Parasocial Relationship: Hubungan Satu Sisi dengan Idola
Tulisan dari Zidna Ilma Nafia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang tidak asing lagi dengan boy group asal Korea Selatan yang bernama BTS atau SEVENTEEN? Atau girl group dengan asal yang sama bernama Blackpink? Ketiga nama ini tentunya sangat familiar di telinga masyarakat umum sekarang, terutama di kalangan para penggemar K-pop. Tidak sedikit remaja masa sekarang yang menggemari dan mengidolakan ketiga grup bertalenta asal Korea Selatan ini. Siapa pula yang tidak mengenal artis asal tanah air yang menjadi salah satu serial yang banyak ditonton melalui platform menonton daring, Refal Hady? Aktingnya yang hebat sebagai salah satu pemain di dalam serial "Wedding Agreement" membuat ia disukai dan digemari oleh banyak orang.
Dalam kamus daring Merriam-Webster, penggemar atau fans diartikan sebagai seseorang yang mengagumi, menyukai, menggilai, bahkan memuja seseorang atau sesuatu, seperti selebritas atau suatu karya seni tertentu. Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, idola didefinisikan sebagai orang, gambar, patung, dan sebagainya yang menjadi pujaan. Ada banyak alasan mengapa seseorang menyukai orang lain, salah satu di antaranya adalah karena adanya daya tarik yang menjadi kekuatan dari orang yang disukai tersebut. Seperti apa daya tarik yang dimaksud?
Daya Tarik Interpersonal
Daya tarik interpersonal merupakan pintu gerbang terjalinnya suatu interaksi. Mulyadi, Rahardjo, Asmarany, dan Pranandari (2016) mengartikan daya tarik interpersonal sebagai sikap seseorang mengenai orang lain di mana ketertarikan yang ada meliputi evaluasi sepanjang suatu dimensi yang berkisar dari sangat suka sampai sangat tidak suka. Feldman (2012) mengartikan ketertarikan interpersonal sebagai suatu perasaan positif terhadap orang lain, bisa berbentuk mencintai atau menyukai. Ketika seseorang memikirkan tentang ketertarikan, mengapa mereka bisa menyukai atau mengidolakan orang lain, mereka cenderung berfokus pada faktor yang berkaitan dengan sosok yang disukai atau diidolakan. Hal-hal ini meliputi apakah mereka serupa atau tidak, atau apakah penampilan menarik atau tidak.
Apa faktor yang menentukan daya tarik interpersonal?
Ada empat faktor-faktor penting yang diperhatikan oleh para psikolog sosial dalam aspek daya tarik interpersonal (Baron & Branscombe, 2012; Feldman, 2012), antara lain sebagai berikut:
Kedekatan (proximity). Kedekatan fisik antara dua individu meningkatkan kemungkinan bahwa dua individu tersebut akan mengalami kontak dan paparan yang berulang satu sama lain, sehingga timbul pengaruh positif dan pengembangan ketertarikan timbal balik.
Hanya paparan. Bagaimana jika individu tidak bisa bertemu satu sama lain? Zajonc dan Butler & Berry (dalam Feldman, 2012) menemukan fakta menarik bahwa pemaparan yang berulang kali terhadap suatu stimulus, baik secara langsung maupun melalui media lain, dapat membuat seseorang lebih menyukai stimulus tersebut.
Kesamaan. Para ahli psikologi sosial telah membuktikan bahwa seseorang cenderung menyukai orang lain yang memiliki kesamaan dengan dirinya.
Daya tarik fisik. Tidak bisa dipungkiri daya tarik fisik menjadi elemen penting untuk meningkatkan rasa suka di awal. Di dalam daya tarik fisik, kombinasi karakteristik yang ada pada individu dinilai cantik atau tampan pada ekstrem positif, serta dinilai tidak menarik pada ekstrem negatif.
Karena adanya daya tarik tersebut, maka muncullah keinginan seseorang untuk saling berinteraksi. Lalu, apa sebenarnya interaksi yang dimaksud?
Interaksi Sosial
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, interaksi sosial merupakan suatu hubungan sosial yang dinamis antara perseorangan dengan perseorangan, antara perseorangan dengan kelompok, dan antara kelompok dengan kelompok.
