Konten dari Pengguna

Mahasiswa KKN UMY Tingkatkan Literasi Numerik Siswa SDN Proman Lewat Alat Peraga

Alya Zhurifa

Alya Zhurifa

Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alya Zhurifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Yogyakarta, (31/05/2025) - Salah satu tantangan krusial dalam pendidikan dasar di Indonesia adalah rendahnya tingkat literasi numerik siswa. Literasi numerik bukan sekadar kemampuan berhitung, melainkan mencakup pemahaman konsep matematika serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan ini menjadi fondasi penting dalam membangun pola pikir logis, keterampilan analitis, hingga kemampuan pemecahan masalah bagi setiap individu.

Data dari Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa Indonesia masih berada di peringkat 69 dari 80 negara dalam aspek literasi numerik. Rendahnya capaian ini seringkali dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang monoton serta minimnya penggunaan media pembelajaran yang konkret seperti alat peraga.

Kondisi ini tercermin jelas di SD Negeri Proman, Dusun Teganing 1, Kelurahan Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekolah dasar yang terletak di kawasan perbukitan Menoreh ini, masih menghadapi keterbatasan fasilitas belajar, termasuk minimnya alat bantu pembelajaran matematika. Hasil wawancara kami menunjukkan bahwa proses belajar-mengajar masih didominasi metode ceramah dan latihan soal konvensional. Akibatnya, siswa kurang termotivasi dan kesulitan memahami materi secara mendalam, menjadikan matematika sebagai pelajaran yang dianggap sulit dan menakutkan.

“Cukup sulit untuk mengubah pola pikir siswa bahwa matematika menyenangkan, kebanyakan siswa takut dengan pelajaran matematika dan juga kemampuan dasar siswa yang sulit untuk memahami materi pembelajaran, lalu kurangnya alat peraga juga menjadi penghambat dalam belajar,” ungkap Aning Promanti, salah seorang Guru SD Negeri Proman.

Dilatarbelakangi oleh kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kelompok 104 berinisiatif membentuk program pemberdayaan bertajuk “Peningkatan Literasi Numerik Melalui Penggunaan Alat Peraga Matematika” yang berlangsung pada 13 Februari 2025 - 21 Februari 2025 di SD Negeri Proman, Dusun Teganing 1, Kelurahan Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan numerik siswa, tetapi juga mendorong transformasi metode pembelajaran guru melalui pendekatan yang lebih interaktif dan menyenangkan.

Sosialisasi dan Pelatihan Alat Peraga Matematika. Sumber : Dokumentasi Tim 104 KKN UMY 2025

Program diawali dengan sosialisasi dan pengenalan alat peraga matematika kepada siswa, guru, dan wali murid. Dalam kegiatan ini, Drs. Bambang Wahyu Nugroho, M.A., selaku dosen pembimbing KKN UMY Kelompok 104 sekaligus narasumber, menjelaskan fungsi dan cara penggunaan berbagai alat peraga seperti papan pecahan, tali pas, model peraga jam, bangun datar serta bangun ruang yang disesuaikan dengan kurikulum dasar. Sosialisasi ini bertujuan untuk mengenalkan konsep dasar penggunaan alat peraga sekaligus menekankan pentingnya penerapan metode pembelajaran interaktif dalam pembelajaran matematika.

Pelatihan Penggunaan Alat Peraga Kepada Siswa. Sumber : Dokumentasi Tim 104 KKN UMY 2025.

Program kemudian berlanjut dengan pelatihan penggunaan alat peraga bagi siswa. Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKN menjelaskan konsep-konsep dasar matematika menggunakan alat peraga yang tersedia. Proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada pemahaman konsep, tetapi juga melatih keterampilan berpikir kritis dan kolaborasi antar siswa. Mahasiswa berperan sebagai fasilitator sekaligus pendamping selama kegiatan berlangsung. Untuk memaksimalkan efektivitas program ini, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja.

Pendampingan pembuatan alat peraga siswa. Sumber : Dokumentasi Tim 104 KKN UMY 2025.

Setelah itu dilakukan proses pendampingan oleh mahasiswa KKN dalam menyelesaikan proyek alat peraga masing-masing siswa. Mahasiswa KKN mendampingi mulai dari pembuatan alat peraga hingga uji coba penggunaan alat yang dibuat siswa serta memastikan pemahaman konsep matematika yang mendasari setiap karya yang dibuat. Alat peraga ini dibuat menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah didapatkan seperti kardus, tusuk sate hingga karton. Proses ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas dan kerjasama tim di kalangan siswa.

Penilaian hasil proyek alat peraga matematika siswa. Sumber : Dokumentasi Tim 104 KKN UMY 2025.

Setelah seluruh kelompok siswa berhasil menyelesaikan proyek alat peraga, program ini mencapai puncaknya melalui penyelenggaraan Festival Alat Peraga Matematika. Dalam festival tersebut, setiap karya siswa dipamerkan di stand-stand yang telah disediakan dan dinilai langsung di hadapan guru serta wali murid yang hadir. Festival ini tidak hanya menjadi penutup rangkaian kegiatan, tetapi juga menjadi bukti bahwa pembelajaran matematika dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan serta mampu mendorong daya kreatif siswa.

Hasil proyek alat peraga matematika siswa. Sumber : Dokumentasi Tim 104 KKN UMY 2025.

Selama kegiatan ini, para siswa menunjukkan antusiasme yang cukup tinggi. Banyak siswa yang mulai menunjukkan minat dan inisiatif dalam mempelajari materi hingga menjelaskan cara kerja maupun prinsip alat peraga yang mereka buat.

Kesan positif juga datang dari Ibu Sugiyati, selaku wali murid dari salah satu siswa. Menurutnya, program ini dapat membuat anak menjadi lebih kreatif dan membantu meningkatkan kemampuan anak dalam belajar matematika.

“Program ini sangat bagus dan baik sekali dalam meningkatkan kemampuan anak dalam belajar matematika terutama membantu anak lebih kreatif. Saya juga terkesan dengan hasil alat peraga yang dibuat, ternyata mereka dapat membuat alat pelajaran (peraga) matematika sendiri walaupun dengan bahan sederhana,” ujar Sugiyati.

Dengan demikian, program ini menjadi langkah nyata menjawab kebutuhan akan inovasi pembelajaran, yang hal itu sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2022 tentang Standar Nasional Pendidikan yang salah satunya mendorong pemanfaatan alat peraga untuk mencapai tujuan pembelajaran di sekolah.

Tentunya, kami berharap program ini tidak berhenti pada kegiatan kuliah kerja nyata semata, tetapi dapat diadopsi lebih luas oleh sekolah-sekolah di daerah lain, terutama wilayah terpencil yang menghadapi tantangan serupa. Melalui model pembelajaran yang lebih interaktif, kreatif, dan berbasis pengalaman langsung, peningkatan literasi numerik siswa di Indonesia akan dapat diwujudkan bersama.