Tari Sintren dan Pawang Hujan

Mahasiswa Jurnalistik di Politeknik Negeri Jakarta
Tulisan dari Zseztar Juvendhitama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia merupakan negeri yang kaya akan budaya serta memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah. Terdiri dari pulau-pulau yang membentang dari Sabang hingga Merauke, menjadikan Indonesia negeri yang kaya akan keindahan alamnya.
Hamparan pantai yang luas dengan hembusan angin seakan turut serta menghiasi suasana di bibir pantai. Jangan lupakan penampakan gagahnya paku bumi yang tersebar di berbagai pulau, ditemani dengan sejuknya udara di sekitar dan keasrian alam di kaki gunung.
Beragamnya suku bangsa di Indonesia juga membuat negeri kita kaya akan warisan budaya yang unik dan mengandung arti tersendiri. Salah satunya adalah Tari Sintren atau tari tradisional yang berasal dari Kota Cirebon. Tari Sintren sendiri berasal dari kisah cinta antara Sulasih dengan Sulandono, yang tidak direstui oleh ayah dari Raden Sulandono, yaitu Ki Baurekso.
Tari Sintren biasanya digelar 40 hari berturut-turut untuk meminta hujan ketika kemarau panjang. Namun, seiring perkembangan zaman Tari Sintren ini sudah jarang dilakukan oleh masyarakat setempat. Kini, Tari Sintren merupakan sebuah kesenian dari tradisi nusantara peninggalan leluhur yang perlu dilestarikan.
Jika membahas perihal tradisi meminta hujan, tentu profesi pawang hujan tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Bermodalkan ilmu yang diwariskan oleh leluhur, para pelaku pawang hujan biasanya akan melakukan ritual khusus, seperti berpuasa mutih. Pelaksanaan puasa mutih mengharuskan pelakunya hanya mengonsumsi bahan makanan yang berwarna putih.
Sebagian masyarakat Indonesia percaya, pawang hujan dapat menghentikan curah hujan sesuai dengan lokasi yang diminta. Namun, pada dasarnya pawang hujan sebenarnya hanya memindahkan awan yang berpotensi hujan ke tempat lain seperti laut atau pantai, tentunya dengan ilmu khusus yang dimilikinya.
Dengan demikian, pawang hujan hanya berperan untuk menahan turunnya hujan, bukan menghilangkan hujan. Pemindahan awan yang berpotensi menurunkan hujan, tentunya berdasarkan survei yang telah dilakukan sebelumnya.
Perkembangan teknologi seolah tidak menurunkan eksistensi pawang hujan di Indonesia, padahal di Negeri Tirai Bambu para ilmuwan sudah menciptakan alat penetrasi hujan. Prinsip kerjanya tidak jauh berbeda dengan pawang hujan, hanya saja menggunakan cara yang lebih modern.
Sebagian masyarakat yang masih kental dengan budaya warisan leluhur akan memakai jasa pawang hujan untuk menghalau turunnya hujan, sehingga ritual tersebut masih sangat dibutuhkan oleh sebagian masyarakat, khususnya pada saat pelaksanaan acara tertentu.