Ada dua syarat utama terjadinya interaksi sosial, yaitu adanya kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial tidak hanya terjadi melalui tatap muka secara langsung saja, tetapi juga bisa melalui media lain. Teknologi yang berkembang semakin canggih di masa kini memudahkan setiap orang untuk saling melakukan kontak, meskipun dalam jarak yang tidak dekat. Menilik dari sini, dapat disebutkan bahwa kontak sosial memiliki dua sifat, yaitu kontak sosial yang bersifat primer yang terjadi secara langsung dan kontak sosial yang bersifat sekunder yang diperantarai oleh media seperti telepon, surat, juga media sosial. Syarat terjadinya interaksi sosial yang kedua adalah komunikasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, komunikasi merupakan pengiriman dan penerimaan pesan antara dua orang atau lebih, sehingga pesan yang dimaksudkan dapat dipahami. Komunikasi ini juga bisa terjadi secara langsung maupun tidak langsung.
Interaksi yang muncul antara seorang idola dengan penggemar di masa sekarang bisa dikatakan cukup dekat melihat bagaimana menjamurnya media yang memungkinkan penggemar saling bertukar sapa dengan idolanya. Di dunia K-pop sendiri, penggemar sudah tidak asing dengan aplikasi Weverse, Lysn, dan Universe. Aplikasi ini dibuat khusus agar penggemar bisa berinteraksi lebih dekat dengan idolanya, seperti mengobrol melalui kolom chat, hingga saling membalas unggahan antara penggemar dengan idola. Selain ketiga aplikasi itu, ada juga aplikasi yang memperkenankan idola menyapa penggemarnya melalui siaran langsung, yaitu V LIVE Melalui aplikasi V LIVE, penggemar bisa melihat secara langsung apa yang idolanya lakukan di saat yang sama, serta berinteraksi melalui kolom komentar yang menjadi media untuk mengobrol dengan idolanya. Ada pula bentuk interaksi langsung antara penggemar dan idolanya, yaitu melalui konser, acara jumpa fans atau fan meeting, dan acara fansign. Selain itu, aplikasi yang sudah ada terlebih dahulu sebelum keempat aplikasi yang disebutkan sebelumnya, yaitu Twitter, juga mampu memudahkan penggemar untuk menerima berita dan berinteraksi dengan idolanya.
Interaksi Parasosial
Dengan memahami penjelasan mengenai daya tarik interpersonal dan interaksi sosial, kita bisa mengaitkan kedua hal itu dengan interaksi parasosial yang merupakan inti bahasan artikel ini. Semakin besar tingkat ketertarikan seseorang, maka semakin besar pula tingkat pemujaannya terhadap seorang atau sekelompok selebritas. Semakin besar tingkat pemujaan itu akhirnya menjadi dorongan untuk menimbulkan perasaan intim dan dekat yang diimajinasikan oleh penggemar (Darfiyanti & Putra, 2012). Rubin & McHugh (1987) menyebutkan bahwa proses terciptanya interaksi parasosial berkaitan erat dengan bagaimana media membentuk identitas seseorang. Layaknya hubungan interpersonal, ada kaitan yang erat dengan intimasi dan rasa ingin untuk menjaga hubungan. Horton dan Wohl menyatakan bahwa interaksi parasosial adalah interaksi yang semu, di mana idola sengaja menggunakan dan mengatur kalimat sedemikian rupa seolah ada keintiman antara selebritas dengan penggemarnya (Hartmann & Goldhoorn, 2011).
Giles (2002) menyebutkan ada beberapa efek yang dapat muncul karena adanya interaksi parasosial, antara lain:
Perasaan ditemani. Dengan adanya interaksi parasosial, penggemar merasa seolah memiliki teman untuk berinteraksi dengan orang yang disukainya.
Pertemanan semu. Melalui interaksi parasosial, penggemar merasa menjadi dekat dengan selebritas yang disukainya karena ada perasaan ditemani sebelumnya, meskipun komunikasi yang dilakukan adalah komunikasi satu arah.
Identitas personal. Melalui interaksi parasosial, ada kemungkinan seseorang menemukan jati dirinya.
