Mengapa Saya Berhenti Memotret Materi Kuliah dan Mulai Mencatat Materi Kembali?

Mahasiswa S1 Prodi Sistem Informasi Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Zikri Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama beberapa semester kuliah, saya memiliki kebiasaan yang mungkin juga dimiliki banyak mahasiswa lainnya. Setiap kali dosen menampilkan slide presentasi atau menuliskan materi di papan tulis, saya langsung mengeluarkan ponsel dan memotretnya. Saat itu saya berpikir bahwa cara tersebut lebih praktis daripada mencatat. Saya merasa semua informasi sudah tersimpan dengan aman dan bisa dipelajari kapan saja.
Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa galeri ponsel saya dipenuhi ratusan foto materi kuliah yang jarang sekali saya buka kembali. Foto-foto tersebut hanya tersimpan sebagai arsip digital tanpa benar-benar membantu saya memahami materi yang dipelajari.
Kebiasaan Memotret Materi Kuliah yang Sering Saya Lakukan
Awalnya saya menganggap memotret materi sebagai solusi yang efisien. Saya tidak perlu repot menulis dan bisa lebih fokus mendengarkan penjelasan dosen. Selain itu, teknologi membuat proses menyimpan informasi menjadi sangat mudah. Hanya dengan satu kali menekan tombol kamera, seluruh materi sudah tersimpan.
Sayangnya, kemudahan tersebut justru membuat saya menjadi terlalu bergantung pada foto. Saya sering menunda membaca kembali materi karena merasa informasi tersebut sudah tersimpan dan dapat diakses kapan saja. Akibatnya, waktu yang direncanakan untuk belajar sering kali tidak pernah datang.
Saya mulai menyadari masalah ini ketika menghadapi ujian. Saat mencari materi yang diperlukan, saya harus membuka puluhan bahkan ratusan foto yang tersimpan di galeri. Proses tersebut tidak hanya memakan waktu, tetapi juga membuat saya kesulitan menemukan poin-poin penting yang sebenarnya dibutuhkan.
Mengapa Saya Memilih Kembali Mencatat
Dari pengalaman tersebut, saya mencoba kembali mencatat materi dengan cara yang lebih sederhana. Saya tidak lagi menulis seluruh isi slide, tetapi hanya mencatat poin-poin penting dan hal-hal yang dijelaskan dosen. Hasilnya cukup mengejutkan. Saya merasa lebih mudah mengingat materi karena proses menulis membuat saya lebih fokus dan memahami apa yang sedang dipelajari.
Menurut saya, teknologi memang sangat membantu proses belajar mahasiswa. Namun, teknologi seharusnya menjadi alat pendukung, bukan pengganti proses belajar itu sendiri. Memotret materi dapat membantu menyimpan informasi, tetapi pemahaman tetap diperoleh melalui membaca, mencatat, dan mengulang materi secara aktif.
Pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa menyimpan informasi tidak selalu berarti memahami informasi. Galeri yang penuh dengan foto materi kuliah tidak akan banyak membantu apabila tidak pernah dibuka dan dipelajari kembali. Oleh karena itu, saya mulai membiasakan diri untuk lebih aktif mencatat dan mengolah informasi yang diperoleh selama perkuliahan.
Pada akhirnya, setiap mahasiswa memiliki cara belajar yang berbeda. Namun, menurut saya, keseimbangan antara memanfaatkan teknologi dan tetap terlibat aktif dalam proses belajar merupakan hal yang penting agar informasi yang diperoleh tidak hanya tersimpan di ponsel, tetapi juga benar-benar dipahami.
