Rupiah dan Kesehatan Mental: Apa Kaitannya?

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Zulfa Imaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi itu, Cortisa memulai rutinitas hariannya dengan membuka aplikasi berita sambil menyeruput kopi di teras rumah. Namun, angka yang tertera langsung membuatnya meletakkan gelas kopinya: Rupiah melemah, mendekati Rp 17.900 per dollar AS. Ia bukan trader ataupun importir, tetapi perutnya terasa mulas dan bahkan malam harinya, ia menjadi sulit tidur.
Nah, apa yang dialami Cortisa ini bukan kepanikan berlebihan. Itu adalah respon biologis yang sangat manusiawi dan ada penjelasan ilmiah dibaliknya loh. Ayo kita bahas satu-satu.
Ketika Otak Membaca “Bahaya Finansial”
Para ekonom menyebut kondisi April – Mei 2026 sebagai overshooting, dimana rupiah diperdagangkan jauh dibawah nilai wajarnya akibat kepanikan pasar jangka pendek. Tapi ternyata, bagi jutaan orang yang bukan ekonom, yang terjadi justru jauh lebih sederhana, yaitu mereka merasa terancam.
Nah, inilah yang disebut sebagai financial anxiety. Kondisi ini bukan sekadar “khawatir soal uang” teman-teman, ini adalah respons stres yang nyata dengan gejala fisik dan kognitif yang terukur. Menurut Archuleta et al. (2020, dalam Putri et al., 2025), financial anxiety adalah kondisi psikologis yang secara aktif menghambat kemampuan seseorang untuk berpikir rasional dalam mengelola keuangan.
Ketidakstabilan ekonomi tidak hanya memengaruhi rekening bank kita saja, tetapi ia juga menekan sistem saraf. Otak kita, tepatnya amigdala, jadi sulit membedakan antara harimau yang mendekat dan grafik kurs yang melonjak. Keduanya sama-sama diartikan sebagai bahaya.
Ketika kurs dollar menembus Rp 17.900, yang bergerak bukan hanya pasar, tapi juga amigdala kita.
Intoleransi Terhadap Ketidakpastian
Salah satu mekanisme psikologis paling relevan dalam krisis mata uang adalah apa yang disebut intolerance of uncertainty (IU), ketidakmampuan toleran terhadap situasi yang ambigu.
Sebuah studi besar yang menganalis data dari 110 negara antara 1991-2019 (Sari et al., 2024) menemukan bahwa ketidakpastian ekonomi secara konsisten berkorelasi dengan meningkatnya prevalensi gangguan kecemasan dan depresi mayor. Individu dengan IU tinggi cenderung menginterpretasikan situasi tidak pasti sebagai ancaman, meski anacaman itu belum terbukti nyata.
Artinya: bahkan berita tentang rupiah melemah sudah cukup untuk memicu respons stress, jauh sebelum dampaknya benar-benar menyentuh dompet kita.
Paradoks Tabungan: Semakin Cemas, Semakin Sulit Menabung
Pernah merasa semakin khawatir soal uang, justru semakin sulit menabung? Ternyata, fenomena ini bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan bagian dari cara kerja psikologi manusia. Penelitian psikoedukasi pada ibu rumah tangga di Pucangsawit oleh Adzkia et al. (2026) menemukan bahwa individu dengan tingkat financial anxiety tinggi cenderung lebih sulit mengambil keputusan finansial yang sehat. Alih-alih menyusun tabungan atau mengatur anggaran, pikiran justru dipenuhi kekhawatiran tentang kebutuhan hari ini.
Kahneman dan Tversky (1979, dalam Adzkia et al., 2026) menjelaskan bahwa kecemasan berlebih dapat memicu loss aversion, yaitu ketakutan kehilangan yang membuat seseorang fokus bertahan dalam jangka pendek dibanding mempersiapkan masa depan. Akibatnya, muncul lingkaran yang sulit diputus: makin cemas, makin sulit menabung; makin sulit menabung, makin besar kecemasannya.
Panic Buying dan Logika Kawanan
Kamu mungkin pernah melihat antrean Panjang di money changer saat rupiah melemah tajam. Atau tiba-tiba semua orang di grup keluarga WhatsApp merekomendasikan beli mas. Inilah hard behavior, perilaku kawanan yang dipicu oleh ketakutan kolektif.
Riset tentang panic buying (Chua et al., 2021) menemukan bahwa perilaku ini didorong oleh kombinasi faktor: ketakutan terhadap hal yang tidak diketahui, social learning theory (meniru orang lain karena dianggap lebih tahu), dan penyebaran konten media sosial yang memperkuat persepsi kelangkaan. Satu video orang antre beli dollar di TikTok bisa memicu ribuan orang lain untuk melakukan hal yang sama, meski secara rasional mereka tidak membutuhkannya.
Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Psikolog tidak menyarankan kita untuk mengabaikan kondisi ekonomi. Yang mereka sarankan adalah mengubah car akita merespons ketidakpastian itu.
Pertama, ambil kendali atas hal yang bisa dikontrol: buat anggaran realistis, tetapkan jadwal spesifik untuk mengecek kondisi keuangan (bukan setiap jam). Kedua, batasi paparan terhadap pemicu stress: tidak perlu memantau kurs dollar tiap 10 menit. Ketiga, fokus pada tujuan jangka pendek yang terukur, pencapaian kecil membangun rasa percaya diri dan momentum. Dan keempat, sadari bahwa otak kita memang dirancang untuk bereaksi berlebihan terhadap ancaman finansial, bukan karena kita lemah, tapi karena kita manusia.
Rupiah mungkin sedang melemah. Tapi pikiran kita tidak harus ikut terguncang.
Oleh Zulfa Imaniyah, Dr. Rachmat Mulyono M.Si.,Psikolog.
