Saya Pernah Takut Bertanya di Kelas, dan Itu Merugikan Saya

Mahasiswa S1 Prodi Sistem Informasi Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Zikri Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat pertama kali memasuki dunia perkuliahan, saya mengira bahwa bertanya di kelas adalah hal yang mudah dilakukan. Namun, kenyataannya tidak demikian. Setiap kali dosen memberikan kesempatan untuk bertanya, saya sering memilih diam meskipun ada materi yang belum saya pahami. Saya khawatir pertanyaan yang saya ajukan dianggap terlalu sederhana atau bahkan membuat teman-teman menilai saya kurang memahami pelajaran.
Karena rasa takut tersebut, saya lebih sering menyimpan kebingungan sendiri dan berharap dapat memahami materi setelah perkuliahan selesai. Sayangnya, kebiasaan itu justru membawa dampak yang tidak saya sadari pada awalnya.
Ketika Rasa Takut Mengalahkan Keinginan untuk Belajar
Alasan utama saya enggan bertanya adalah rasa malu. Saya takut menjadi pusat perhatian ketika berbicara di depan kelas. Selain itu, saya juga sering berpikir bahwa pertanyaan yang ingin saya sampaikan mungkin tidak penting atau sudah dipahami oleh mahasiswa lain.
Akibatnya, saya sering pulang dari kelas dengan pemahaman yang belum sepenuhnya jelas. Ketika mengerjakan tugas atau menghadapi ujian, saya baru menyadari bahwa ada banyak materi yang sebenarnya belum saya pahami dengan baik. Saat itulah saya mulai merasakan kerugian dari kebiasaan diam di kelas.
Menyadari Pentingnya Bertanya
Seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami bahwa tujuan kuliah adalah belajar, bukan sekadar terlihat pintar di depan orang lain. Saya menyadari bahwa dosen memberikan kesempatan bertanya bukan untuk menguji mahasiswa, melainkan untuk membantu mereka memahami materi.
Suatu hari, saya memberanikan diri mengajukan pertanyaan mengenai materi yang menurut saya cukup membingungkan. Di luar dugaan, dosen menjelaskan kembali dengan lebih rinci dan ternyata beberapa teman sekelas juga memiliki kebingungan yang sama. Pengalaman tersebut membuat saya sadar bahwa pertanyaan yang saya anggap sepele ternyata juga dirasakan oleh orang lain.
Dari situ saya mulai memahami bahwa bertanya bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari proses belajar.
Perubahan yang Saya Rasakan
Setelah mulai lebih berani bertanya, saya merasakan banyak manfaat. Saya lebih mudah memahami materi yang dipelajari dan tidak lagi menyimpan kebingungan hingga berlarut-larut. Selain itu, saya menjadi lebih percaya diri untuk berpartisipasi dalam diskusi kelas.
Meskipun terkadang masih merasa gugup, saya berusaha mengingat bahwa tujuan utama saya berada di kelas adalah untuk belajar. Rasa malu yang sesaat tidak sebanding dengan manfaat yang bisa diperoleh dari sebuah pertanyaan.
Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa rasa takut bertanya dapat menjadi penghalang dalam proses belajar. Saya pernah memilih diam karena khawatir dinilai oleh orang lain, tetapi justru hal itu membuat saya kehilangan kesempatan untuk memahami materi dengan lebih baik.
Oleh karena itu, menurut saya, mahasiswa tidak perlu takut untuk bertanya ketika ada hal yang belum dipahami. Tidak ada pertanyaan yang terlalu sederhana dalam proses belajar. Justru keberanian untuk bertanya dapat membantu seseorang memperoleh pemahaman yang lebih baik dan berkembang selama menjalani perkuliahan.
