Konten dari Pengguna

Waspada Gaslighting!

Putri Adila Zahrani

Putri Adila Zahrani

Psychology student UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Adila Zahrani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi dari penulis
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi dari penulis

“Kamu terlalu terbawa perasaan”

“Memang kapan aku ngomong gitu?”

“Semuanya salahmu!”

Hati-hati ketika kalimat-kalimat tersebut keluar dari mulut orang disekitarmu. Bisa saja kamu menjadi korban gaslighting .

Tahukah kamu gaslighting?

Gaslighting adalah suatu bentuk siksaan emosi dimana sang pelaku memanipulasi situasi untuk menipu korban dalam mempercayai ingatan dan persepsi dirinya sendiri (Tracy, 2012).

Dr Robin Stern, associate director di Yale Center for Emotional Intelligence dan penulis The Gaslight Effect mengatakan bahwa biasanya "ketika orang dilecehkan ada tanda-tanda yang dapat Anda tunjukkan yang jauh lebih jelas. Seseorang yang telah dipukul atau diancam misalnya - mudah untuk melihat dan memahami bagaimana mereka telah terluka. Tetapi ketika seseorang memanipulasi Anda, Anda akhirnya menebak-nebak diri sendiri dan mengalihkan perhatian Anda kepada diri sendiri sebagai orang yang harus disalahkan".

Jadi, gaslighting dapat dikatakan suatu bentuk manipulasi dan kontrol psikologis yang berbahaya. Korban gaslighting dikontrol oleh pelaku melalui ucapan yang berisi informasi palsu, sehingga korban mempercayai dan mengakui dengan apa yang mereka dengar. Mereka akhirnya akan meragui ingatan, persepsi, dan bahkan kewarasan mereka. Sehingga gaslighter semakin kuat dan mengontrol korban secara fisik, emosional, dan finansial.

Siapa saja sih yang dapat menjadi pelaku gaslighting?

Pelaku gaslighting adalah mereka yang mempunyai gangguan kepribadian, gangguan kepribadian narsistik, dan psikopati. Seorang gaslighter tentu saja memiliki dua wajah, yaitu wajah yang pertama diperuntukkan korban dalam melancarkan aksinya memanipulasi korban dan satu lagi untuk ditunjukkan pada dunia, membuat korban berasumsi bahwa jika mereka meminta bantuan atau berbicara, tidak ada yang akan percaya bahwa mereka telah dimanipulasi dan dilecehkan secara emosional.

The Journal of Perinatal and Neonatal Nursing, menyebutkan pelaku gaslighting sering kali terjadi pada hubungan pacaran dan pernikahan. Perlakuan yang dialami korban dalam hubungan pacaran dimulai ketika kencan pertama, mereka sering memuji korban secara berlebihan sehingga keintiman dan kepercayaan terbangun. Semakin cepat seorang korban terpikat, semakin cepat fase manipulasi selanjutnya dapat dimulai.

Namun tak jarang, gaslighting bisa saja terjadi dalam hubungan pertemanan atau keluarga. Contoh gaslighting yang tanpa kita sadari dalam hubungan keluarga, yaitu menganggap orang tua selalu benar, terkadang orang tua tidak menerima kritikan atau pendapat anak terhadap dirinya hanya karena kalian orang tua anak dan lebih tua.

Tidak juga menutup kemungkinan lho.. gaslighting hadir dalam lingkungan pertemanan, biasanya dimulai dengan kalimat candaan yang menyakiti dan ketika kita sebagai korban merasa tersakiti, teman kita dengan mudah mengucapkan

“Itukan Cuma bercanda”

“kamu terlalu sensitif”

Kalimat yang kita anggap biasa, namun nyatanya sangat berdampak besar pada seseorang.

Gaslighting Menyerang Psikis

Gaslighting mempunyai banyak dampak yang merugikan korban terutama pada psikologis korban. Berikut dampak yang muncul pada korban yang mengalami gaslighting. Yuk kita simak!

1. Tidak dapat memvalidasi perasaan yang dimiliki

Korban memahami terdapat suatu hal yang salah dalam dirinya, tetapi sulit untuk menjelaskannya, sehingga korban mempertanyakan diri sendiri tentang apa yang terjadi dalam dirinya.

2. Merasa bingung dan tidak waras

Setelah tidak mampu memvalidasi perasaan yang dimilikinya, hal ini membuat korban bingung dan mulai kehilangan arah atas dirinya yang membuat korban seakan-akan tidak waras.

3. Sering meminta maaf kepada semua orang

Banyak sekali perkataan manipulasi pelaku terhadap korban yang membuat seakan-akan semua kesalahan ada pada korban, sehingga korban terus menerus meminta maaf. Padahal, tuduhan tersebut tidak benar. Perlakuan tersebut lah yang membentuk korban menjadi pribadi yang rendah diri dihadapan orang lain.

4. Menahan pendapat pribadi terhadap orang lain

Perlakuan Gaslighter yang semakin kuat dan mengontrol korban secara fisik, emosional, dan finansial. Gaslighter juga tidak pernah memberikan kesempatan korban berbicara mengutarakan pendapatnya karena menurutnya pendapat korban itu termasuk pembelaan diri dan menganggap dirinya lah yang benar. Sehingga korban menganggap dirinya tidak pantas pendapatnya dikeluarkan terhadap orang lain.

5. Sering berbohong untuk menjauhi realita

Psikis seorang korban gaslighting yang terganggu dapat menimbulkan perilaku yang tidak biasa sehingga menimbulkan pertanyaan orang-orang disekitarnya. Ketika ditanya orang-orang sekitar apa yang dia rasakan, biasanya korban sering berbohong tentang perasaannya karena telah dimanipulasi oleh gaslighter.

6. Merasa bahwa tidak dapat menjalankan apapun dengan benar

“Kamu bagaimana sih, begitu saja tidak bisa”

Berawal dari kata-kata remehan yang gaslighter lontarkan kepada korban membuat korban ketika melakukan suatu kesalahan kecil selalu menganggapnya itu adalah kesalahan yang besar sehingga menyalahkan dirinya sendiri tidak becus menjalankan apapun. Bahkan, ketika menjalankan sesuatu dengan benar pun Ia tidak percaya diri.

Nah, setelah kita mengetahui dampak yang begitu serius jika kita terjebak dalam gaslighting dan berdampak buruk pada psikologis dan emosionalmu bahkan dapat menurunkan produktivitas sehari-hari. Jangan ragu untuk pergi berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog untuk mendapat penanganan yang tepat.