Kumparan Logo

PM Jepang Takaichi: Perdagangan AS Terdampak Akibat Pelemahan Nilai Tukar Yen

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyampaikan pidato saat jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Washington, DC, Amerika Serikat, Kamis (19/3/2026). Foto: Kevin Lamarque/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyampaikan pidato saat jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Washington, DC, Amerika Serikat, Kamis (19/3/2026). Foto: Kevin Lamarque/REUTERS

Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi mengatakan perdagangan AS terdampak akibat lemahnya nilai tukar yen. Takaichi mengatakan, hal itu diungkap saat pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump di New York bulan lalu.

“Dalam pertemuan para pemimpin Jepang-AS, mereka membicarakan kesulitan yang dihadapi perdagangan Amerika akibat lemahnya yen. Saya menjawab bahwa sebagai aturan umum, yen yang dinilai terlalu rendah merupakan masalah,” ungkap Takaichi dalam wawancara eksklusif dengan stasiun televisi NTV, dikutip dari Bloomberg, Sabtu (3/10).

Dalam kesempatan berbeda, Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama juga mengatakan Trump menyampaikan kekhawatirannya mengenai pelemahan yen dalam pertemuan tingkat tinggi dengan Takaichi.

“Dalam pertemuan tingkat tinggi Jepang-AS baru-baru ini, Presiden Trump menyampaikan kekhawatirannya mengenai lemahnya yen,” ujar Katayama dalam konferensi pers rutin.

Pemerintahan Trump dalam beberapa waktu terakhir memang cukup vokal menyampaikan kekhawatirannya terhadap lemahnya nilai tukar yen. Menteri Keuangan AS Scott Bessent berulang kali mengisyaratkan bahwa Bank Sentral Jepang (BoJ) seharusnya menaikkan suku bunga untuk membantu memulihkan nilai tukar yen. Menurut Bessent, prioritas Jepang seharusnya adalah memerangi inflasi, bukan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ilustrasi mata uang Yen, Jepang. Foto: Dewi Rachmat Kusuma/kumparan

Dalam pidatonya di salah satu universitasa di Texas, Bessent mengatakan memiliki pemahaman yang cukup baik mengenai langkah yang akan diambil para pembuat kebijakan Jepang.

Sementara itu, Takaichi mengatakan mengejar perekonomian yang kuat dan keuangan pemerintah yang berkelanjutan masih menjadi fokusnya.

“Tidak ada perubahan dalam pemikiran saya bahwa kami akan terus mengejar perekonomian yang kuat dan keuangan pemerintah yang berkelanjutan berdasarkan kebijakan fiskal yang bertanggung jawab dan proaktif,” sebut Takaichi.

Jepang dan AS sebelumnya melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing, setelah yen mulai diperdagangkan di level 164 yen per dolar ASS. Langkah itu merupakan tindakan bersama pertama kedua negara untuk menopang nilai tukar yen dalam 28 tahun. Saat itu, Trump menyebut intervensi tersebut sebagai tanda persahabatan.

Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Ruang Oval Gedung Putih, Washington, DC, Amerika Serikat, Kamis (19/3/2026). Foto: Evelyn Hockstein/REUTERS

Pernyataan Takaichi menunjukkan bahwa kekhawatiran mengenai eksportir Jepang yang memperoleh keuntungan dari lemahnya yen lah yang menjadi salah satu faktor yang mendorong Washington mendukung Tokyo.

Dalam wawancara tersebut, Takaichi turut menyampaikan visinya untuk menghidupkan kembali perekonomian Jepang dengan kebijakan yang menurutnya dapat mendukung nilai yen.

“Kami berupaya meningkatkan tingkat pertumbuhan potensial Jepang dan memperkuat kapasitas pasokan melalui investasi besar-besaran dalam manajemen risiko dan pertumbuhan, guna mencapai perekonomian yang kuat,” pungkasnya.

Ia juga meyakini peningkatan daya saing perekonomian Jepang pada akhirnya akan menghasilkan kepercayaan terhadap yen.