Pedoman tingkah laku. Interaksi parasosial dapat menciptakan kedekatan emosional. Oleh karena itu, idola berperan sebagai model yang dijadikan pedoman penggemar dalam berperilaku.
Pemirsa patologis. Ketika penggemar terlalu fanatik dengan menjadikan idolanya sebagai pedoman untuk berperilaku, maka interaksi ini bersifat patologis. Apapun yang dilakukan oleh idola, terlepas perilaku itu dinilai baik atau buruk, melanggar norma atau tidak, penggemar akan selalu membenarkan.
Apa yang terjadi ketika penggemar merasa interaksi dengan idolanya begitu intens? Maka akan timbul parasocial relationship atau hubungan parasosial. Sebenarnya, apa itu hubungan parasosial?
Hubungan Parasosial
Hubungan parasosial dapat dianggap ada ketika penggemar merasa bahwa mereka adalah teman dari persona media (selebritas yang digemari). Keintiman hubungan parasosial dapat berkembang seiring dengan pengalaman-pengalaman yang didapatkan oleh penggemar melalui interaksi dengan persona media yang diciptakan (Horton & Wohl, 1982). Seiring berjalannya waktu, penggemar merasa memiliki hubungan yang akrab dengan persona media tersebut. Penggemar merasa hubungan yang dirasakan bersifat interpersonal atau saling memberikan timbal balik antara satu dengan lainnya (Sokolova & Kefi, 2020).
Hubungan parasosial pada dasarnya adalah hubungan yang tercipta antara konsumen dengan selebritas melalui saluran yang dimediasi (Shoffner, 2019). Hubungan ini adalah hubungan virtual antara selebritas dan penggemar yang terjadi satu arah, tetapi penggemar menciptakan intimasi hubungan tersebut menjadi hubungan interpersonal yang memiliki timbal balik. Pada dasarnya, hubungan parasosial tidak dapat disebut sebagai hubungan interpersonal karena merupakan hubungan satu arah. Di dalam hubungan parasosial, hanya penggemar yang merasa adanya hubungan yang dekat dengan selebritas, sedangkan selebritas sama sekali tidak mengenal penggemar tersebut (Sulianti, dkk, 2018). Hubungan parasosial memungkinkan timbul empati yang tinggi dari penggemar ke selebritas (Fredrick, dkk, 2012).
Contoh kasus yang terjadi di dunia nyata dapat dilihat melalui aktivitas penggemar pada media sosial, salah satunya adalah Twitter. Salah satu contohnya adalah penggemar yang membuat fake chat atau percakapan palsu dengan selebritas menggunakan citra selebritas yang diciptakan media. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kim & Song (2016), pengungkapan diri yang dilakukan oleh selebritas (misalnya berbagi kehidupan terkait pekerjaan maupun kehidupan pribadi) serta perilaku retweet yang dilakukan oleh penggemar meningkatkan perasaan intimasi yang dirasakan penggemar terhadap selebritas. Dari hal-hal tersebut, penggemar dapat menciptakan kepribadian selebritas terkait yang dijadikan menjadi acuan dalam membuat percakapan palsu. Suasana yang saling mendukung antar penggemar juga meningkatkan intimasi hubungan parasosial yang dialami oleh penggemar.
Apa yang menyebabkan hubungan parasosial ini muncul?
Hubungan parasosial dapat muncul ketika penggemar mulai merasa adanya hubungan timbal balik yang dirasakan antara penggemar dengan selebritas. Ketika penggemar mulai merasakan hubungan timbal balik antara penggemar dengan selebritas yang disukai. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti citra selebritas yang diciptakan oleh media tertentu, pengungkapan diri selebritas secara profesional (terkait pekerjaan) maupun pribadi (terkait teman dan keluarga selebritas), serta suasana antar penggemar yang saling mendukung satu sama lain (Kim & Song, 2016). Hubungan parasosial dianggap mulai muncul ketika penggemar merasa bahwa mereka adalah teman dari karakter yang ada di media. Perasaan pertemanan ini yang kemudian menjadi faktor penting dalam mengembangkan hubungan parasosial daripada hubungan interpersonal yang dilakukan secara tatap muka. Selanjutnya, kontak yang dilakukan secara berkala akan menyebabkan penggemar berpikir mereka memiliki kedekatan dengan persona media tersebut. Hal ini semakin meningkatkan akurasi pemahaman penggemar mengenai karakter media tersebut, termasuk gaya, kepribadian, preferensi, dan kehidupan pribadi, terakumulasi, serta interpretasi dan pemahaman makna perilaku karakter (di atas panggung) (Chung & Cho, 2014). Ini memberikan kesan bahwa penggemar memahami secara penuh karakter media tersebut.
