Konten dari Pengguna

Kriteria Pemimpin Dalam Kitab Kuno Aceh

Zuhri Noviandi

Zuhri Noviandi

Pecinta Kopi - Menulis Untuk Beramal

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zuhri Noviandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kriteria Pemimpin Dalam Kitab Kuno Aceh
zoom-in-whitePerbesar

Minggu ke-tiga Desember 2018 lalu saya memanjakan tubuh di atas kursi kayu salah satu warung kopi di kawasan Lampineung, Banda Aceh. Warung ini cukup nyaman bagi saya untuk menyerumput kopi menyambut pagi.

Saya memilih kursi bagian pojok warung. Memesan kopi hitam setengah tandas dan sebungkus nasi gurih. Dalam bahasa Aceh disebut Bu Prang. Nasi ini favorite saya mengisi kekosongan perut sebelum berangkat kerja.

“Terimakasih bang,” kata saya pada Bang Din, pekerja warkop tersebut, saat mengantarkan pesanan.

Di sela-sela itu saya membuka layar laptop mengupdate informasi pagi. Tak sengaja membuka laman twitter, seketika mata terasa geram melihat fenomena dilaman sosial media berlogo burung tersebut. Kicauan simpatisan pasangan capres-cawapres saling menjelekkan bahkan mengeluarkan beberapa kalimat soal agama.

“Agama kok seperti dijual,” gumam saya dalam hati.

Mirisnya lagi sesama simpatisan saling menguji keislaman masing-masing calon. Mereka mempromosikan kalau pasangan A paling islami begitu juga dengan pasangan B yang tak mau kalah. Perdebatan soal agama, dukungan ulama, siapa paling pintar baca alquran hingga kini terus disuarakan.

Pesta demokrasi di Indoesia sudah di depan mata. 17 April 2019 mendatang masyarakat seluruh penjuru tanah air bakal berbondong-bondong menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS). Mari kita buka pikiran jernih, biarkan masyarakat memilih pasangan pemimpin sesuai hati nurani mereka masing-masing.

Kriteria Pemimpin Dalam Kitab Kuno Aceh

Dalam kitab Kuno Aceh (Manuskrip) Tajjussalatin (Mahkota Raja-raja) karya Bukhari Al Johari, mengupas secara rinci cara bertata negara pada masa Kesultanan Aceh Abad 17 Masehi. Kitab karya Bukhari Al Johari selesai ditulis pada 1012 Hijrah (1603 Masehi).

Kriteria Pemimpin Dalam Kitab Kuno Aceh (1)
zoom-in-whitePerbesar

Isi di dalamnya mengupas tentang ilmu politik dan kepemimpinan. Kolektor Manuskrip Aceh, Tarmizi menceritakan, Bukhari Al Johari merupakan seorang ahli tata negara dan ahli firasat. Hasil guratan tinta ulama sufi ini sudah mengharumkan nama Aceh ke sentero dunia disamping harumnya Bustan Al Salatin (Taman Raja-raja).

“Naskah yang sangat masyur ini telah memberikan konsep perpolitikan islam secara signifikan,” ujar Tarmizi saat kami berdiskusi.

Naskah Kuno Tajjussalatin ini berisi lima pokok landasan sebagai acuan seorang pimpinan. Dalam sejarah para leluhur di Aceh maupun Nusantara, kitab politik ini menjadi bahan bacaan wajib di sekolah- sekolah kala itu. Persoalan yang hangat pada masa itu ialah masalah politik dan pemerintahan.

Pemerintahan Aceh pernah mengalami krisis internal, salah satunya sumber daya intelektual yang menyebabkan Sultan Sayyid al-Mukammil dipaksa turun tahta oleh dua orang anaknya. Kemudian disisi lain Aceh juga sedang giat-giatnya berusaha meluaskan pencaplokan wilayah penguasaannya (Anexatie) bersama proses Islamisasi, karena beberapa negeri yang penduduknya belum beragama Islam, seperti Tanah Batak dan Karo, juga ditaklukkan.

Bukhari al-Jauhari, dalam kitabnya berusaha menjelaskan bagaimana seharusnya raja-raja Melayu yang beragama Islam memimpin sebuah negeri yang penduduknya beragam etnik, multi-agama, multi-ras dan multi-budaya. Bukhari al-Jauhari mengemukakan sistem kenegaraan yang ideal, dan peranan seorang pemimpin yang adil dan benar.

Lima landasan acuan bagi seorang pimpinan atau syarat memilih pemimpin negeri dan daerahnya maka seorang pemimpin itu harus memiliki sifat Hifz, Fahm, Fikr, Iradat, dan Nur.

Kriteria Pemimpin Dalam Kitab Kuno Aceh (2)
zoom-in-whitePerbesar

Tarmizi menyebutkan kelima landasan itu ialah:

Hifz; bagaiaman seorang pemimpin memelihara kepercayaan rakyat, dan menunaikan kewajiban janjinya. Kemudian seorang pemimpin itu adalah orang yang memiliki ingatan kuat, cerdas dan cakap. Ini menjadi modal dasar membangun negeri.

Fahm; Cepat tanggap dalam semua persoalan dalam negeri dan rakyatnya.

Fikr; Idealis, tajam pikiran dan luas wawasannya.

Iradat; Visi misi, prospek dan target. Pemimpin lebih mengutamakan rakyat daripada pribadi dan kelompoknya, menghendaki kesejahteraan, kemakmuran dan kemajuan untuk seluruh golongan masyarakat.

Nur; cahaya atau penerang, yaitu sikap pemimpin yang bersih, jujur diatas segalanya.

***

Semoga catatan karya Bukhari Al Johari ini bisa menjadi acuan bagi kita memilih presiden nanti.

Salam Damai, jangan lupa ngopi.