Meja Makan, Cermin Kehangatan Sebuah Keluarga

Mahasiswa Aktif Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Zuiyanggi Ritonga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di zaman sekarang, banyak keluarga yang makin jarang berkumpul. Kesibukan kerja, tugas kuliah, dan hiburan digital seperti HP dan TV membuat waktu kebersamaan jadi berkurang. Bahkan, makan pun sering dilakukan masing-masing, entah di kamar atau sambil scroll media sosial. Padahal, hal kecil seperti makan bersama, banyak hal penting bisa terjadi asal kita sadar akan maknanya.
Bukan Sekadar Furnitur, Tetapi Simbol Kehangatan
Seperti yang kita tahu, meja makan adalah sebuah furnitur yang sering kita gunakan untuk makan, dan bisa kita dapati di mana saja, baik di rumah, kantor, sekolah, kantin dsb. Tetapi yang dibahas di sini adalah bukan makna yang hanya sekadar tempat untuk makan saja; namun jika ditelusuri lebih luas, ada makna tersembunyi yang akan kita ketahui bahwa di setiap meja makan, khususnya yang ada di dalam rumah, itu memiliki makna penting untuk sebuah keharmonisan keluarga.
Seperti yang saya alami sendiri di rumah, keluarga kami itu menerapkan prinsip atau kebiasaan makan bersama di setiap jam makan, baik makan pagi, siang maupun makan malam. Jadi, kami 6 bersaudara, dengan ayah dan ibu, sudah memiliki bangku masing-masing di meja makan, dan bangku yang sama akan diduduki di setiap jam makannya. Meja makan di rumah juga tidak hanya kami gunakan untuk menikmati sajian saja, tetapi setelah selesai makan, kami sering berbincang, bertukar cerita, tawa, momen-momen apa saja yang dilewati selama berkegiatan di luar rumah. Kami bisa berdiskusi atau bahkan beberapa perdebatan bisa selesai di atas meja makan. Ayah dan ibu saya menerapkan kebiasaan ini karena mereka beranggapan jika tidak makan bersama di meja makan, mau di mana lagi kami bisa berkumpul dengan lengkap di tengah sibuknya kegiatan di luar, seperti kakak-kakak saya yang sibuk dengan pekerjaannya dan saya sendiri juga sibuk dengan tugas kuliah.
Hal yang seperti itu juga yang saya rindukan jika jauh dari rumah, apalagi sekarang saya sedang merantau ke Jakarta, jika dikos sendiri tidak ada meja makan yang mungkin menjadi sebuah simbolis kehangatan yang saya rasakan saat di rumah. Bahkan terkadang saya sengaja makan di warteg dengan alih-alih agar merasakan vibes makan di meja makan, walaupun tidak sama rasanya dengan saat makan di meja makan rumah.
Terkadang, bukan bagaimana bentuk, harga dan di mana kita temui si meja makan ini, tetapi mau sebagus dan semahal apa pun sebuah meja makan, jika tidak ada rasa kebersamaan dan kehangatan yang dirasakan, maka sama saja dengan meja makan yang sering kita temui. Bukan juga sajian yang ada di atas meja makan; malah jika steak, salmon, syusi, spaghetti sekalipun, hidangannya tidak akan berasa nikmat jika makan sendirian. Jadi walaupun makan dengan nasi dan telur ceplok plus taburan kecap manis sekalipun, jika bersama keluarga, itu rasanya seperti makan di restoran mewah, apalagi masakan ibu yang tidak ada tandingannya.
Sebenarnya bukan makna meja makan nya, tetapi bersama siapa kita ada di meja makan tersebut. Mungkin beberapa keluarga di rumah mereka tidak memiliki sebuah meja makan di dalam rumah; itu tidak memungkiri bahkan mereka lebih banyak merasakan keharmonisan dan kehangatan dengan makan lesehan bersama keluarga.
