Konten dari Pengguna

Kemenangan Iran

Zuhairi Misrawi

Zuhairi Misrawi

Analis Politik Timur-Tengah, Geopolitik, Pemikiran Islam Kontemporer

·waktu baca 5 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zuhairi Misrawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Warga Iran menghadiri upacara peringatan 40 hari sejak almarhum Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan Israel dan AS, di Teheran, Iran, Kamis (9/4/2026). Foto: Majid Asgaripour/WANA via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Warga Iran menghadiri upacara peringatan 40 hari sejak almarhum Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan Israel dan AS, di Teheran, Iran, Kamis (9/4/2026). Foto: Majid Asgaripour/WANA via REUTERS

Setelah 40 hari perang melawan Amerika Serikat-Israel, Iran layak merayakan kemenangan sekaligus memperingati 40 hari gugurnya Ayatullah Ali Khemenei. Warga Iran turun ke jalan, tumpah ruah, termasuk Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Mereka tenggelam euforia kemenangan. Kemenangan ini memang layak dirayakan, khususnya setelah Iran berhasil mengajukan 10 poin yang akan dibahas dalam perundingan di Pakistan.

Dari 10 poin yang diajukan Iran, secara eksplisit kita dapat menilai dan berkesimpulan perihal kemenangan Iran. Akhirnya, AS menerima 10 poin Iran yang diajukan Iran untuk menjadi bahan perundingan. 10 poin tersebut belum tentu semuanya akan diterima AS, tapi AS tidak mempunyai pilihan selain memilih jalur diplomasi.

Kemenangan Iran ini juga bisa dilihat secara terbalik, baik di Amerika Serikat maupun Israel. Meskipun Presiden Trump berulang kali menyatakan bahwa AS telah memenangi perang dengan Iran, tidak ada perayaan kemenangan sebagaimana terjadi di seantero Iran. Alih-alih merayakan kemenangan, warga AS justru turun ke jalan menentang keputusan perang terhadap Iran. Bahkan muncul gerakan, baik di Kongres maupun Senat AS untuk memakzulkan Presiden dan Wakil Presiden. Sedari awal perang, banyak analis dan cerdik-cendekia Amerika Serikat yang memprediksi kegagalan Trump dalam perang melawan Iran.

Begitu halnya di Israel, tidak ada perayaan kemenangan. Klaim kemenangan yang kerap dikhutbahkan Netanyahu direspons sepi oleh pendukung dan pihak oposisi di Israel. Dalam dua perang terakhir dengan Iran, Israel semakin terlihat rapuh dan mudah dihujani rudal-rudal Iran. Israel yang selama ini dikenal sebagai wilayah yang tidak tersentuh rudal-rudal dari negara lain, toh faktanya mudah ditembus oleh rudal-rudal terbaru Iran. Maknanya, Israel tidak bisa lagi mengeklaim sebagai negara yang mampu menangkal rudal-rudal dari Iran.

Saat ini, Israel berada pada titik terendah, baik di mata warganya maupun warga dunia. Israel harus menerima kenyataan pahit, bahwa Iran dan proksi perlawanan di kawasan telah menjadi ancaman serius, yang setiap saat bisa mengganggu, bahwa Iran dapat menghempaskan mereka kapan saja. Andai saja tidak dibantu Amerika Serikat, Israel bisa benar-benar tamat.

Kemampuan rudal-rudal Iran dalam menghancurkan pangkalan militer di Negara-Negara Teluk dan sejumlah sasaran strategis di Israel telah memberikan pelajaran berharga, bahwa Iran tidak bisa lagi dianggap sebelah mata. Iran tidak bisa lagi dianggap sebagai negara lemah secara militer. Iran sebelum dan setelah perang tidaklah sama.

Seorang wanita memegang foto mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, selama upacara peringatan 40 hari kematian Ayatollah Ali Khamenei di di Teheran, Iran, Kamis (9/4/2026). Foto: Majid Asgaripour/WANA via REUTERS

Di Tanah Air, setelah 40 hari perang, bahkan setelah perang 12 hari pada bulan Juni lalu, warganet memberikan apresiasi dan simpati yang setinggi-tingginya kepada Iran. Kedutaan Besar Iran di Jakarta didatangi oleh ribuan warga sebagai bentuk simpati dan empati, warga menyampaikan belasungkawa atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khemenei.

