Konten dari Pengguna

Melampaui Ilmu Pengetahuan, Urgensi Belajar Tatakrama

Leonardo

Leonardo

Mahasiswa di Universitas Airlangga

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Leonardo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
sumber: pexels.com

"Jika kamu tidak menghormati yang lebih tua, dan tidak menyayangi yang lebih muda, maka kamu bukan dari golongan kami." Begitulah sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Tirmidzi. Sebuah pesan yang sederhana, tetapi sarat makna, mengajarkan kita tentang pentingnya hidup dalam harmoni, saling menghormati, menyayangi, dan menebarkan kasih sayang di antara sesama.

Di tengah dunia yang semakin individualistis, ajaran ini seolah menjadi oase di padang tandus. Betapa banyak kita menyaksikan manusia yang kian kehilangan adab, melupakan sopan santun, dan meremehkan nilai-nilai luhur yang seharusnya menjadi fondasi kehidupan sosial. Jika bukan Muhammad yang kita jadikan teladan, lalu kepada siapa lagi kita akan mencari panutan? Bukankah beliau adalah sebaik-baiknya manusia, pemimpin yang penuh cinta, dan teladan utama dalam akhlak?

Kini, saat peradaban semakin maju, namun moralitas justru merosot, bukankah sudah saatnya kita kembali kepada ajaran-ajaran luhur ini? Merenungkan kembali makna penghormatan kepada yang lebih tua, kasih sayang kepada yang lebih muda, serta hidup dalam keberkahan adab dan etika. Sebab, ilmu tanpa akhlak hanyalah kehampaan, dan peradaban tanpa tatakrama hanyalah ilusi kemajuan.

Aku dan Egoisku

Aku adalah anak seorang petani. Sejak kecil, aku terbiasa melihat ibu menandur di sawah, membanting tulang di bawah terik matahari, sementara bapak sibuk merawat satu-satunya sapi di kandang. Sapi itu bukan sekadar hewan ternak, melainkan harapan besar bagi keluargaku, harapan agar kelak, ketika aku dewasa, bisa dijual dan uangnya kupakai untuk mendaftar kuliah.

Aku lahir dari keluarga sederhana, dari garis kehidupan yang penuh keterbatasan. Namun, kemiskinan bukan alasan untuk menyerah pada keadaan. Aku memiliki impian, dan aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan mengejarnya, berapa pun harga yang harus kubayar.

Aku rela menahan lapar, membiarkan perutku kosong lebih lama, agar uang jajanku bisa kutabung sedikit demi sedikit untuk tambahan biaya kuliah. Aku rela berjalan kaki jauh setiap hari, melewati jalanan berdebu dengan sandal yang mulai usang, karena ongkos perjalanan lebih baik kusimpan daripada kugunakan untuk kenyamanan sesaat.

Saat akhirnya berhasil masuk perguruan tinggi, aku menghadapi kenyataan lain: aku tak punya cukup uang untuk menyewa kos. Namun, itu tidak membuatku mundur. Malam-malam kulewati dengan menyelipkan diri di sudut-sudut kampus, mencari tempat tersembunyi agar bisa tidur tanpa diketahui satpam. Pagi-pagi buta aku harus bangun lebih dulu, menyapu jejak keberadaanku sebelum ada yang menyadarinya. Begitulah hari-hariku berlalu, belajar di siang hari, berjuang untuk bertahan di malam hari.

Di tengah perjuangan itu, aku bertemu dengan seorang, Ia melihat keteguhan dan kesulitanku, lalu mengulurkan tangan, memberiku sedikit bantuan. Mungkin baginya, itu hanya bantuan kecil, tetapi bagiku, itu adalah secercah cahaya di tengah gelapnya perjuangan. Aku merasa bisa bernapas lebih lega, meski hanya untuk sesaat.

Hari-hari penuh pengorbanan itu terus berlanjut. Aku menelan pahitnya keterbatasan, mengabaikan kenyamanan, dan terus melangkah meskipun jalannya penuh duri. Aku jatuh, bangkit, jatuh lagi, tapi tak pernah berhenti. Sampai akhirnya, aku berhasil. Aku menyelesaikan kuliahku, membuktikan bahwa kemiskinan bukan vonis yang menghentikan langkah, melainkan tantangan yang harus ditaklukkan. Tapi tentu, itu tidak lepas dari uluran tangan orang-orang yang membantuku.

