Konten dari Pengguna

Jogja Memanggil: Indonesia Gelap, Darurat Pendidikan di Jantung Kota

Zidane Azharian Kemal Pasha
Direktur Eksekutif Voicedlawid, Ketua Umum DPM Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta, Kader PK IMM Achmad Yani, Kader Permahi Yogyakarta.
26 Februari 2025 12:24 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Zidane Azharian Kemal Pasha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Zidane Azharian KemalPasha (Foto:istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Zidane Azharian KemalPasha (Foto:istimewa)
ADVERTISEMENT
Malam ini, Yogyakarta tidak secerah biasanya. Dari parkiran Abu Bakar hingga jalan Malioboro, cahaya lampu kota seakan meredup, menyingkap realitas yang lebih suram di balik tembok-tembok pendidikan. Ratusan mahasiswa dan masyarakat tumpah ruah, bukan untuk merayakan, tetapi untuk bersuara-menyuarakan kegelisahan tentang wajah pendidikan Indonesia yang semakin gelap.
ADVERTISEMENT
Di kota yang dikenal sebagai pusat intelektual dan kebudayaan, ironi besar hadir di tengah gemerlapnya wisata dan peradaban. Pendidikan, yang seharusnya menjadi mercusuar kemajuan, kini justru menjadi barang mahal yang sulit dijangkau oleh banyak orang. Kebijakan yang tidak berpihak, biaya pendidikan yang semakin tinggi, serta akses yang terbatas bagi kelompok marginal, menjadi wajah buram dari negeri yang katanya menjunjung tinggi pendidikan untuk semua.
Spanduk Rakyat Berdaulat (Foto:istimewa)

Pendidikan, Hak atau Privilege?

Gerakan "Jogja Memanggil" kali ini bukan hanya sekadar aksi turun ke jalan, tetapi juga sebuah refleksi bersama, masihkah pendidikan menjadi hak semua orang, atau kini hanya menjadi privilege bagi mereka yang mampu? Biaya pendidikan terus meroket, sementara kesejahteraan tenaga pendidik masih jauh dari layak. Ketimpangan ini semakin memperjelas bahwa pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja.
ADVERTISEMENT
Di antara lautan massa, suara-suara nyaring menggema, menuntut perubahan sistemik. "Pendidikan bukan untuk diperdagangkan!" seru seorang mahasiswa dari atas panggung orasi. Fakta di lapangan menunjukkan semakin banyak institusi pendidikan yang berorientasi bisnis, melupakan esensi utamanya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Gerakan ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta, hingga kelompok masyarakat seperti PKL Malioboro, orang tua yang melawan, perempuan yang melawan, serta pertunjukan pentas seni oleh ISI yang mengangkat tema "Makan Siang Gratis." Kehadiran mereka adalah bukti bahwa perjuangan pendidikan tidak hanya milik akademisi, tetapi juga milik masyarakat luas yang merasakan langsung dampaknya.
Masa Aksi Jogja Memanggil (Foto:istimewa)

Menyalakan Cahaya di Tengah Kegelapan

Jalan Malioboro yang biasanya dipenuhi wisatawan malam itu berubah menjadi simbol perlawanan. Lilin-lilin kecil dinyalakan sebagai bentuk solidaritas dan harapan bahwa masih ada secercah cahaya di tengah gelapnya kondisi pendidikan di Indonesia. Tuntutan transparansi dan akses yang lebih adil menggema, mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar angka-angka dalam laporan keuangan, melainkan tentang membangun manusia yang utuh dan berdaya.
ADVERTISEMENT
Yogyakarta, kota yang sejak dulu dikenal sebagai kota pelajar, kembali mengajarkan kita bahwa perjuangan belum usai. Indonesia memang sedang gelap, tetapi selama masih ada yang berani bersuara, masih ada harapan.
"Jika Achilles sampai akhir hayatnya ingin dikenang sebagai seorang yang gagah dan berani, maka aku ingin dikenang sebagai seseorang yang memperjuangkan nilai-nilai humanis."
Zidane Azharian KemalPasha, Mahasiswa Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta.