Apa Dampak 'Healing' pada Otak Manusia, Sensasi, dan Persepsi?

Mahasiswa Psikologi, Universitas Brawijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari ZOERA DHESTREIAN LACITARA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Eh loh kok kita udah sampe di akhir november aja ya?”
“Ih iya yah cepet banget, tapi kamu udah nyelesain berapa banyak tugas akhir nih?”
“Aku udah hampir setengahnya nih yang finish, tapi aku capek deh mumet gitu mau healing bentar deh biar dapet ide sama motivasi lagi”
Stres, healing. Bosen, healing. Gabut, healing. Galau, healing. Capek, healing. Sibuk, healing. Semuanya healing…
Pagi yang cerah, 23 November 2024. Hari yang saya tunggu-tunggu akhirnya tiba juga, seperti Gen Z pada umumnya, capek dikit maunya healing. Kira-kira kenapa yah saya bahas capek dikit langsung healing?? Yap, bener banget karena sudah menjelang akhir semester dong. Biasanya di akhir semester itu mahasiswa akan diberikan tugas akhir, saya juga termasuk dari bagian mahasiswa tersebut. Banyak tugas bikin pusing dan mau healing rasanya, makanya hari ini adalah hari yang sangat saya tunggu, karena saya akan camping bersama teman-teman seangkatan dari jurusan saya, yang di mana ini juga dapat berarti saya akan healing tipis-tipis bersama mereka semua.
Liburan dan istirahat sejenak di tengah hiruk pikuk kehidupan yang cukup menguras energi dan pikiran terkadang juga dibutuhkan oleh setiap orang untuk mengurangi stres, menjaga work life balance, meningkatkan produktivitas, serta untuk meningkatkan kesejahteraan mental dan emosional. Dengan memberi diri kita ruang dan waktu untuk beristirahat sejenak, maka sangat memungkinkan untuk otak dan tubuh kita mengalami pemulihan, yang nantinya akan membantu kita agar siap menghadapi hari-hari lebih baik lagi.
Alam dan Indra Manusia
Menurut saya, alam dengan manusia itu sudah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Di dalam sebuah jurnal, Kotera & Fido (2021) mengatakan bahwa Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan di Jepang telah meluncurkan konsep terapi yang memanfaatkan hutan untuk kesehatan sejak tahun 1982 dengan nama Shinrin Yoku yang juga dikenal dengan sebutan forest bathing. Forest bathing di sini bukan berarti mandi di hutan, melainkan merupakan praktik berjalan perlahan-lahan melalui hutan pada pagi atau siang hari. Inti dari praktik ini adalah relaksasi, menarik napas dalam-dalam yang melibatkan sensasi dari semua pancaindra dan semua yang diserap oleh tubuh akan memiliki efek luar biasa pada tingkat stres, perasaan positif, tingkat energi, dan bahkan meningkatkan aktivitas sel NK (antikanker) dan menyeimbangkan kadar gula darah dan tekanan darah. (Miyazaki, 2018).
Berdasarkan sebuah penelitian terhadap anak-anak di Finlandia (Willis, 2024) yang bermain di hutan dengan anak-anak yang bermain di taman bermain yang dibuat dari beton. Dihasilkan, anak-anak yang bermain di hutan selama 28 hari mengalami peningkatan jumlah mikroba baik dalam usus serta terjadinya penurunan inflamasi dalam darah. Hal ini dapat berarti bahwa bermain di lingkungan alam dapat berdampak positif terhadap pencernaan. Selain berdampak positif pada pencernaan, melihat alam bisa membantu tubuh menjalani pemulihan yang lebih cepat karena warna hijau pada alam dapat membuat detak jantung dan tekanan darah menurun melalui sistem saraf otonom sehingga membuat tubuh rileks, serta sistem endokrin dalam tubuh juga dapat mempengaruhi hormon amilase di air liur yang berperan dalam mengurangi stres. Efek psikologis warna hijau juga dapat meningkatkan ketenangan dan mengurangi anxiety. Bahkan, alam juga memiliki hubungan dengan indra penciuman yang dimana aroma tanaman mengandung molekul berupa Volatile Organic Compounds (VOC) yang masuk ke paru-paru, dan memberikan efek yang sama seperti obat pereda kecemasan.
Alam, otak, dan emosi
Apa sih yang kalian rasain ketika healing ke alam?? Kalau menurut saya sih, dengan pergi healing ke alam saya bisa merasakan perasaan rileks, segar, dan damai. Healing juga memberikan saya sedikit ruang dan waktu untuk beristirahat sejenak dari hiruk pikuk kehidupan di sekitar saya yang cukup melelahkan. Ternyata, healing itu ada hubungannya loh sama otak dan tubuh kita. Healing di alam dapat mengaktifkan respon dari sistem limbik otak kita, seperti amigdala, hipokampus, dan hipotalamus.
Setelah pancaindra mendapatkan stimulus dari lingkungan luar dan mengirimkan sinyal ke otak, sinyal tersebut diteruskan ke sistem limbik yang kemudian diterima oleh amigdala, nantinya diteruskan ke hipokampus dan diteruskan kembali ke hipotalamus yang kemudian melepaskan hormon ke bagian lain dari otak, seperti kelenjar pituitari, yang kemudian mengatur berbagai fungsi tubuh. Hormon yang dikeluarkan tersebut berupa hormon kortisol, oksitosin, dan endorfin yang berfungsi sebagai pengatur emosi dan respon terhadap stres. Selain itu, otak juga dapat melepaskan neurotransmitter, senyawa kimia yang digunakan oleh sel-sel saraf (neuron) untuk berkomunikasi satu sama lain. Contohnya adalah dopamin, serotonin, dan endorfin. Dopamin memberikan perasaan bahagia dan motivasi, serotonin meningkatkan perasaan tenang dan nyaman, endorfin memberikan perasaan euforia dan kepuasan.
Nah, sekarang kalian jadi tahu kenapa healing itu membuat kita bahagia kan? Jadi, tetap jaga work life balance kalian ya!
Zoera Dhestreian Lacitara, Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya.
