Saya Pernah Mengira Multitasking Membuat Saya Produktif

Mahasiswa S1 Prodi Sistem Informasi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Zikri Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai mahasiswa, saya sering merasa memiliki banyak hal yang harus dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. Menyelesaikan tugas kuliah, berkumpul dengan teman, membuka media sosial, hingga berbagai notifikasi dari aplikasi pesan sering kali datang secara bersamaan. Karena ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat, saya pernah berpikir bahwa multitasking adalah solusi terbaik. Saya terbiasa mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik, membuka media sosial, membalas pesan teman, bahkan sesekali menonton video.
Saat itu saya merasa sangat produktif karena mampu melakukan banyak aktivitas sekaligus. Namun, setelah beberapa waktu, saya menyadari bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Ketika Saya Merasa Sangat Sibuk
Awalnya, multitasking membuat saya merasa lebih efisien. Saya menganggap waktu dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan melakukan beberapa pekerjaan secara bersamaan. Misalnya, saat mengerjakan tugas kuliah, saya juga membuka media sosial untuk melihat informasi terbaru atau membalas pesan yang masuk.
Sayangnya, kebiasaan tersebut justru membuat fokus saya mudah terpecah. Ketika sedang mengerjakan tugas, perhatian saya sering berpindah ke notifikasi yang muncul di layar ponsel. Akibatnya, pekerjaan yang seharusnya dapat diselesaikan dalam waktu singkat justru membutuhkan waktu yang lebih lama.
Menyadari Dampak Multitasking
Saya mulai menyadari dampaknya ketika hasil pekerjaan yang saya kerjakan tidak sesuai harapan. Ada bagian tugas yang terlewat, kesalahan penulisan yang tidak saya sadari, dan materi yang sulit saya pahami karena tidak benar-benar fokus saat belajar.
Selain itu, saya sering merasa lelah meskipun pekerjaan yang diselesaikan tidak terlalu banyak. Setelah dipikirkan kembali, ternyata energi saya habis bukan karena bekerja terlalu keras, melainkan karena terus-menerus berpindah perhatian dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya.
Pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa sibuk tidak selalu berarti produktif. Saya memang melakukan banyak hal dalam waktu yang sama, tetapi kualitas fokus dan hasil pekerjaan justru menurun.
Mulai Belajar Fokus pada Satu Hal
Sejak saat itu, saya mencoba mengubah kebiasaan belajar saya. Ketika mengerjakan tugas, saya mulai menaruh ponsel di tempat yang tidak mudah dijangkau dan menonaktifkan notifikasi yang tidak penting. Saya juga berusaha menyelesaikan satu pekerjaan terlebih dahulu sebelum berpindah ke pekerjaan lainnya.
Perubahan tersebut ternyata memberikan hasil yang cukup positif. Saya dapat menyelesaikan tugas dengan lebih cepat dan lebih memahami materi yang sedang dipelajari. Meskipun terlihat sederhana, fokus pada satu pekerjaan membuat proses belajar menjadi lebih efektif dibandingkan melakukan banyak hal sekaligus.
Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa multitasking tidak selalu membuat seseorang menjadi lebih produktif. Dalam beberapa situasi, kebiasaan melakukan banyak aktivitas secara bersamaan justru dapat mengurangi fokus dan kualitas pekerjaan. Oleh karena itu, saya mulai menyadari pentingnya memberikan perhatian penuh pada satu tugas sebelum beralih ke tugas lainnya.
Di era digital yang penuh dengan notifikasi dan berbagai distraksi, kemampuan untuk fokus menjadi keterampilan yang semakin berharga. Bagi saya, produktivitas bukan lagi tentang seberapa banyak hal yang dilakukan dalam satu waktu, melainkan seberapa baik saya dapat menyelesaikan pekerjaan yang sedang dikerjakan.
