Konten dari Pengguna

Pasangan LDR: Harus Saling Memberi Kabar atau Justru Memberi Ruang?

Hal unik yang bisa dilakukan bersama pasangan selama LDR sementara saat corona. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Hal unik yang bisa dilakukan bersama pasangan selama LDR sementara saat corona. Foto: Shutterstock

“Kenapa baru balas sekarang?”

“Dari tadi ke mana?”

“Kalau memang sibuk, kenapa tidak bilang?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu mungkin sering muncul dalam hubungan jarak jauh atau Long Distance Relationship (LDR). Jarak yang memisahkan membuat komunikasi menjadi salah satu hal penting dalam mempertahankan hubungan. Namun, semakin sering berkomunikasi ternyata tidak selalu berarti hubungan semakin sehat.

Bagi pasangan LDR, memberi kabar memang penting. Ketika tidak bisa bertemu secara langsung, pesan singkat menjadi salah satu cara untuk menunjukkan perhatian. Sekadar memberi tahu sedang bekerja, kuliah, pergi bersama teman, atau sudah sampai rumah bisa membuat pasangan merasa tetap dilibatkan dalam kehidupan kita.

Namun, apakah pasangan harus selalu memberi kabar setiap saat?

Menurut saya, tidak.

Ada perbedaan antara memberi kabar karena ingin berbagi dan memberi kabar karena merasa wajib melapor. Jika setiap aktivitas harus dijelaskan dan setiap keterlambatan membalas pesan langsung menimbulkan pertengkaran, komunikasi yang seharusnya menjadi sumber kenyamanan justru bisa berubah menjadi tekanan.

Setiap orang tetap memiliki kehidupan di luar hubungan. Ada pekerjaan, kuliah, keluarga, teman, bahkan waktu untuk diri sendiri. Ketika pasangan sedang sibuk dan belum sempat membalas pesan, hal itu tidak selalu berarti ia sedang mengabaikan pasangannya.

Sebaliknya, memberikan ruang juga bukan berarti bebas menghilang tanpa penjelasan.

Dalam LDR, pasangan tetap membutuhkan kepastian. Tidak harus mengirim pesan sepanjang hari, tetapi komunikasi yang sederhana dan konsisten bisa membuat hubungan terasa lebih aman.

Misalnya, daripada tiba-tiba menghilang karena sedang sibuk, cukup mengatakan, “Aku ada kegiatan dulu ya, nanti kalau sudah selesai aku kabari.”

Kalimat sesederhana itu mungkin terlihat sepele. Namun, bagi pasangan yang sedang menunggu dari jarak jauh, kabar tersebut bisa membuat perbedaan besar.

Gambar milik pribadi

Masalahnya, banyak pasangan terkadang mengukur perhatian dari seberapa cepat pesan dibalas. Padahal, perhatian tidak selalu berbentuk kecepatan membalas chat.

Ada orang yang mungkin tidak bisa terus memegang ponselnya, tetapi tetap berusaha menyempatkan waktu ketika sudah selesai dengan urusannya. Ada pula yang tidak terlalu sering mengirim pesan, tetapi selalu hadir ketika pasangannya benar-benar membutuhkan.

Karena itu, hubungan LDR sebenarnya bukan perlombaan tentang siapa yang paling sering menghubungi atau siapa yang paling cepat membalas pesan.

Yang lebih penting adalah adanya kesepakatan dan pemahaman.

Pasangan perlu mengetahui kapan harus memberi kabar dan kapan harus memberikan ruang. Jangan sampai “ingin diperhatikan” berubah menjadi “ingin mengawasi.” Begitu juga jangan sampai “butuh ruang” berubah menjadi alasan untuk mengabaikan pasangan.

LDR memang membuat dua orang tidak bisa selalu berada di tempat yang sama. Tetapi justru dari jarak tersebut, pasangan bisa belajar bahwa hubungan tidak hanya membutuhkan rasa sayang, tetapi juga kepercayaan.

Pada akhirnya, pasangan LDR tidak harus selalu terhubung setiap menit. Yang dibutuhkan adalah komunikasi yang cukup untuk membuat keduanya merasa dihargai, sekaligus ruang yang cukup agar masing-masing tetap bisa menjalani kehidupannya.

Sebab dalam hubungan yang sehat, memberi kabar bukan berarti harus selalu melapor, dan memberi ruang bukan berarti harus saling menjauh.

Mungkin justru di antara dua hal itulah kepercayaan dalam hubungan LDR dibangun.