Konten dari Pengguna

Eksistensi Budaya Ngopi di Masa Kini

Zseztar Juvendhitama

Zseztar Juvendhitama

Mahasiswa Jurnalistik di Politeknik Negeri Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zseztar Juvendhitama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kopi. Sumber: Pexels/Dijwar Siraj
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kopi. Sumber: Pexels/Dijwar Siraj

Langit malam tampak indah dengan taburan bintang. Imajinasi liar semakin menjadi karena secangkir kopi telah tersaji. Beginilah kebiasaan anak muda masa kini, menikmati kopi sembari nongkrong dengan kawan seperjalanan.

Dahulu, penikmat kopi berasal dari kalangan orang tua. Kini, kebiasaan minum kopi mulai digemari oleh anak muda.

Kebiasaan ngopi bagi generasi Z bukan sekadar untuk menghilangkan kantuk, tetapi juga menjadi teman kala bercerita dan berandai. Mereka mendapatkan inspirasi dari setiap cangkir kopinya.

Mengutip dari seorang penikmat kopi asal Depok, Gabriel Liberto, menurutnya saat ngopi, pikiran menjadi lebih terbuka, sehingga banyak ide-ide cemerlang yang masuk. Kopi memang cocok dinikmati saat mengerjakan tugas, maupun saat nongkrong bersama teman-teman sebaya.

“Biasanya kalau sedang mengerjakan tugas atau nongkrong bersama teman-teman, saya bisa menghabiskan 2 sampai 3 cangkir kopi susu,” kata Gabriel. Tak heran jika ia bisa menikmati bercangkir-cangkir kopi setiap harinya.

Apa yang menyebabkan para generasi Z tertarik untuk ngopi? Kemungkinan besar karena lahirnya coffee shop yang gerainya sudah banyak tersebar di setiap penjuru kota.

Konsepnya yang mewah, elegan, dan estetik membuat gerai kopi yang dulu sederhana berubah menjadi gerai kopi milenial yang biasa disebut coffee shop.

Diluar dari faktor kemewahan coffee shop, menikmati kopi pada waktu sore hari, pada saat matahari akan tenggelam dan memunculkan sunset yang biasa disebut senja. Oleh sebab itu, banyak dari mereka yang mengunggah foto di akun media sosialnya dengan latar belakang senja dan secangkir kopi yang mereka pesan.