Penguatan Nilai Ketuhanan Melalui Pembiasaan Agama pada Anak Usia Dini

Zulfa Syabila Anggraeni Universitas Negeri Yogyakarta (PGPAUD) Mahasiswa
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari ZulFaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan Kewarganegaraan pada jenjang anak usia dini pada hakikatnya merupakan upaya strategis dalam memupuk karakter dasar berbangsa dan bernegara yang bersumber dari nilai-nilai luhur Pancasila. Dalam konteks ini, Sila Pertama, "Ketuhanan Yang Maha Esa", memegang peranan kunci sebagai fondasi moral dan spiritual yang mendasari pembentukan karakter anak secara utuh. Praktik pengajaran hafalan surat-surat pendek Al-Qur'an yang diterapkan di lembaga pendidikan anak usia dini merupakan salah satu implementasi nyata dalam mengenalkan nilai keagamaan, memperkuat identitas spiritual, serta menumbuhkan rasa cinta kepada Sang Pencipta sejak dini. Mengingat anak berada pada periode emas perkembangan (golden age), daya serap kognitif dan memori mereka sangat potensial untuk menerima pembiasaan positif. Pembiasaan religius ini bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan sarana efektif untuk menanamkan rasa syukur, ketenangan jiwa, dan kesadaran akan keberadaan Tuhan dalam kehidupan mereka.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa metode pengajaran yang digunakan guru masih cenderung bersifat klasikal, kaku, dan kurang bervariasi. Dalam prosesnya, guru kerap hanya mengandalkan metode drill (mengulang-ulang bacaan secara terpusat) sembari menuntut anak-anak untuk duduk tenang dan rapi dalam durasi yang cukup lama. Padahal, dunia anak usia dini pada dasarnya adalah dunia bergerak dan bermain, di mana rentang perhatian (attention span) mereka sangat terbatas. Pendekatan yang terlampau monoton ini acap kali memicu rasa jenuh, membuat anak yang bertipe kinestetik mudah gelisah, hingga kehilangan fokus di tengah kegiatan. Lebih jauh lagi, tantangan semakin kompleks karena adanya ketimpangan kecepatan mengingat antar-anak; anak yang lambat menghafal berisiko merasa cemas atau tertinggal, sementara anak yang aktif justru mencari kesibukan lain. Akibatnya, kegiatan menghafal surat pendek yang berharga ini berisiko menjadi sekadar rutinitas lisan yang melelahkan bagi anak, tanpa benar-benar terserap menjadi pemaknaan perilaku keagamaan yang menyenangkan.
Guna mengatasi persoalan tersebut, pendekatan pembelajaran harus ditransformasikan menuju metode kontekstual yang ramah anak, yaitu mengintegrasikan hafalan surat pendek dengan strategi belajar berbasis bermain (play-based learning), bercerita (storytelling), serta keteladanan langsung (modeling). Pendidik dapat memanfaatkan media pohon hafalan interaktif, kartu bergambar (flashcard), serta gerakan tubuh sederhana (gesture) untuk setiap potongan ayat agar anak kinestetik dan visual bisa ikut berpartisipasi dengan ceria. Sebelum melafalkan ayat, guru dapat mendongengkan kisah singkat yang relevan; misalnya menjelaskan bahwa Surah Al-Ikhlas mengajarkan kita percaya pada Tuhan yang Maha Esa, sedangkan Surah Al-Falaq dan An-Nas adalah “doa perlindungan” saat anak merasa takut akan kegelapan atau mimpi buruk. Berbagai studi literatur dan penelitian menegaskan bahwa internalisasi nilai-nilai karakter religius pada anak usia dini akan mencapai tingkat keberhasilan tertinggi dan bertahan dalam jangka panjang apabila dilaksanakan melalui suasana yang menyenangkan, tanpa paksaan, serta ditunjang oleh konsistensi sikap dan keteladanan positif dari guru dan orang tua di lingkungan sekitar.keberhasilan internalisasi nilai ketuhanan ini juga sangat bergantung pada pilar- pilar kolaborasi antara sekolah dan lingkungan keluarga. Integrasi nilai keagamaan dalam ruang tumbuh anak bertindak sebagai filter alami (filter moral) di tengah pesatnya paparan teknologi dan era digital.Lingkungan yang suportif dapat menjadi benteng fondasi karakter yang kuat sehingga membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, tahu sopan santun, mampu mengelola emosinya dengan baik, serta memiliki pegangan moral yang kuat saat berinteraksi bersama dengan teman dan lingkungannya sehari-hari.
