Konten dari Pengguna
Ketika Uang Beredar Lebih Cepat dari Kesejahteraan
9 November 2025 1:59 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Ketika Uang Beredar Lebih Cepat dari Kesejahteraan
Uang terus berputar cepat lewat transaksi digital dan konsumsi, tapi kesejahteraan rakyat belum ikut berlari. Apakah pertumbuhan ekonomi kita benar-benar menyejahterakan semua?Zirwah Lubis
Tulisan dari Zirwah Lubis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Setiap kali kita membaca berita tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di angka 5 persen, seolah-olah kita sedang hidup di tengah keberhasilan besar. Namun, realitas di lapangan sering berkata lain. Harga kebutuhan pokok naik, daya beli menurun, dan kesejahteraan masyarakat masih berjalan di tempat. Di sinilah letak paradoksnya. uang memang beredar, tapi kesejahteraan tak ikut berputar secepat itu.
ADVERTISEMENT
Kebijakan moneter sering menjadi sorotan utama dalam situasi seperti ini. Bank Indonesia bisa menurunkan suku bunga untuk mendorong konsumsi, atau menaikkannya untuk menekan inflasi. Namun, efek kebijakan ini tak selalu langsung terasa di dapur rakyat. Saat uang beredar terlalu cepat, lewat kredit konsumtif, e-commerce, hingga transaksi digital, kita sering lupa bahwa kesejahteraan sejati tidak diukur dari seberapa cepat uang berpindah tangan, melainkan dari seberapa merata manfaatnya dirasakan.
Fenomena ini tampak jelas di masyarakat urban. Gaji naik sedikit, tapi harga barang melonjak lebih cepat. Uang mengalir ke pusat-pusat konsumsi, sementara sektor riil seperti pertanian dan UMKM masih tertinggal. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi yang terlihat “cerah” di data, belum tentu menyinari kehidupan mayoritas masyarakat.
Kita sedang hidup di era uang yang “canggih”, tapi kesejahteraan yang “lambat”. Uang digital, investasi online, dan pinjaman instan memang mempercepat perputaran ekonomi, tapi tanpa fondasi produktif yang kuat, semua itu hanya menciptakan ilusi kemakmuran. Dalam jangka panjang, laju uang yang tak diimbangi pertumbuhan produktivitas justru bisa menimbulkan tekanan inflasi dan kesenjangan ekonomi.
ADVERTISEMENT
Sudah saatnya arah kebijakan ekonomi moneter tak hanya berfokus pada stabilitas harga, tetapi juga memperhatikan kualitas pertumbuhan. Uang yang beredar seharusnya mendorong produksi, membuka lapangan kerja, dan memperkuat daya beli masyarakat, bukan sekadar memperbanyak transaksi.
Sebab, kesejahteraan sejati bukan tentang seberapa cepat uang berpindah, melainkan seberapa adil manfaatnya mengalir.