Weaver (1993) menjabarkan bahwa sebuah hubungan memiliki tingkat emosi dengan kedekatan atau proximity yang beragam. Ketika hubungan parasosial terbentuk, penggemar telah melibatkan emosinya ke dalam hubungan tersebut. Emosi timbul apabila mereka melibatkan interaksi yang berulang, pengungkapan diri yang tinggi, interdependensi atau tingkat ketergantungan yang tinggi, serta keterlibatan emosional yang tinggi.
Jadi, apakah hubungan parasosial ini dikatakan positif atau negatif?
Dalam penelitiannya, Gleason, Theran, dan Newberg (2017) menunjukkan bahwa hubungan parasosial mampu membantu remaja untuk mengembangkan dan membentuk identitas diri mereka. Selain itu, hubungan parasosial mampu membantu meningkatkan hubungan, perkembangan kemampuan personal, dan kesejahteraan secara keseluruhan (Hoffner & Bond, 2022). Hubungan parasosial dapat menjadi salah satu coping strategy bagi orang dengan tipe avoidant attachment (sebuah tipe kedekatan yang membuat seseorang menjadi independen secara fisik dan emosional) untuk bisa merasakan hubungan interpersonal yang intim selama mereka menghindari penolakan (Rain & Mar, 2021). Hubungan parasosial yang sehat juga mampu memberikan dukungan, inspirasi, motivasi, meningkatkan rasa percaya diri, serta membantu orang untuk mengatasi permasalahan hidup.
Namun, hubungan parasosial dapat mengganggu hubungan di kehidupan nyata atau kehidupan sehari-hari seseorang, apalagi jika hubungan tersebut menggantikan hubungan yang ada di dunia nyata. Apabila hubungan parasosial sudah mulai mengarah menjadi hubungan yang toxic, maka hubungan ini bisa berkontribusi terhadap kecemasan, kesepian, isolasi sosial, komparasi sosial yang negatif, serta penggunaan media sosial yang berlebihan. Dari hasil penelitian, Bernhold dan Metzger (2020) menyimpulkan bahwa hubungan parasosial juga mampu berkontribusi pada munculnya depresi. Dengan adanya hubungan parasosial, penggemar juga mungkin saja memunculkan sifat materialisme yang berdampak buruk bagi kehidupan sehari-hari (Lou & Kim, 2019).
Tentu saja setiap hal memiliki manfaat yang positif dan kerugian yang negatif, begitu pula dengan hubungan parasosial. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam hubungan ini karena erat kaitannya dengan kesehatan mental. Apabila individu merasakan hubungan parasosial yang dialaminya mulai mengarah ke hubungan yang toxic, maka hubungan itu harus segera dihentikan dengan cara menghindari kontak dengan sumber hubungan. Melakukan interaksi dan menjalin hubungan dengan teman atau rekan kerja di dunia nyata juga dapat membantu individu terhindar dari dampak negatif hubungan parasosial.
Daftar Referensi
Baron, R.A. & Branscombe, N.R. (2012). Social Psychology (13th ed.). United States of America: Pearson Education, Inc.
Bernhold, Q.S. & Metzger, M. (2020). Older Adults’ Parasocial Relationships with Favorite Television Characters and Depressive Symptoms. Health Commun, 35(2), 168-179. DOI: 10.1080/10410236.2018.1548336.
Bond, J.B. (2016). Following Your “Friend”: Social Media and the Strength of Adolescents' Parasocial Relationships with Media Personae. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 19(11).
Chung, S. & Cho, H. (2014). Parasocial relationship via reality TV and social media: its implications for celebrity endorsement. In Proceedings of the ACM International Conference on Interactive Experiences for TV and Online Video, (pp. 47-54).
