Konten dari Pengguna
Salurkan Emosimu dengan Catharsis
15 Desember 2022 12:04 WIB

Kiriman Pengguna
Salurkan Emosimu dengan Catharsis
Menangis, berteriak, dan melampiaskan emosi secara berlebihan tentu bukan cara yang tepat untuk menyalurkan emosi. Ada catharsis, cara positif dalam menyalurkan emosi.Putri Adila Zahrani
Tulisan dari Putri Adila Zahrani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT

Pernahkah Kamu? Jika merasakan perasaan emosi, sedih, kecewa tetapi bingung untuk menyalurkan perasaan tersebut agar tidak berlebihan. Sedangkan, memendam dan menahan emosi juga bukan sesuatu yang baik dilakukan. Ada lho cara menyalurkan emosi tapi dengan cara yang positif dan tidak merugikan, yaitu dengan catharsis.
ADVERTISEMENT
Apa itu catharsis?
Teori Catharsis pertama kali diperkenalkan dalam Journal if abnormal social psychology yang berjudul “The Stimulating “Versus Chatartic Effect of a Vicarious Aggressive Activity” pada tahun 1960 yang menyatakan bahwa emosi yang tertahan dan terpendam dapat mengakibatkan ledakan emosi yang tak terkendali. Oleh karena itu, diperlukan penyaluran emosi yang terpendam itu. Dalam jurnal tersebut juga menyebutkan bahwa penyaluran emosi dengan catharsis memberikan seseorang menyalurkan emosinya dengan cara yang tidak merugikan
Jadi, catharsis adalah bentuk penyaluran emosi dengan cara yang positif dan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Sebagai contoh, ketik Kamu bertengkar dengan dengan teman sehingga dapat menimbulkan perasaan emosi, frustasi, dan tegang. Ketimbang melampiaskan perasaan tersebut dengan cara yang tidak tepat, Kamu dapat lebih baik menyalurkannya dengan cara yang sehat, yaitu dengan catharsis.
ADVERTISEMENT
Menurut (Elvina, 2005) Katarsis bermanfaat untuk menghilangkan atau merubah kebiasaan, menghilangkan kepercayaan negatif, mengurangi rasa sakit, memasukkan sugesti positif, mengurangi stress pasca trauma, dan membuat jiwa menjadi tenang.
Yang terjadi jika emosi tidak tersalurkan
Menahan emosi memang baik dilakukan sesekali untuk mencegah timbulnya masalah. Namun, tentu saja menjadi tidak baik jika dilakukan terus-menerus dan tidak disalurkan dengan cara yang tepat. Hal tersebut bisa tentu saja bisa berdampak buruk untuk diri sendiri ataupun orang lain disekitar kita dan juga berdampak tidak baik bagi kesehatan.
Dampak yang muncul dalam diri kita, yaitu yang pertama timbulnya dendam. Dijelaskan oleh Ikhsan Bella Persada,M.Psi., Psikolog, sering memendam dan menahan emosi dapat menimbulkan sifat dendam dalam diri. Karena emosi yang tidak tersalurkan dengan baik, tidak benar-benar hilang.
ADVERTISEMENT
Selain berdampak bagi diri sendiri memendam emosi juga bisa berdampak terhadap orang lain lho. Dampak yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain jika memendam amarah, yaitu emosi yang meledak mendasar pada orang yang salah. Memendam emosi bagi sebagian orang dilakukan karena tidak ingin merusak suasana dan melukai orang yang membuat marah tersebut. Tetapi tanpa disadari perasaan emosi, kesal, dan marah yang terpendam dapat meledak sewaktu-waktu pada orang yang tidak semestinya.
Lalu apa yang harus kita lakukan?