Mereka juga memberikan bantuan materiil dengan mentransfer ke rekening yang disediakan Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta, yang secara simbolik merupakan dukungan moril bagi Iran. Bahkan, anak-anak yang baru lahir diberi nama Ali Khemenei sebagai harapan agar mereka nanti tumbuh menjadi pemimpin yang alim, tulus, sabar, berani, teguh, dan kokoh di tengah ancaman negara adidaya sekalipun.

Pemandangan tersebut mirip pada tahun 1979 saat Revolusi Islam Iran. Sosok Khomeini menjadi figur dan ikon di dunia Islam, termasuk di Indonesia. Revolusi yang dipimpin Khomeini dapat menggulingkan rezim Shah Pahlevi yang dikenal sangat dekat dengan Amerika Serikat. Sejak 1979 hingga saat ini, Iran menjadi di antara negara yang tidak mempunyai Kedutaan Besar Amerika Serikat. Bahkan, Kedutaan Amerika Serikat pada masa rezim Shah Pahlevi masih menjadi “monumen revolusi”.

Lalu, pada aspek mana dapat disebut sebagai kemenangan Iran? Pertama, kemenangan strategis. Kemenangan strategis ini membuktikan Iran sebagai negara yang mempunyai kualitas pendidikan dan perhatian pada sains, termasuk dalam pengembangan alutsista dalam perang teranyar. Kekuatan logika, matematika, nalar, akal budi, dan akal sehat menjadi pemandangan yang mengemuka selama perang.

Istimewanya, pemandangan ini terlihat menjadi pemandangan umum. Setelah gugurnya Ayatullah Ali Khomenei, lalu diganti oleh Mojtaba Ali Khomenei hampir tidak ada yang berubah. Pergantian rezim yang ditengarai Trump sebagai akhir dari Republik Islam Iran, ternyata salah besar. Iran di bawah kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Ayatullah Mojtaba Ali Khomenei menunjukkan keunggulan yang serupa. Bahkan, serangan Iran ke Israel dan pangkalan militer di negara-negara Teluk semakin eskalatif dan mematikan.

Kemenangan strategis ini telah membangkitkan kesadaran negara-negara sekutu Amerika Serikat, seperti negara-negara Uni Eropa, Inggris, dan Australia untuk mengambil jalan berbeda. Secara terbuka mereka tidak memberikan dukungan militer terhadap AS. Bahkan, sebagian dari mereka secara terang-terangan menentang serangan AS-Israel ke Iran. Sebab itu pula, Presiden Trump secara terbuka menyampaikan kekecewaannya terhadap NATO, khususnya negara-negara Eropa.

Kedua, kemenangan diplomasi. Iran sejak lama menunjukkan negara yang berpegang pada jalur diplomasi. Bahkan, Iran diserang saat masih melakukan diplomasi. 10 poin yang diajukan Iran melalui mediator Pakistan menunjukkan keteguhan dan keberanian dalam diplomasi. Tidak hanya itu, di panggung diplomasi, Iran mampu menunjukkan figur-figur diplomat dan juru bicara yang tangguh dan memikat publik. Salah satu sosok diplomat yang menarik perhatian publik internasional, termasuk di Tanah Air, yaitu Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Cuitan Trump yang dikenal sarkastik dibalas dengan santai dan canda yang tidak jarang menghujam.

Ketiga, kemenangan ideologis. Di balik keberanian, keteguhan, ketulusan, dan kesabaran yang ditunjukkan Iran, dari Pemimpin Tertinggi hingga warganya merupakan buah manis dari ideologi yang ditanamkan Imam Khomeini sejak revolusi Islam Iran 1979. Kedaulatan, kemandirian, dan berkepribadian dalam kebudayaan menjadikan Iran sebagai negara yang mampu menunjukkan identitasnya sebagai peradaban besar. Iran bukan hanya sekadar sebuah negara, melainkan sebuah peradaban adiluhung.

Pada tahun 2005, Ayatullah Ali Khemenei mencanangkan visi Iran 2025, yang di dalamnya merupakan pengembangan dari visi Revolusi Islam Iran 1979, dengan menjadikan ekonomi, pendidikan, sains, dan persenjataan mutakhir. Kini, pada tahun 2026, Iran benar-benar memetik buahnya.

Iran memberikan pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa ideologi, diplomasi, dan strategi merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan. Ketiganya merupakan fondasi penting dalam konteks negara-bangsa untuk membangun peradaban besar. Harian terbesar di Amerika Serikat menulis, "The War is Turning Iran Into a Major World Power".