Konten dari Pengguna

Psikologi Warna dalam Budaya Lokal

Zulfa Rosmawati

Zulfa Rosmawati

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zulfa Rosmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber gambar: canva.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar: canva.com

Warna bukanlah sekedar elemen estetika. Warna menyimpan banyak pesan, makna, bahkan mengandung psikologis yang mendalam. Dalam budaya lokal Indonesia yang kaya dan beragam, warna berperan penting sebagai bahasa simbolik yang mengaitkan manusia dengan alam, leluhur, jiwa, dan nilai-nilai spiritual. Meghubungkan psikologi warna dalam konteks budaya lokal itu sama seperti memasuki lorong lorong makna yang tidak bisa terucapkan, tetapi hanya bisa dirasakan.

Warna Hitam: kekuatan mistis dan perlindungan

Hal tersebut berbeda dengan pemaknaan di daerah budaya Barat yang cenderung menganggapnya sebagai simbol duka, warna hitam dalam budaya Indonesia terutama di Suku Jawa seringkali dimaknai sebagai pelindung dan spiritual, keberanian, kebijaksanaan, dan kesetaraan, tetapi sebagian orang Jawa memaknai warna hitam sebagai aura mistis, Sehingga banyak pakaian adat Jawa yang menggunakan warna hitam sebagai perwakilan dari simbol yang akan mereka tunjukan.

Warna Putih: kesucian dan kedamaian

Di budaya Bali dominan memakai warna putih, seperti warna pakaian untuk upacara keagamaan, kain putih untuk penutup pura dls. Karena warna putih ini disimbolkan warga Bali sebagai kesucian, dan dianggap sebagi pembersihan batin oleh para pemangku. Sedangkan di budaya Jawa, putih dijadikan sebagai simbol ketulusan hati, spiritualitas karena dipercaya, putih itu membawa ketenangan hati dan pikiran, warnanya yang kontras yang terkesan suci dan bersih.

Warna Hijau: kesuburan dan harmoni dengan alam

Hijau sangat dominan dengan wilayah agraris Indonesia yang tanahnya subur dan makmur. Di budaya Sumatera Barat, tepatnya di upacara adat Minangkabau, warna hijau digunakan untuk melambangkan kesuburan dan kehidupann yang berkelanjutan. Di beberapa daerah, warna hijau sering dikaitkan dengan islam, selain kesukaan Nabi Muhammad saw. warna hijau ini menunjukan kesejukan hati, nilai nilai kesederhanaan, perdamaian dan pererat ikatan dengan alam.

Warna Biru: langit, laut dan ketenangan hati

Di daerah pesisir, warna biru bukanlah sebagai estetika semata, tetapi simbol hubungan mereka dengan laut dan langit, yang membawa mereka menuju keteguhan hati, sumber pencaharian dan ketenangan hati dari luas dan dalamnya laut yang memberikan mereka sumber untuk hidup dan sumber rezeki mereka. Dalam psikologi, warna biru ini dikaitkan dengan perasaan yang hampa dan sedih.

Warna Merah: keberanian, semangat membara

Di beberapa budaya di Indonesia, warna merah memiliki kesamaan makna yaitu penuh dengan keberanian, semangat juang dan sumber kehidupan. Karena merah yang menyerupai warna darah yang melambangkan kekuatan, energi, kekuatan hidup dan semangat juang.

Kesimpulannya:

Di dalam tradisi kebudayaan masyarakat indonesia, warna bukan hanya sekedar sebagai warna estetika, tetapi warna adalah bentuk dari setiap rasa yang disimbolkan. Dengan memahami psikologi warna, kita tidak hanya menangkap ke estetikan visualnya, tetapi kita juga dapat memahami arti warna yang menjadi jembatan antara jiwa manusia dan nilai-nilai budaya dan tradisi yang ada.