Darfiyanti, D. & Putra, M.B.G.A. (2012). Pemujaan Terhadap Idola Pop sebagai Dasar Intimate Relationship pada Dewasa Awal: Sebuah Studi Kasus. Jurnal Psikologi Kepribadian dan Sosial, 1(2), 66-73.
Fans. Merriam-Webster. [Online]. Tersedia di https://www.merriam-webster.com/dictionary/fans. Diakses 4 Juni 2022
Faturochman & Nurjaman T.A. (2018). Psikologi Relasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Feldman, R.S. (2012). Pengantar Psikologi (Edisi 10). Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.
Frederick, E.L., Lim, C.H., Clavio, G., & Walsh, P. (2012). Why we follow: An examination of parasocial interaction and fan motivations for following athlete archetypes on Twitter. International Journal of Sport Communication, 5, 481–502.
Giles, D.C. (2002). Parasocial Interaction: A Review of the Literature and a Model for Future Research. Media Psychology, 4(3), 279-305. DOI: 10.1207/S1532785XMEP0403_04.
Gleason, T.R., Theran, S.A., & Newberg, E.M. (2017). Parasocial Interactions and Relationships in Early Adolescence. Frontiers in Psychology, 8. DOI: https://doi.org/10.3389.2Ffpsyg.2017.00255.
Hartmann, T. & Goldhoorn, C. (2011). Horton and Wohl revisited: Exploring viewers’ experience of parasocial interaction. Journal of Communication. DOI: 10.1111/j.1460-2466.2011.01595.x.
Hoffner, C.A. & Bond, B.J. (2022). Parasocial Relationships, social media, & well-being. Current Opinion in Psychology, 45. DOI: 10.1016/j.copsyc.2022.101306.
Horton, D. & Wohl, R. (1982). Mass Communication and Para-Social Interaction: Observations on Intimacy at a Distance. Drama in Life: The Uses of Communication in Society, 212-227.
Idola. Kamus Besar Bahasa Indonesia. [Online]. Tersedia di https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/idola. Diakses 4 Juni 2022.
Interaksi Sosial. Kamus Besar Bahasa Indonesia. [Online]. Tersedia di https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/interaksi%20sosial . Diakses 4 Juni 2022.
Kim, J. & Song, H. (2016). Celebrity's self-disclosure on Twitter and parasocial relationships: A mediating role of social presence. Computers in Human Behavior, 62, 570-577.
Komunikasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia. [Online]. Tersedia di https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/komunikasi. Diakses 4 Juni 2022.
Lou, C. & Kim, H.K. (2019). Fancying the New Rich and Famous? Explicating the Roles of Influencer Content, Credibility, and Parental Mediation in Adolescents’ Parasocial Relationship, Materialism, and Purchase Intentions. Frontiers in Psychology, 10. DOI: https://doi.org/10.3389%2Ffpsyg.2019.02567.
Mulyadi, S., Rahardjo, W., Asmarany, A.I. & Pranandari, K. (2016). Psikologi Sosial. Jakarta: Penerbit Gunadarma.
Rain, M. & Mar, R.M. (2021). Adult attachment and engagement with fictional characters. Journal of Social and Personal Relationship, 38(9), 2792-2813. DOI: https://doi.org/10.1177/2F02654075211018513.
Shoffner, L.K. (2019). Parasocial Relationship Influence on CoverGirl Buying Intentions: Trust and Loyalty from SMI and Celebrity Endorsements. In (Doctoral dissertation, Appalachian State University).
Sokolova, K., & Kefi, H. (2020). Instagram and YouTube bloggers promote it, why should I buy? How credibility and parasocial interaction influence purchase intentions. Journal of Retailing and Consumer Services, 53, 101742.
Sulianti, A., Lubis, F.S., Az-Zahra, F., & Hambali, A. (2018). Can emotional intelligence restrain excess celebrity worship in bio-psychological perspective? IOP Conference Series: Materials Science and Engineering (Vol. 434, No. 1, p. 012137)(pp. 1-5). IOP Publishing. DOI: 10.1088/1757-899X/434/1/012137.
Weaver, R.L. (1993). Understanding Interpersonal Communication. USA: Library of Congress Cataloging in Publication Data.

