Buzz
·
16 Juli 2021 20:42
·
waktu baca 2 menit

Belajar dari Pengalaman Buruk, Mengapa Tidak?

Konten ini diproduksi oleh Zikra Mulia Irawati
Belajar dari Pengalaman Buruk, Mengapa Tidak? (80253)
searchPerbesar
Mutiara Azka saat menceritakan bullying yang pernah dialaminya semasa sekolah (Foto: YouTube UNICEF Indonesia)
Hidup adalah kombinasi hal-hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Satu kejadian buruk bukanlah tanda kegagalan yang abadi. Ia dapat mengantarkan kepada hal baik jika dikelola dengan tepat.
ADVERTISEMENT
Sebut saja penyanyi Mutiara Azka. Kontestan Indonesian idol Special Season ini menjadi salah satu narasumber Konferensi Kebaikan Indonesia (KKI) 2021 yang diadakan oleh UNICEF Indonesia. Di sana, ia membagikan cerita pahitnya yang pernah menjadi korban bullying. Ia berharap kejadian ini dapat dijadikan pelajaran.
Dengan pengalaman itu, Azka tentu pernah terpuruk. Berbagai aspek di dalam hidupnya, sesederhana poni, dijadikan bahan ejekan. Belum lagi para pelaku berada di kelas yang sama dengannya. Karena tak tahan, ia bahkan pernah kabur ke kantin untuk menangis.
Apakah Azka menyerah? Tentu tidak. Pelan-pelan, Azka mencoba untuk menjadi lebih berprestasi. Ia mengikuti berbagai ajang di luar sekolahnya. Ia bertekad untuk membuktikan dirinya mampu pada orang-orang yang telah mengganggunya.
Belajar dari Pengalaman Buruk, Mengapa Tidak? (80254)
searchPerbesar
Cuplikan video musik salah satu karya Azka yang berjudul "Breathtaking" (Foto: YouTube Mutiara Azka)
Namun, motif pembuktian kepada orang lain itu lambat laun dirasa salah oleh Azka. Pemikirannya yang kian dewasa menyadari bahwa lebih penting menjadi keren untuk diri sendiri. Ia juga menjadikan karya berupa lirik lagu untuk menuangkan keresahannya.
ADVERTISEMENT
Sesuai keinginan Azka, apa yang dapat dipelajari dari kisahnya? Satu, selalu ada pilihan untuk tidak menyerah pada situasi buruk. Dua, jadilah keren untuk membuktikan pada diri sendiri, bukan orang lain. Terakhir tetapi bukan akhir, selalu temukan cara terbaik untuk mengomunikasikan pikiran yang mengganggu.
Zikra Mulia Irawati
Politeknik Negeri Jakarta