Konten dari Pengguna

Sastrawan Indonesia yang Luar Biasa

Zulfah Anggita

Zulfah Anggita

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zulfah Anggita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: google.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: google.com

Sastrawan Indonesia ini dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali, pada tanggal 11 April 1944, ia bukan berasal dari keluarga seniman. Ia bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya atau lebih dikenal dengan nama Putu Wijaya.

Putu Wijaya merupakan anak bungsu dari lima bersaudara, seayah, maupun tiga bersaudara seibu. Ia tinggal di komplek perumahan besar yang dihuni sekitar 200 orang, yang semua anggota keluarganya baik yang dekat ataupun yang jauh mempunyai kebiasaan membaca. Ayahnya I Gusti Ngurah Raka seorang pensiunan punggawa yang keras dalam mendidik anak-anaknya.

Putu Wijaya semasa Sekolah Dasar (SD) senang sekali dengan membaca karya sastra, mulai dari kalangan Karl May, buku sastra komedi William Saroyan, hingga cerita picisan yang merangsang birahi. Ia sejak kecil senang seakali dengan seni pertunjukkan, meskipun demikian ia tidak pernah diikut sertakan dalam pertunjukkan drama pada masa kanak-kanak begitu juga ketika SMP. Baru setelah memenangkan lomba deklamasi, ia diikut sertakan dalam drama perpisahan SMA, yang diarahkan oleh Kirdjo Muljo yang merupakan seorang penyiar dan sutradara ternama Yogyakarta.

Setelah selesai Sekolah Menengah Atas (SMA), Putu Wijaya melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta dengan mengambil jurusan Hukum di UGM. Ia mempelajari seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), kemudian ia juga mempelajari drama di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi). Dari fakultas hukum UGM, ia memperoleh gelar Sarjana Hukum (1969), dari Asdrafi ia gagal dalam penulisan skripsi dan dari kegiatan berkesenian ia mendapatakan identitas sebagai seniman.

Putu Wijaya merupakan seorang sastrawan Indonesia yang luar biasa. Ia adalah seorang penulis drama, cerpen, novel, dan juga skenario penulis film serta sinetron. Ia sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar 1000 cerpen, ratusan esai, artikel lepas dan kritik drama. Sebagai dramawan, ia memimpin teater mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron dan film. Harian Kompas dan Sinar Harapan kerap memuat cerita pendeknya, novelnya sering muncul di majalah Kartini, Femina, dan Horison. Memenangkan lomba penulisan fiksi baginya sudah biasa. Sebagai penulis skenario, ia dua kali meraih piala citra di festival film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980), dan Kembang kertas (1985). Sebagai penulis fiksi, sudah banyak buku yang telah dihasilkannya, di antaranya yaitu Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-tiba Malam, Sobat, Nyali, dan yang lainnya. Oleh karena itu, menurut saya Putu Wijaya adalah seorang sastrawan Indonesia yang luar biasa.

Tidak sulit untuk mengenali seorang Putu Wijaya, karena dengan topi pet putihnya selalu bertengger di kepala yang membuat orang dapat mengenalinya. “Dengan topi pet putih ini, saya terlihat lebih gagah” tutur Putu Wijaya sambil bercanda.