Aku Hanya Miskin, Bukan Bodoh

Orang-orang dulu memandangku sebagai seseorang yang patut dikasihani. Mereka melihatku hidup dalam kesusahan, penuh keterbatasan, dan dianggap sebagai sosok yang layak dibantu, mereka melihat ada potensi dalam diriku. Aku dianggap bisa menjadi sesuatu, seseorang yang kelak berhasil, asalkan ada tangan-tangan yang menuntunku keluar dari kesulitan.

Maka, mereka membantuku. Aku dirawat, diberi tempat tinggal, bahkan diberi kesempatan untuk bertahan hidup di tengah kerasnya dunia. Tak hanya itu, aku juga diberi pekerjaan yang layak, sementara teman-teman seangkatanku masih sibuk ke sana kemari mencari kerja, mengetuk satu pintu ke pintu lainnya dengan penuh harap.

Aku? Aku tak perlu repot-repot. Segalanya sudah tersedia, tinggal kujalani. Mereka membiarkanku berdiri di atas kaki sendiri, meskipun sesekali, saat aku hampir jatuh, mereka masih sudi menopangku. Berkat mereka, aku bisa sedikit membantu perekonomian bapak dan ibu di kampung, setidaknya cukup untuk membuatku terlihat sebagai anak yang berbakti, meskipun sebenarnya aku hanya menikmati keberuntungan yang tak dimiliki banyak orang.

Bukan hanya itu, mereka juga mendukungku untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Aku disokong, diarahkan, dan dengan sedikit keberuntungan serta usaha, aku berhasil mendapatkan beasiswa untuk S2. Dan di titik ini, aku semakin menyadari satu hal: Aku Hanya Miskin, Bukan Bodoh.

Aku mulai berpikir, mengapa harus terus berada di bawah bayang-bayang mereka? Aku sudah lebih cerdas, lebih ulet, lebih tekun dari mereka. Aku yang dulu diberi makan, kini sudah bisa mencari makan sendiri. Aku yang dulu hanya mengikuti, kini bisa memimpin. Aku yang dulu tunduk pada mereka, kini tahu bahwa tunduk hanyalah kelemahan. Aku bisa lebih sukses dari mereka, lebih besar dari tangan-tangan yang dulu membesarkanku. Lalu, apakah aku harus tetap menghormati mereka? Haruskah aku terus berterima kasih?

Oh tentu tidak, Aku tidak peduli dengan kata "Terima Kasih". Itu hanya formalitas basi yang tidak mengenyangkan perutku. Aku hanya peduli pada masa depanku, pada karierku, pada pasanganku, hal-hal yang jauh lebih penting daripada sekadar mengingat jasa-jasa orang di masa lalu. Kenapa harus tunduk pada mereka yang dulu membantuku, jika aku kini bisa lebih tinggi dari mereka?

Sekarang, aku sudah terbang bebas, keluar dari zona yang dulu kuanggap penuh racun itu, zona yang bagiku penuh dengan belenggu. Tapi entah kenapa, meskipun aku sudah tidak ada lagi di sana, mereka orang-orang yang dulu "membantuku" kok seolah-olah baik-baik saja. Tidak ada yang berubah. Mereka tetap berjalan, seolah aku tidak pernah ada dalam hidup mereka. Apa aku memang tidak seberpengaruh itu? Apa aku hanya sekadar bayang-bayang yang tak pernah benar-benar mereka hargai? Atau mungkin, hanya perasaanku yang merasa bahwa aku itu “orang penting”?

Aku mulai berpikir, apakah aku harus menjadi korban dalam cerita ini? Apakah aku harus memainkan peran sebagai sosok yang tertindas, yang terlupakan? Mungkin, kalau aku bisa memutarbalikkan cerita, jika aku framing mereka sebagai pihak yang jahat, mereka yang selama ini dianggap sebagai penyelamat, mungkin aku bisa kembali mendapatkan perhatian.

Mungkin, jika aku membangun narasi bahwa mereka yang dulu membantuku itu seakan hanya memanfaatkan aku, aku bisa terus jadi pusat perhatian. Karena, siapa yang tidak suka cerita tentang orang yang teraniaya, bukan? Siapa yang tidak suka mendengar kisah tentang pengorbanan seorang pahlawan yang tak dihargai? Toh, drama itu selalu berhasil menarik atensi.

Aku sudah berhasil, dan bagiku, itu lebih dari cukup. Urusan moral? Urusan balas budi? Ah, biarkan saja, itu bukan urusanku. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal sentimentil semacam itu. Hidup terus berjalan, dan aku punya hal yang jauh lebih penting untuk kupikirkan, yakni bagaimana memastikan perutku tetap kenyang dan bagaimana memuaskan setiap hasrat yang ada di bawahnya.