Nah, penyaluran emosi dengan cara yang positif dapat dilakukan dengan catharsis. Berikut penerapan catharsis dalam kehidupan sehari-hari :
1. Curhat dengan orang sekitar
Manusia merupakan makhluk sosial. Sebagai manusia kita butuh seseorang dalam menjalani kehidupan. Saat kita merasa sedih, kesal, kecewa, dan marah kita butuh seseorang yang dapat mendengarkan keluh kesah kita. Oleh karena itu, kita dapat mencurahkan isi hati kita kepada orang-orang disekitar, misalnya teman, sahabat, dan orang tua yang kita percaya ketika sedang mengalami masalah. Curhat dengan orang lain juga dapat membuat hati menjadi lega.
ADVERTISEMENT
2. Melakukan aktivitas seni
Berbagai aktivitas seni juga dapat menyalurkan perasaan seseorang, misalnya bernyanyi, menggambar, melukis, dan banyak sebagainya. Banyak orang yang saat sedih, stres, dan kesal memilih mendengarkan musik karena menurutnya mendengarkan musik dapat mengekspersikan perasaan emosi dan membuat hati menjadi lega.
Melukis juga dapat menyalurkan emosi seseorang. Dalam proses melukis seseorang dapat mengekspresikan perasaannya dalam bentuk gambar dan menjadi sebuah karya. Penerapan konsep untuk orang yang mengalami masalah kejiwaan umum disebut sebagai terapi seni.
3. Berolahraga
Perasaan sedih, kecewa, dan marah dapat menimbulkan stres dan kecemasan bagi manusia. Jika terus memikirkannya tentu saja akan memperparah kondisi tersebut. Oleh karena itu, kita perlu catharsis dalam membebaskan pikiran dan melepaskan diri dari kondisi ini.
Berolahraga merupakan salah satu cara terbaik dalam membantu perasaan menjadi lebih baik. Manfaat olahraga untuk suasana hati dapat membuat kita lebih bahagia dengan memicu produksi endorfin.
ADVERTISEMENT
4. Menulis
Nah, menulis juga termasuk dalam penyaluran emosi lho. Menulis salah metode paling terkenal dalam bentuk perwakilan penyaluran emosi. Melalui tulisan-tulisan kita dapat mengekspersikan emosi. Penyingkapan emosi yang dialami saat sedang menulis pengalaman emosional dianggap sebagai faktor yang menghasilkan efek teraupetik.
Menurut Pennebaker (1997) Proses teraupetik berpusat pada penyingkapan (disclosure) pengalaman - pengalaman emosional, penyingkapan diri dan pengakuan merupakan proses dasar yang muncul dalam psikoterapi dan secara alamiah muncul dalam interaksi sosial yang dianggap membawa manfaat secara psikologis dan bahkan fisik .
Menulis dapat dilakukan dengan membuat buku harian yang berisi tulisan-tulisan yang dapat menyalurkan emosi kita pada hati tersebut. Menulis juga mempunyai dampak positif karena dengan menulis kita dalam memanejemen diri.
ADVERTISEMENT
Nah, dari semua contoh aktivitas dalam proses catharsis. Manakah yang memiliki efek besar dalam hidup Kamu? Jikalau contoh-contoh aktivitas diatas belum cukup bagi Kamu menemukan jalan keluar. Jangan ragu untuk meminta bantuan Psikolog ya, Sobat!
Psikolog dapat memiliki kemampuan dalam membantu Kamu dalam menggali akar masalahmu. Mereka juga punya keahlian mengajarimu dalam menghadapi masalah.
Referensi
Aprinda Puji. (2021). hehellosehat. Diambil kembali dari Katarsis, Proses Pelepasan Emosi dan Cara Tepat Melakukannya: https://hellosehat.com/mental/gangguan-mood/katarsis/
Nisrina Rahmawati. (2020). Kajian Literatur Psikologi :Katarsis sebagai Bentuk Ekspresif Diri Mahasiswa pada Masa Pandemi COVID 19.
Sri Wahyuningsih. (2017). Teori Katarsis dan Perubahan Sosial.
Tri Yuniwati Lestari. (2021). Diambil kembali dari Dampak Buruk yang bisa terjadi Akibat Menahan Emosi: https:/www.klikdokter.com/psikologi/kesehatan mental/dampak-buruk-yang-bisa-terjadi-akibat-menahan-emosi
ADVERTISEMENT