Makan Bersama Itu Berkah, Bukan Basa-basi
Menurut penelitian, saat makan bersama orang lain, kita cenderung menghabiskan waktu lebih lama di meja makan untuk mengobrol. Akibatnya, tangan kita terus meraih makanan, meskipun sebenarnya sudah kenyang. Menariknya, studi juga menemukan bahwa mood positif yang dihasilkan dari kebersamaan dapat meningkatkan hawa nafsu makan. Saat kita bahagia, tubuh memproduksi lebih banyak hormone dopamine, yang juga dapat meningkatkan rasa puas saat makan.
Menariknya lagi, meja makan juga punya nilai budaya dan spiritual. Dalam islam, makan bersama itu dianjurkan karena bisa mempererat silaturahmi dan mendatangkan keberkahan. Rasulullah Saw bahkan biasa makan bersama para sahabat satu piring. Ini bukan hanya soal makan, tetapi soal bagaimana nilai-nilai kebersamaan, empati dan kepedulian dibangun dari hal yang tampaknya sederhana.
Meja Makan dalam Musik dan Kehidupan Nyata
Salah seorang musisi Indonesia, Sal Priadi, di dalam lagunya yang berjudul “Kita Usahakan Rumah itu” menurut saya memiliki lirik yang sangat menyentuh hati, dan ada bagian lirik yang menarik perhatian saya.
Karena kalau nanti kita punya kesibukan, malam tetap kumpul di meja panjang, ruang makan kita berbincang, tentang hari yang panjang.
Jadi, lirik tersebut memaknai bahwa meja makan tidak hanya untuk makan bersama, tetapi juga tempat menuangkan segala keluh kesah maupun bahagia, yang dilewati selama seharian penuh dengan kesibukan masing-masing dan rumah juga akan menjadi tempat untuk pulang yang benar-benar pulang jika di dalamnya orang yang kita cintai.
Idola saya juga memiliki pendapat yang sama tentang pentingnya "meja makan" bagi keluarga di dalam rumah, Rony Parulian Nainggolan, seorang penyanyi jebolan Idonesian Idol season 12 yang mendapat gelar juara 3.
"Hal yang paling kuat di rumah itu, menurutku, adalah selain kebersamaanya. kalau kita ngomongin peralatan atau perabotan rumah tangga, meja makan itu penting. Ya, kalaupun tidak di meja makan, paling tidak kita, keluarga, itu bisa duduk makan bersama."
Dia ditanya, “Apa yang paling di syukurin di hidup ini?” Lalu dia menjawab: “Masih bisa semeja makan sama keluarga. Dahulu, orang tua ku, khususnya bapak, itu memberikan takhta yang sangat tinggi untuk yang namanya keluarga. Jadi di rumah itu, paling tidak harus punya meja makan buat makan sama-sama. Walaupun mungkin tidak ada meja makan, setidaknya bisa lesehan bersama di rumah dan makan bersama. Itu penting sih, menurutku, juga bisa menjaga keharmonisan keluarga”.
Dan dia menambahkan lagi, "Mengapa aku bilang hal yang paling aku syukuri adalah bisa makan bersama? karena jarang sekali bisa mendapat kesempatan itu, apalagi di zaman sekarang, budayanya yang seharusnya tidak sehangat itu. Apalagi ini dalam hal makan doang, ya. Biasanya, makan ya tinggal makan. Kalau mau makan, ya makan sendiri. Tetapi di keluargaku, aku bersyukur, aku punya bapak yang sangat menjunjung tinggi yang namanya kekeluargaan."
Jadi, bisa disimpulkan bahwa meja makan bukan hanya sekadar tempat untuk makan, tetapi memiliki makna yang lebih dalam sebagai simbol kebersamaan dan kehangatan dalam keluarga. Di tengah kesibukan zaman sekarang, makan bersama menjadi momen penting untuk berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga keharmonisan. Bahkan, nilai-nilai kebersamaan ini juga sejalan dengan ajaran agama dan budaya. Maka dari itu, kebiasaan sederhana seperti makan bersama di meja makan seharusnya tetap dijaga, karena di sanalah cinta, perhatian, dan kekeluargaan tumbuh dan terasa nyata.
