Bahasa Gaul Medsos: Kala "Anak Skena" Terbentur Logika Meja Makan

Mahasiswa ilmu komunikasi, Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ziva Agryzeta Sukman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan situasi ini: meja makan mendadak hening hanya karena satu kata yang keluar dari mulutmu. Kamu yang awalnya berniat cerita santai, tidak sengaja bilang kalau teman kampusmu itu "anak skena banget" atau kamu lagi "FOMO" karena kehabisan tiket konser. Detik itu juga, bapak atau ibumu langsung berhenti mengunyah, saling pandang, lalu bertanya dengan muka polos, "Skena itu singkatan dari apa, sih? Makanan baru?"
Kejadian salah paham di meja makan ini seolah menjadi bukti nyata betapa cepatnya internet mengubah cara kita berbicara sehari-hari. Bagi kita yang setiap hari menghabiskan waktu berjam-jam di TikTok atau X, istilah seperti FOMO, Skena, sampai Starboy rasanya sudah seperti bahasa sehari-hari yang sangat natural. Kita tidak perlu lagi membuka kamus atau mencari artinya di Google karena otak kita sudah otomatis paham maksudnya saat kata itu diucapkan.
Namun, cerita akan jauh berbeda jika kata-kata tersebut dibawa ke dunia nyata dan didengar oleh orang tua kita atau mereka yang jarang menyentuh media sosial. Di telinga mereka, istilah gaul tersebut terdengar asing, aneh, bahkan mirip kode rahasia dari planet lain. Mengapa dunia internet bisa menciptakan kesepakatan bahasa baru secepat kilat, sekaligus memperlebar jarak komunikasi antar-generasi?
Ketika Netizen Punya "Aturan Main" Bahasanya Sendiri
Gampangnya begini, tanpa kita sadari, para pengguna internet zaman sekarang itu sudah membentuk kelompok atau komunitas bahasanya sendiri di ruang digital. Komunitas raksasa ini memiliki semacam aturan main, konteks sosial, dan kesepakatan tidak tertulis tentang bagaimana cara memakai sebuah kata. Ketika kita berada di dalam lingkungan digital yang sama, menggunakan istilah-istilah tren ini membuat komunikasi terasa jauh lebih praktis dan seru.
Kita tidak perlu lagi capek-capek menjelaskan arti dari kata tersebut dari A sampai Z kepada lawan bicara sesama netizen. Hal ini bisa terjadi karena semua orang yang ada di dalam "tongkrongan digital" tersebut sudah memiliki pemahaman makna yang sama di kepala mereka. Kondisi ini membuat netizen seolah-olah memiliki sebuah bahasa saku khusus yang hanya dimengerti oleh sesama "warga internet". Sementara bagi orang yang tidak ikut aktif di media sosial, mereka akan otomatis terasingkan dari percakapan.
Kasus Nyata: Riuh Kostum "Anak Skena" di TikTok
Mari kita ambil contoh kasus yang belakangan ini ramai banget berseliweran di media sosial, yaitu tren video yang menyindir cara berpakaian "Anak Skena". Di internet, ciri-ciri kelompok ini digambarkan dengan sangat spesifik, mulai dari kaos band hitam kebesaran (oversized), sepatu kulit tebal, hingga kacamata hitam berbingkai tebal. Mereka juga identik dengan kamera analog yang dikalungkan di leher serta hobi nongkrong di kedai kopi independen sambil membicarakan musik antimainstream.
Istilah "Skena" yang aslinya diserap dari bahasa Inggris yaitu scene (dunia musik), mendadak bergeser fungsinya di tangan netizen Indonesia. Kata ini berubah total menjadi sebuah kata sifat universal di internet untuk menilai dan melabeli gaya hidup serta cara berpakaian seseorang. Bahkan fungsinya meluas, kalau kamu kebetulan memakai baju rapi dan sedikit mengomentari selera musik orang lain, netizen akan langsung berkomentar, "Wah, awas ada polisi skena nih."
Bagi jutaan anak muda di media sosial, istilah ini langsung dipahami secara serentak sebagai bentuk lelucon sekaligus penanda identitas kelompok mereka. Kita yang mendengarnya bisa langsung tertawa karena paham letak lucunya di mana tanpa perlu penjelasan lanjutan. Namun, bayangkan kalau obrolan ini tiba-tiba dibawa ke tengah ruang keluarga dan diucapkan di depan orang tua kita. Mereka biasanya hanya akan melongo bingung karena tidak bisa menghubungkan antara panggung musik dengan urusan sepatu, kacamata, dan selera kopi susu seseorang.
Alasan di Balik Muka Bingung Orang Tua Kita
Sisi menarik dari fenomena ini adalah kenyataan bahwa setiap komunitas pasti punya kekhasan tersendiri dalam memahami kode bahasa mereka. Kekhasan inilah yang pada akhirnya membuat tren bahasa internet sering kali terasa sangat eksklusif bagi orang luar. Orang tua kita, atau orang-orang di sekitar kita yang memang tidak aktif bermain media sosial, jelas tidak memiliki "jam terbang" di dalam dunia digital ini.
Kemampuan untuk memahami bahasa gaul internet itu sebenarnya bukan cuma soal tahu apa arti katanya secara harfiah atau tekstual saja. Lebih dari itu, seseorang juga harus paham betul bagaimana konteks kalimatnya, di mana letak bercandanya, dan bagaimana kultur siber yang melatarbelakanginya. Karena orang tua kita tidak ikut hidup di dalam dinamika media sosial yang geraknya super cepat, mereka pun kehilangan konteks sosial tersebut. Akibatnya, ketika kita menggunakan variasi bahasa baru itu di dunia nyata, telinga dan pikiran mereka gagal menangkap maksud kita dengan tepat.
Bahasa Itu Hidup dan Akan Terus Berubah
Fenomena jarak bahasa antar-generasi ini sebenarnya mengingatkan kita pada satu hal paling mendasar: bahwa bahasa itu akan selalu hidup dan bergerak dinamis selama terus dipakai sehari-hari. Bahasa tidak pernah bersifat kaku atau diam di tempat, melainkan terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Tren bahasa gaul yang lahir dari rahim internet juga tidak akan pernah berhenti di titik ini saja.
Apa yang hari ini terasa sangat viral dan keren banget seperti kata Skena atau FOMO, bisa jadi beberapa bulan ke depan sudah dianggap kuno atau cringe. Setelah itu, istilah lama tersebut akan langsung tenggelam dan digantikan dengan istilah-istilah baru lainnya yang jauh lebih ajaib hasil kreativitas netizen. Media sosial di era sekarang memang sudah bukan lagi sekadar platform atau alat biasa untuk memamerkan foto liburan semata.
Lebih jauh dari itu, media sosial telah menjelma menjadi sebuah ruang kebudayaan baru yang sangat luas bagi para penggunanya. Di dalam ruang tersebut, manusia-manusia digital saling berkumpul, berinteraksi, menciptakan tren, dan membangun dunia mereka sendiri lewat bahasa. Jadi, kalau setelah ini orang tuamu masih saja bingung saat mendengar istilah-istilah gaul yang kamu pakai, maklumi saja ya. Itu bukan karena mereka ketinggalan zaman, melainkan tanda nyata bahwa kamu dan orang tuamu sedang hidup berdampingan di dua dunia bahasa yang berbeda.
