Bank Sampah: Langkah Nyata Menuju Pasar Ramah Lingkungan

Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah di Universitas Islam Negeri K.H ABDURRAHMAN WAHID PEKALONGAN
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Zulaycha Madina Alivia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap hari, pasar menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, di balik ramainya aktivitas jual beli, ada persoalan yang sering luput dari perhatian, yaitu sampah. Plastik pembungkus, botol minuman, dan kemasan makanan kerap menumpuk setelah kegiatan perdagangan selesai. Apakah menyediakan tempat sampah saja cukup untuk menjadikan pasar ramah lingkungan? Tentu tidak. Pasar yang ramah lingkungan membutuhkan perubahan kebiasaan seluruh pihak, dan bank sampah dapat menjadi salah satu langkah nyata untuk mewujudkannya.
Sampah dan Realitas Pengelolaannya
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa pada 2026, sekitar 75% sampah atau 108 ribu ton per hari belum terkelola, sedangkan sekitar 25% atau 35 ribu ton per hari telah terkelola. Data tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Dalam konteks pasar, aktivitas jual beli turut menghasilkan sampah setiap hari, mulai dari kemasan plastik hingga sisa bahan pangan. Tanpa upaya pengurangan dan pemilahan, sampah berpotensi terus menumpuk dan menambah beban lingkungan.
Persoalan tersebut menunjukkan perlunya pengelolaan sampah yang tidak hanya berfokus pada pembuangan, tetapi juga pada pengurangan dan pemanfaatan kembali. Salah satu upaya yang dapat dikembangkan adalah bank sampah, yaitu sistem yang memungkinkan sampah terpilah memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Bank Sampah Bukan Sekadar Tempat Menampung Sampah
Bank sampah dapat menjadi bagian penting dalam pengelolaan pasar karena mendorong masyarakat memilah sampah berdasarkan jenisnya sebelum disetorkan untuk ditimbang, dicatat, dan disalurkan kepada pihak yang dapat memanfaatkannya. Botol plastik, kardus, dan kertas yang masih layak didaur ulang berpeluang menghasilkan pendapatan atau tambahan tabungan bagi masyarakat.
Namun, manfaat bank sampah tidak hanya terletak pada nilai ekonominya. Keberadaannya juga dapat membangun kesadaran bahwa sampah perlu dikelola sejak awal, bukan sekadar dibuang setelah digunakan. Meski demikian, tidak semua sampah memiliki nilai jual. Hasil yang diperoleh bergantung pada jenis dan kualitas sampah, harga pasar, serta ketersediaan mitra pengolahan. Karena itu, keberhasilan bank sampah perlu dinilai dari kemampuannya mengurangi sampah dan memastikan material yang terkumpul benar-benar dimanfaatkan kembali.
Pasar Ramah Lingkungan Tidak Cukup dengan Bank Sampah
Bank sampah memang layak didukung, tetapi menjadikannya satu-satunya solusi merupakan cara pandang yang kurang tepat. Jika sampah terus dihasilkan dalam jumlah besar tanpa upaya pengurangan sejak awal, bank sampah hanya akan menangani sebagian persoalan. Oleh sebab itu, pasar ramah lingkungan harus dibangun melalui perubahan sistem pengelolaan sekaligus perilaku masyarakat.
Pengelola pasar perlu menyediakan fasilitas pemilahan dan memastikan sampah disalurkan ke jalur pengolahan yang tepat. Pedagang dapat mengurangi penggunaan kemasan yang tidak diperlukan, sedangkan konsumen bisa membiasakan diri membawa tas belanja sendiri. Langkah tersebut perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kemampuan pedagang, ketersediaan fasilitas, dan kondisi pasar. Dengan demikian, bank sampah menjadi bagian dari sistem pengelolaan yang lebih menyeluruh, bukan sekadar fasilitas tambahan.
Pasar Ramai, tetapi Apakah Sudah Bertanggung Jawab?
Apakah pasar dapat disebut berhasil jika transaksi jual beli meningkat, tetapi sampah yang dihasilkan terus bertambah? Pertanyaan ini mengajak kita melihat bahwa keberhasilan ekonomi tidak seharusnya hanya diukur dari keuntungan dan ramainya pembeli. Pasar juga perlu dinilai dari tanggung jawabnya terhadap lingkungan.
Dalam perspektif ekonomi Islam, kegiatan ekonomi idealnya tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memperhatikan kemaslahatan bersama. Menghindari pemborosan, menjaga kebersihan, dan memanfaatkan sumber daya secara bijaksana merupakan nilai yang relevan untuk diterapkan dalam pengelolaan pasar. Dengan demikian, upaya mengurangi sampah bukan sekadar persoalan kebersihan, melainkan juga bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.
Saya berpandangan bahwa pasar ramah lingkungan harus menjadi bagian dari praktik ekonomi yang bertanggung jawab. Keberhasilannya tidak cukup dilihat dari banyaknya sampah yang terkumpul atau nilai ekonomi yang dihasilkan, tetapi juga dari berkurangnya sampah dan meningkatnya kesadaran seluruh pihak untuk menjaga lingkungan.
Membangun Pasar Ramah Lingkungan dari Kebiasaan Sederhana
Untuk mewujudkannya, pengelola pasar perlu bekerja sama dengan pemerintah daerah, pedagang, konsumen, dan pengelola bank sampah. Pertama, pengelola perlu menyediakan tempat sampah terpilah dengan petunjuk yang mudah dipahami, disertai edukasi dan pengawasan agar sampah yang telah dipilah tidak kembali tercampur.
Kedua, pedagang perlu didorong untuk mengurangi kemasan sekali pakai, sedangkan konsumen dapat mulai membawa tas belanja sendiri. Ketiga, pengelola pasar perlu menjalin kerja sama dengan bank sampah, pengepul, atau mitra daur ulang agar sampah yang terkumpul memiliki jalur pengolahan yang jelas. Pencatatan hasil penimbangan dan nilai ekonominya juga perlu dilakukan secara transparan untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Pemerintah daerah dapat mendukung upaya tersebut melalui pendampingan, penyediaan fasilitas, dan penghargaan bagi pasar yang konsisten mengurangi sampah. Evaluasi berkala diperlukan untuk memastikan program berjalan efektif, bukan hanya berhenti pada pembentukan bank sampah.
Pada akhirnya, bank sampah merupakan langkah nyata menuju pasar ramah lingkungan apabila didukung oleh perubahan perilaku dan sistem pengelolaan yang berkelanjutan. Pasar yang baik bukan hanya tempat berlangsungnya transaksi ekonomi, melainkan juga ruang yang memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Sudah saatnya pengelolaan sampah menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya urusan petugas kebersihan. Sebab, pasar ramah lingkungan tidak dibangun semata-mata dengan menyediakan tempat sampah, tetapi melalui kebiasaan mengurangi, memilah, dan mengelola sampah secara bijaksana.
