoh yang baik untuk adik-adiknya.

"Aku Tidak Punya Pilihan Selain Jadi Kuat"

Salah satu temuan menarik dari penelitian Biruny & Latipun (2021) di Indonesia adalah bagaimana anak pertama memaknai perannya di dalam keluarga. Dalam penelitian tersebut, beberapa partisipan mengaku sejak kecil sudah terbiasa memikul tanggung jawab yang sebenarnya terasa berat. Ada yang awalnya merasa terpaksa, tetapi lama-kelamaan menyadari bahwa pengalaman itu membentuk kedewasaan mereka. Sebagian merasa bangga karena dipercaya oleh orang tua untuk ikut berdiskusi dalam urusan keluarga. Namun, ada juga yang justru merasa kurang didengar sehingga perlahan kehilangan rasa percaya diri.

Hal lain yang cukup sering muncul adalah peran anak sulung sebagai “orang tua kedua” bagi adiknya. Sebab usia mereka yang tidak terlalu jauh, sang adik juga biasanya merasa lebih nyaman untuk bercerita kepada kakaknya dibanding kepada orang tua. Akhirnya, anak pertama tanpa sadar menjadi tempat curhat, penengah konflik, sekaligus pelindung bagi saudara-saudaranya

Antara Tekanan dan Keuntungan

Menjadi anak pertama memang seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, mereka mendapatkan perhatian lebih banyak di awal kehidupan, memperoleh stimulasi intelektual yang lebih besar, dan tumbuh dengan rasa tanggung jawab yang kuat. Beberapa penelitian bahkan menemukan bahwa anak pertama rata-rata memiliki IQ sedikit lebih tinggi dibanding saudara yang lahir setelahnya. Salah satu penyebabnya adalah karena mereka sering berperan sebagai “pengajar” bagi adik-adiknya, yang secara tidak langsung membantu mengasah kemampuan berpikir mereka.

Namun di sisi lain, anak pertama juga sering memikul ekspektasi yang berat. Mereka menjadi percobaan pertama dalam pola pengasuhan orang tua, Aturan yang diterapkan biasanya juga lebih ketat dibanding kepada adik-adiknya. Akibatnya, tidak sedikit anak sulung yang tumbuh terlalu keras pada dirinya sendiri, sangat bergantung pada penilaian orang lain, dan kesulitan meminta bantuan ketika sedang lelah.

Apa yang Bisa Kita Pahami dari Semua Ini?

Bagi orang tua, penting untuk menyadari bahwa anak pertama tetaplah seorang anak, bukan “asisten” dalam keluarga. Memberikan tanggung jawab memang penting, namun porsinya tetap perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi mereka. Selain itu, anak pertama juga tetap perlu diberi ruang untuk didengar, bukan hanya dituntut untuk selalu kuat dan mengalah.

Bagi para anak sulung, rasa peduli dan tanggung jawab yang dimiliki memang merupakan kekuatan yang besar. Tetapi bukan berarti harus selalu terlihat kuat dan sempurna. Tidak apa-apa untuk merasa lelah, meminta bantuan, ataupun sesekali merasakan kegagalan. Menjadi anak pertama berarti berada selangkah lebih dulu dibandingkan adik-adiknya, lebih dulu belajar memahami keadaan, lebih dulu menghadapi kegagalan, dan lebih dulu bangkit setelah jatuh. Dan dari semua yang sudah terjadi, kamu sudah melakukan lebih dari cukup.

Pada akhirnya, memahami dinamika urutan kelahiran bukan bertujuan untuk memberikan label pada seseorang. Hal yang lebih penting justru bagaimana pemahaman tersebut bisa membantu kita untuk membangun empati, baik terhadap diri sendiri maupun anggota keluarga lainnya, serta saling mengerti bahwa setiap orang tumbuh dengan pengalaman dan beban yang berbeda-beda.

___________________________________________________________________

Ditulis oleh:

Zhafira Fauzani Karima dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog.